alexametrics
28 C
Gresik
Tuesday, 17 May 2022

BKPM Percepat Pembangunan Pabrik Soda Ash Pertama di Indonesia

GRESIK – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia menyatakan, pihaknya terus mendorong percepatan proyek pabrik soda ash pertama di Indonesia berkapasitas produksi 300.000 ton per hari.

Menurut Bahlil, kehadiran pabrik soda ash ini memiliki peranan penting bagi kemajuan industri kimia nasional. Pabrik yang diproyesikan beroperasi akhir 2024 nanti itu tidak hanya memberikan added value bagi perusahaan.

“Lebih dari itu, pabrik ini menjadi yang pertama di Indonesia dan membantu mengurangi ketergantungan impor Soda Ash atau Natrium Karbonat (Na2CO3) yang saat ini jumlahnya mencapai 1 juta ton dalam setahun,” ujar Bahlil.

Lebih lanjut Bahlil mengatakan, kehadiran pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik (PG) ini akan mampu meningkatkan daya saing usaha industri nasional karena bahan baku diperoleh dari lokal. Masyarakat pun dapat merasakan manfaatnya dari produk yang dihasilkan.

Dia menekankan bahwa dukungan percepatan pabrik soda ash PG sesuai dengan instruksi Presiden Republik Indonesia agar pihaknya membantu perusahaan BUMN atau swasta nasional yang menghasilkan produk substitusi impor, seperti pabrik soda ash.

“Oleh karena itu, kita akan terus mendorong pembangunan pabrik soda ash Petrokimia Gresik, baik dari sisi kebijakan insentif fiskal maupun perizinan,” tegas Bahlil.

Bahlil pun berharap, BUMN lainnya juga dapat mengoptimalkan hasil samping industrinya untuk memberikan nilai tambah, seperti yang dilakukan PG melalui strategi related diversified industry.

“Dimana pabrik soda ash ini akan me-utilisasi produk hilir dari pabrik amoniak-urea berupa CO2 yang diolah menjadi bahan baku pembuatan soda ash. Upaya ini akan meningkatkan pendapatan BUMN dan manfaatnya pun akan berkelanjutan hingga masyarakat,” kata Bahlil.

Bahlil juga mengapresiasi kerja sama yang baik antara Kementerian Investasi dengan PG beserta kementerian terkait lainnya dalam mengakomodasi proses perizinan dan memfasilitasi percepatan proyek investasi ini.

“Kita dorong PG untuk mempercepat target pembangunan proyek pabrik soda ash ini, sehingga manfaatnya pun dapat segera dirasakan oleh industri kimia nasional,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) PG, Dwi Satriyo Annurogo mengungkapkan bahwa selama tahap persiapan proyek pabrik soda ash, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Kementerian Investasi dalam hal pengurusan izin maupun administrasi.

“Alhamdulilah kita selalu mendapatkan support penuh dari Kementerian Investasi/BKPM, sehingga proyek investasi yang akan dibangun di lahan seluas 20 hektare ini Insya Allah dapat terlaksana,” katanya.

Menurutnya, pabrik soda ash berkapasitas 300.000 ton per tahun ini merupakan salah satu implementasi PG dalam upaya mendukung peningkatan perekonomian nasional melalui penguatan industri kimia.

Diketahui, kebutuhan akan soda ash dalam negeri sangat tinggi sebagai tumpuan bahan baku berbagai produk, seperti sabun, deterjen, kertas, tekstil, keramik, gelas, kaca beserta turunannya dan lain sebagainya.

“Sehingga pangsa pasarnya sangat besar, terutama untuk pasar domestik. Namun tidak menutup kemungkinan soda ash Petrokimia Gresik juga dapat melayani kebutuhan pasar global,” katanya.

Untuk menyukseskan pembangunan pabrik soda ash ini, sebelumnya PG telah menandatangani MoU dengan PT Garam (Persero) dan perusahaan multinasional Unilever Asia Pte. Ltd.

MoU ini dalam rangka menjamin ekosistem bisnis rencana pembangunan pabrik soda ash dimana PG akan membeli garam industri sebagai bahan baku soda ash serta bekerja sama dengan Unilever Asia sebagai offtaker yang akan menyerap produk soda ash. (fir/han)

GRESIK – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia menyatakan, pihaknya terus mendorong percepatan proyek pabrik soda ash pertama di Indonesia berkapasitas produksi 300.000 ton per hari.

Menurut Bahlil, kehadiran pabrik soda ash ini memiliki peranan penting bagi kemajuan industri kimia nasional. Pabrik yang diproyesikan beroperasi akhir 2024 nanti itu tidak hanya memberikan added value bagi perusahaan.

“Lebih dari itu, pabrik ini menjadi yang pertama di Indonesia dan membantu mengurangi ketergantungan impor Soda Ash atau Natrium Karbonat (Na2CO3) yang saat ini jumlahnya mencapai 1 juta ton dalam setahun,” ujar Bahlil.

-

Lebih lanjut Bahlil mengatakan, kehadiran pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik (PG) ini akan mampu meningkatkan daya saing usaha industri nasional karena bahan baku diperoleh dari lokal. Masyarakat pun dapat merasakan manfaatnya dari produk yang dihasilkan.

Dia menekankan bahwa dukungan percepatan pabrik soda ash PG sesuai dengan instruksi Presiden Republik Indonesia agar pihaknya membantu perusahaan BUMN atau swasta nasional yang menghasilkan produk substitusi impor, seperti pabrik soda ash.

“Oleh karena itu, kita akan terus mendorong pembangunan pabrik soda ash Petrokimia Gresik, baik dari sisi kebijakan insentif fiskal maupun perizinan,” tegas Bahlil.

Bahlil pun berharap, BUMN lainnya juga dapat mengoptimalkan hasil samping industrinya untuk memberikan nilai tambah, seperti yang dilakukan PG melalui strategi related diversified industry.

“Dimana pabrik soda ash ini akan me-utilisasi produk hilir dari pabrik amoniak-urea berupa CO2 yang diolah menjadi bahan baku pembuatan soda ash. Upaya ini akan meningkatkan pendapatan BUMN dan manfaatnya pun akan berkelanjutan hingga masyarakat,” kata Bahlil.

Bahlil juga mengapresiasi kerja sama yang baik antara Kementerian Investasi dengan PG beserta kementerian terkait lainnya dalam mengakomodasi proses perizinan dan memfasilitasi percepatan proyek investasi ini.

“Kita dorong PG untuk mempercepat target pembangunan proyek pabrik soda ash ini, sehingga manfaatnya pun dapat segera dirasakan oleh industri kimia nasional,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) PG, Dwi Satriyo Annurogo mengungkapkan bahwa selama tahap persiapan proyek pabrik soda ash, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Kementerian Investasi dalam hal pengurusan izin maupun administrasi.

“Alhamdulilah kita selalu mendapatkan support penuh dari Kementerian Investasi/BKPM, sehingga proyek investasi yang akan dibangun di lahan seluas 20 hektare ini Insya Allah dapat terlaksana,” katanya.

Menurutnya, pabrik soda ash berkapasitas 300.000 ton per tahun ini merupakan salah satu implementasi PG dalam upaya mendukung peningkatan perekonomian nasional melalui penguatan industri kimia.

Diketahui, kebutuhan akan soda ash dalam negeri sangat tinggi sebagai tumpuan bahan baku berbagai produk, seperti sabun, deterjen, kertas, tekstil, keramik, gelas, kaca beserta turunannya dan lain sebagainya.

“Sehingga pangsa pasarnya sangat besar, terutama untuk pasar domestik. Namun tidak menutup kemungkinan soda ash Petrokimia Gresik juga dapat melayani kebutuhan pasar global,” katanya.

Untuk menyukseskan pembangunan pabrik soda ash ini, sebelumnya PG telah menandatangani MoU dengan PT Garam (Persero) dan perusahaan multinasional Unilever Asia Pte. Ltd.

MoU ini dalam rangka menjamin ekosistem bisnis rencana pembangunan pabrik soda ash dimana PG akan membeli garam industri sebagai bahan baku soda ash serta bekerja sama dengan Unilever Asia sebagai offtaker yang akan menyerap produk soda ash. (fir/han)

Most Read

Berita Terbaru

/