alexametrics
29 C
Gresik
Wednesday, 18 May 2022

Terkendala Cuaca, Hasil Panen Petani Garam Gresik Turun Drastis

GRESIK – Petani garam di Kabupaten Gresik mengalami penurunan hasil panen. Bahkan, harga jual garam mencapai Rp 500 per kilogram. Bahkan, sempat Rp 200.000.

Petani garam di Kabupaten Gresik, Rudi Utomo mengatakan sejak September lalu cuaca jadi tidak menentu. “Sebelumnya seminggu sekali panen, namun kali ini satu bulan hanya dua kali panen, karena faktor cuaca yang berpengaruh,”kata Rudi, petani asal Desa Roomo, Kecamatan Manyar Gresik.

Dikatakan, hasil panen sebelumnya dalam 1 hektar lahan bisa menghasilkan 10 sampai 15 ton garam, namun dengan kendala cuaca yang tidak menentu hanya menghasilkan 4 sampai 5 ton.

Dikatakan, pengiriman produksi garam  di beberapa pabrik kecil serta tempat pengasinan ikan yang di Gresik dan Lamongan. “Musim hujan saat ini banyak buruh tani yang pulang kampung dari Madura dan Bondowoso. Untuk saat ini hampir aktivitas produksi garam di tambak sedikit,”jelasnya.

Menurut Rudi mengaku, harga garam yang dibilang lumayan terjadi pada 2018 yakni Rp 1.200 per kilo. Pada 2019 anjlok menjadi Rp 300.000. Rendahnya harga garam dikarenakan suplai garam impor terlalu besar.  Sehingga harga jual garam rakyat kalah di pasaran. Apalagi saat ini pabrik – pabrik yang membutuhkan bahan baku garam itu lebih memilih garam impor karena memiliki kandungan natrium klorida lebih baik dibandingkan garam rakyat atau lokal.

Sebenarnya, petani garam Gresik sudah menghasilkan 700 ton. Pabrik – pabrik besar lebih memilih garam impor dengan alasan kandungan natrium klorida lebih besar dari garam lokal. Ia berharap pemerintah bisa menurunkan jumlah impor garam tahunan. “Apalagi seperti musim ini panennya semakin pendek, karena musim hujan datang lebih awal,” pungkasnya.(jar/han)

GRESIK – Petani garam di Kabupaten Gresik mengalami penurunan hasil panen. Bahkan, harga jual garam mencapai Rp 500 per kilogram. Bahkan, sempat Rp 200.000.

Petani garam di Kabupaten Gresik, Rudi Utomo mengatakan sejak September lalu cuaca jadi tidak menentu. “Sebelumnya seminggu sekali panen, namun kali ini satu bulan hanya dua kali panen, karena faktor cuaca yang berpengaruh,”kata Rudi, petani asal Desa Roomo, Kecamatan Manyar Gresik.

Dikatakan, hasil panen sebelumnya dalam 1 hektar lahan bisa menghasilkan 10 sampai 15 ton garam, namun dengan kendala cuaca yang tidak menentu hanya menghasilkan 4 sampai 5 ton.

-

Dikatakan, pengiriman produksi garam  di beberapa pabrik kecil serta tempat pengasinan ikan yang di Gresik dan Lamongan. “Musim hujan saat ini banyak buruh tani yang pulang kampung dari Madura dan Bondowoso. Untuk saat ini hampir aktivitas produksi garam di tambak sedikit,”jelasnya.

Menurut Rudi mengaku, harga garam yang dibilang lumayan terjadi pada 2018 yakni Rp 1.200 per kilo. Pada 2019 anjlok menjadi Rp 300.000. Rendahnya harga garam dikarenakan suplai garam impor terlalu besar.  Sehingga harga jual garam rakyat kalah di pasaran. Apalagi saat ini pabrik – pabrik yang membutuhkan bahan baku garam itu lebih memilih garam impor karena memiliki kandungan natrium klorida lebih baik dibandingkan garam rakyat atau lokal.

Sebenarnya, petani garam Gresik sudah menghasilkan 700 ton. Pabrik – pabrik besar lebih memilih garam impor dengan alasan kandungan natrium klorida lebih besar dari garam lokal. Ia berharap pemerintah bisa menurunkan jumlah impor garam tahunan. “Apalagi seperti musim ini panennya semakin pendek, karena musim hujan datang lebih awal,” pungkasnya.(jar/han)

Most Read

Berita Terbaru

/