alexametrics
30 C
Gresik
Saturday, 23 October 2021

Lampaui Target RKAP, Wujud Nyata Kontribusi PG Bagi Bangsa

GRESIK – PT Petrokimia Gresik bulan ini genap berusia 49 tahun. Tentu saja bertambahnya usia membuat perusahaan solusi agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia ini terus komitmen untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Melalui berbagai akselerasi program dan hilirisasi produk, menjadikan perusahaan pupuk terlengkap di Asia Tenggara itu sebagai BUMN yang konsiten mencatatkan hasil kinerja positif setiap tahunnya.

Pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PG ke-49 yang digelar secara virtual, Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo mengungkapkan, ancaman krisis pangan akibat pandemi Covid-19 telah menjadi stimulus bagi industri pupuk dan pangan dalam negeri. Khususnya Petrokimia Gresik. Sehingga harus terus berupaya memperkuat sektor produksi pertanian domestik sebagai penopang ketahanan pangan nasional.

“Strategi perusahaan dalam memperkuat sektor pangan ternyata terbukti. Pertanian menjadi salah satu sektor yang tumbuh positif selama pandemi Covid-19,” kata Dwi Satriyo Annurogo.

Dia merincikan, pertumbuhan sektor pertanian juga sejalan dengan peningkatan kinerja perusahaa. Di mana tahun 2020, Petrokimia Gresik berhasil mencatat kinerja positif dengan perolehan laba sebesar Rp 1,42 triliun (audited) atau 118 persen dari target RKAP 2020.

“Kinerja positif Petrokimia Gresik di tahun 2020 merupakan wujud kontribusi nyata perusahaan dalam mendukung pemerintah memperkuat ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19,” imbuhnya.

Tidak hanya di pasar domestik, adanya global supply shock juga memberikan peluang Petrokimia Gresik untuk melakukan ekspansi pasar dan menggenjot ekspor. Terbukti selama tahun 2020, penjualan ekspor Petrokimia Gresik mencapai 494 ribu ton, meningkat 25 persen dari penjualan ekspor tahun 2019. Bahkan Petrokimia Gresik mampu menguasai market share pupuk NPS di India sebesar 35 persen.

TAK HENTI INOVASI: Pelepasan perdana truk pengirim 7.000 liter Green Surfactant oleh Direksi dan Pejabat PG. (Firman/Radar Gresik)

“Hal ini menjadi bukti bahwa Petrokimia Gresik mampu mengubah tantangan menjadi peluang,” tegasnya.

Dia menuturkan, selama 49 tahun berdiri, PG telah memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan teknologi pemupukan di Indonesia. Di antaranya menjadi pioneer pupuk berbasis fosfat pada tahun 1980-an, pioneer pupuk NPK berbasis chemical reaction di tahun 2000, dan pioneer pupuk organik di tahun 2005. Menurutnya, tahun 2021 juga menjadi tonggak sejarah baru bagi Petrokimia Gresik. Sebab, di tengah Pandemi Covid-19 yang kian mengganas, korporasi banyak melakukan langkah strategis guna meningkatkan daya saing sekaligus kontribusi dalam memperkuat ekonomi nasional.

Salah satu yang telah terealisasi di tahun ini adalah pembangunan pabrik Green Surfactant berkapasitas 600 kiloliter (kL) yang memanfaatkan gas SO3 dari pabrik asam sulfat sebagai bahan baku. Green Surfactant merupakan produk surfaktan lokal pertama di Indonesia yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi lapangan minyak tua melalui teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery).

“Terobosan ini penting bagi industri minyak dan gas (migas) di Indonesia,” terangnya.

Tidak hanya itu, Petrokimia Gresik akan membangun Pabrik Soda Ash berkapasitas 300 ribu ton. Soda Ash merupakan bahan baku produk-produk yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari seperti deterjen, kaca dan produk turunannya, hingga pasta gigi. Namun, kebutuhan soda ash dalam negeri saat ini masih dipenuhi melalui impor.

Soda ash merupakan strategi meningkatkan nilai tambah dari produk samping. Pabrik ini nantinya akan memanfaatkan Co2 yang merupakan hasil samping (by product) dari Pabrik Amoniak. Sedangkan, produk samping soda ash berupa Amonium Klorida (NH4Cl) dapat digunakan sebagai bahan baku NPK, sehingga dapat mengurangi kebutuhan impor ZA sebagai bahan baku NPK.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, tahun ini Petrokimia Gresik juga berhasil mendapatkan izin pengecualian gipsum dari kategori Limbah B3 oleh Kementerian KLHK. Sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan secara masif, tidak hanya di lingkup internal perusahaan, tetapi juga dapat mendukung industri lainnya yang membutuhkan gipsum.

“Ke depan, pengembangan bisnis dengan optimalisasi potensi yang ada akan difokuskan pada hilirisasi produk untuk memperkuat posisi Petrokimia Gresik sebagai perusahaan berbasis related diversified industry agar terus tumbuh dan sustainable,” jelas Dwi Satriyo.

Berbagai langkah strategis ini selaras dengan tema yang diusung dalam ulang tahun ke-49 yaitu “Great for Indonesia: Growth, Excellence, And Worthwhile” yang memiliki arti perusahaan untuk terus tumbuh, unggul dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.

“Dengan demikian, kontribusi Petrokimia Gresik untuk Indonesia tidak hanya dalam hal menopang ketahanan pangan nasional dan mewujudkan pertanian berkelanjutan. Tetapi juga memperkuat industri lainnya yang bermuara pada penguatan ekonomi nasional” pungkasnya Dwi Satriyo. (fir/rof)


GRESIK – PT Petrokimia Gresik bulan ini genap berusia 49 tahun. Tentu saja bertambahnya usia membuat perusahaan solusi agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia ini terus komitmen untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Melalui berbagai akselerasi program dan hilirisasi produk, menjadikan perusahaan pupuk terlengkap di Asia Tenggara itu sebagai BUMN yang konsiten mencatatkan hasil kinerja positif setiap tahunnya.

Pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PG ke-49 yang digelar secara virtual, Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo mengungkapkan, ancaman krisis pangan akibat pandemi Covid-19 telah menjadi stimulus bagi industri pupuk dan pangan dalam negeri. Khususnya Petrokimia Gresik. Sehingga harus terus berupaya memperkuat sektor produksi pertanian domestik sebagai penopang ketahanan pangan nasional.

-

“Strategi perusahaan dalam memperkuat sektor pangan ternyata terbukti. Pertanian menjadi salah satu sektor yang tumbuh positif selama pandemi Covid-19,” kata Dwi Satriyo Annurogo.

Dia merincikan, pertumbuhan sektor pertanian juga sejalan dengan peningkatan kinerja perusahaa. Di mana tahun 2020, Petrokimia Gresik berhasil mencatat kinerja positif dengan perolehan laba sebesar Rp 1,42 triliun (audited) atau 118 persen dari target RKAP 2020.

“Kinerja positif Petrokimia Gresik di tahun 2020 merupakan wujud kontribusi nyata perusahaan dalam mendukung pemerintah memperkuat ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19,” imbuhnya.

Tidak hanya di pasar domestik, adanya global supply shock juga memberikan peluang Petrokimia Gresik untuk melakukan ekspansi pasar dan menggenjot ekspor. Terbukti selama tahun 2020, penjualan ekspor Petrokimia Gresik mencapai 494 ribu ton, meningkat 25 persen dari penjualan ekspor tahun 2019. Bahkan Petrokimia Gresik mampu menguasai market share pupuk NPS di India sebesar 35 persen.

TAK HENTI INOVASI: Pelepasan perdana truk pengirim 7.000 liter Green Surfactant oleh Direksi dan Pejabat PG. (Firman/Radar Gresik)

“Hal ini menjadi bukti bahwa Petrokimia Gresik mampu mengubah tantangan menjadi peluang,” tegasnya.

Dia menuturkan, selama 49 tahun berdiri, PG telah memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan teknologi pemupukan di Indonesia. Di antaranya menjadi pioneer pupuk berbasis fosfat pada tahun 1980-an, pioneer pupuk NPK berbasis chemical reaction di tahun 2000, dan pioneer pupuk organik di tahun 2005. Menurutnya, tahun 2021 juga menjadi tonggak sejarah baru bagi Petrokimia Gresik. Sebab, di tengah Pandemi Covid-19 yang kian mengganas, korporasi banyak melakukan langkah strategis guna meningkatkan daya saing sekaligus kontribusi dalam memperkuat ekonomi nasional.

Salah satu yang telah terealisasi di tahun ini adalah pembangunan pabrik Green Surfactant berkapasitas 600 kiloliter (kL) yang memanfaatkan gas SO3 dari pabrik asam sulfat sebagai bahan baku. Green Surfactant merupakan produk surfaktan lokal pertama di Indonesia yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi lapangan minyak tua melalui teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery).

“Terobosan ini penting bagi industri minyak dan gas (migas) di Indonesia,” terangnya.

Tidak hanya itu, Petrokimia Gresik akan membangun Pabrik Soda Ash berkapasitas 300 ribu ton. Soda Ash merupakan bahan baku produk-produk yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari seperti deterjen, kaca dan produk turunannya, hingga pasta gigi. Namun, kebutuhan soda ash dalam negeri saat ini masih dipenuhi melalui impor.

Soda ash merupakan strategi meningkatkan nilai tambah dari produk samping. Pabrik ini nantinya akan memanfaatkan Co2 yang merupakan hasil samping (by product) dari Pabrik Amoniak. Sedangkan, produk samping soda ash berupa Amonium Klorida (NH4Cl) dapat digunakan sebagai bahan baku NPK, sehingga dapat mengurangi kebutuhan impor ZA sebagai bahan baku NPK.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, tahun ini Petrokimia Gresik juga berhasil mendapatkan izin pengecualian gipsum dari kategori Limbah B3 oleh Kementerian KLHK. Sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan secara masif, tidak hanya di lingkup internal perusahaan, tetapi juga dapat mendukung industri lainnya yang membutuhkan gipsum.

“Ke depan, pengembangan bisnis dengan optimalisasi potensi yang ada akan difokuskan pada hilirisasi produk untuk memperkuat posisi Petrokimia Gresik sebagai perusahaan berbasis related diversified industry agar terus tumbuh dan sustainable,” jelas Dwi Satriyo.

Berbagai langkah strategis ini selaras dengan tema yang diusung dalam ulang tahun ke-49 yaitu “Great for Indonesia: Growth, Excellence, And Worthwhile” yang memiliki arti perusahaan untuk terus tumbuh, unggul dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.

“Dengan demikian, kontribusi Petrokimia Gresik untuk Indonesia tidak hanya dalam hal menopang ketahanan pangan nasional dan mewujudkan pertanian berkelanjutan. Tetapi juga memperkuat industri lainnya yang bermuara pada penguatan ekonomi nasional” pungkasnya Dwi Satriyo. (fir/rof)


Most Read

Berita HITS

Berita Terbaru