alexametrics
30 C
Gresik
Saturday, 23 October 2021

Bangun Pabrik Baru, Petro Oxo Nusantara Gelontor 1,7 Triliun

GRESIK – Di tengah pandemi, Gresik masih menjadi kota prospek untuk industri. Hal itu terlihat dari beberapa perusahaan besar yang nekat ekspansi membuka pabrik di Gresik. Seperti Pt Freeport Indonesia, maupun yang terbaru PT Petro Oxo Nusantara (PON). Perusahaan yang 50 persen sahamnya milik negara itu berencana membangun pabrik baru dengan nilai investasi 50 juta Dollar AS atau setara Rp 1,7 triliun.

Presiden Direktur PON, A. Jaya Martapa mengungkapkan, investasi itu akan dilakukan dalam waktu dekat yakni membangun pabrik pengolahan produk turunan octanol. Nantinya unit bisnis baru tersebut akan memproduksi neopentyl glikol. “Ini kami sedang cari dana dulu. Kami memanfaatkan lahan kosong yang ada di area pabrik, jadi investasi kemungkinan hanya menelan biaya 50 juta Dollar AS,” ujar Jaya Martapa.

Mantan petinggi Shell itu menuturkan, optimisme investasi itu tidak lebih karena selama pandemi Covid-19, perusahaan justru mencatat angka produksi yang cukup bagus. Terlebih, produk PON dibutuhkan untuk dunia medis. Bahkan dari kapasitas produksi 150 ribu ton per tahun, produk industrinya mampu merealisasikan angka 104 persen dari kapasitas terpasang. “Kemarin harga sedang bagus, makanya produksi kami genjot. Dengan demikian devisa bagi negara juga bisa semakin besar,”tuturnya.

Dikatakan, saat ini PON memiliki beberapa produk yang diekspor ke pasar internasional antara lain 2  Ethyl Hexanol (EH) dengan kapasitas produksi 135 ribu ton pertahun, ISO Butanol dengan kapasitas produksi 15 ribu ton pertahun dan CO2 Liquid dengan kapasitas produksi 25 ribu ton per tahun. “70 persen produk kami diserap pasar Tiongkok, 10 persen pasar Asia, sisanya 20 persen pasar lokal,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Gresik mengapresiasi langkah beberapa perusahaan yang melakukan investasi di Gresik. “Artinya, potensi Gresik sebagai kota Industri masih menjanjikan. Kondisi pandemi ini merusak sistem ekonomi, dengan adanya investasi ini tentu membantu pemerintah dan masyarakat kita,” kata Yani. (fir/han)

Perusahaan yang 50 persen sahamnya milik negara itu berencana membangun pabrik baru dengan nilai investasi 50 juta Dollar AS atau setara Rp 1,7 triliun.

Presiden Direktur PON, A. Jaya Martapa mengungkapkan, investasi itu akan dilakukan dalam waktu dekat yakni membangun pabrik pengolahan produk turunan octanol. Nantinya unit bisnis baru tersebut akan memproduksi neopentyl glikol. “Ini kami sedang cari dana dulu. Kami memanfaatkan lahan kosong yang ada di area pabrik, jadi investasi kemungkinan hanya menelan biaya 50 juta Dollar AS,” ujar Jaya Martapa.

Mantan petinggi Shell itu menuturkan, optimisme investasi itu tidak lebih karena selama pandemi Covid-19, perusahaan justru mencatat angka produksi yang cukup bagus. Terlebih, produk PON dibutuhkan untuk dunia medis. Bahkan dari kapasitas produksi 150 ribu ton per tahun, produk industrinya mampu merealisasikan angka 104 persen dari kapasitas terpasang. “Kemarin harga sedang bagus, makanya produksi kami genjot. Dengan demikian devisa bagi negara juga bisa semakin besar,”tuturnya.

Dikatakan, saat ini PON memiliki beberapa produk yang diekspor ke pasar internasional antara lain 2  Ethyl Hexanol (EH) dengan kapasitas produksi 135 ribu ton pertahun, ISO Butanol dengan kapasitas produksi 15 ribu ton pertahun dan CO2 Liquid dengan kapasitas produksi 25 ribu ton per tahun. “70 persen produk kami diserap pasar Tiongkok, 10 persen pasar Asia, sisanya 20 persen pasar lokal,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Gresik mengapresiasi langkah beberapa perusahaan yang melakukan investasi di Gresik. “Artinya, potensi Gresik sebagai kota Industri masih menjanjikan. Kondisi pandemi ini merusak sistem ekonomi, dengan adanya investasi ini tentu membantu pemerintah dan masyarakat kita,” kata Yani. (fir/han)


GRESIK – Di tengah pandemi, Gresik masih menjadi kota prospek untuk industri. Hal itu terlihat dari beberapa perusahaan besar yang nekat ekspansi membuka pabrik di Gresik. Seperti Pt Freeport Indonesia, maupun yang terbaru PT Petro Oxo Nusantara (PON). Perusahaan yang 50 persen sahamnya milik negara itu berencana membangun pabrik baru dengan nilai investasi 50 juta Dollar AS atau setara Rp 1,7 triliun.

Presiden Direktur PON, A. Jaya Martapa mengungkapkan, investasi itu akan dilakukan dalam waktu dekat yakni membangun pabrik pengolahan produk turunan octanol. Nantinya unit bisnis baru tersebut akan memproduksi neopentyl glikol. “Ini kami sedang cari dana dulu. Kami memanfaatkan lahan kosong yang ada di area pabrik, jadi investasi kemungkinan hanya menelan biaya 50 juta Dollar AS,” ujar Jaya Martapa.

Mantan petinggi Shell itu menuturkan, optimisme investasi itu tidak lebih karena selama pandemi Covid-19, perusahaan justru mencatat angka produksi yang cukup bagus. Terlebih, produk PON dibutuhkan untuk dunia medis. Bahkan dari kapasitas produksi 150 ribu ton per tahun, produk industrinya mampu merealisasikan angka 104 persen dari kapasitas terpasang. “Kemarin harga sedang bagus, makanya produksi kami genjot. Dengan demikian devisa bagi negara juga bisa semakin besar,”tuturnya.

-

Dikatakan, saat ini PON memiliki beberapa produk yang diekspor ke pasar internasional antara lain 2  Ethyl Hexanol (EH) dengan kapasitas produksi 135 ribu ton pertahun, ISO Butanol dengan kapasitas produksi 15 ribu ton pertahun dan CO2 Liquid dengan kapasitas produksi 25 ribu ton per tahun. “70 persen produk kami diserap pasar Tiongkok, 10 persen pasar Asia, sisanya 20 persen pasar lokal,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Gresik mengapresiasi langkah beberapa perusahaan yang melakukan investasi di Gresik. “Artinya, potensi Gresik sebagai kota Industri masih menjanjikan. Kondisi pandemi ini merusak sistem ekonomi, dengan adanya investasi ini tentu membantu pemerintah dan masyarakat kita,” kata Yani. (fir/han)

Perusahaan yang 50 persen sahamnya milik negara itu berencana membangun pabrik baru dengan nilai investasi 50 juta Dollar AS atau setara Rp 1,7 triliun.

Presiden Direktur PON, A. Jaya Martapa mengungkapkan, investasi itu akan dilakukan dalam waktu dekat yakni membangun pabrik pengolahan produk turunan octanol. Nantinya unit bisnis baru tersebut akan memproduksi neopentyl glikol. “Ini kami sedang cari dana dulu. Kami memanfaatkan lahan kosong yang ada di area pabrik, jadi investasi kemungkinan hanya menelan biaya 50 juta Dollar AS,” ujar Jaya Martapa.

Mantan petinggi Shell itu menuturkan, optimisme investasi itu tidak lebih karena selama pandemi Covid-19, perusahaan justru mencatat angka produksi yang cukup bagus. Terlebih, produk PON dibutuhkan untuk dunia medis. Bahkan dari kapasitas produksi 150 ribu ton per tahun, produk industrinya mampu merealisasikan angka 104 persen dari kapasitas terpasang. “Kemarin harga sedang bagus, makanya produksi kami genjot. Dengan demikian devisa bagi negara juga bisa semakin besar,”tuturnya.

Dikatakan, saat ini PON memiliki beberapa produk yang diekspor ke pasar internasional antara lain 2  Ethyl Hexanol (EH) dengan kapasitas produksi 135 ribu ton pertahun, ISO Butanol dengan kapasitas produksi 15 ribu ton pertahun dan CO2 Liquid dengan kapasitas produksi 25 ribu ton per tahun. “70 persen produk kami diserap pasar Tiongkok, 10 persen pasar Asia, sisanya 20 persen pasar lokal,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Gresik mengapresiasi langkah beberapa perusahaan yang melakukan investasi di Gresik. “Artinya, potensi Gresik sebagai kota Industri masih menjanjikan. Kondisi pandemi ini merusak sistem ekonomi, dengan adanya investasi ini tentu membantu pemerintah dan masyarakat kita,” kata Yani. (fir/han)


Most Read

Berita HITS

Berita Terbaru