alexametrics
26 C
Gresik
Sunday, 3 July 2022

Tantangan Bisnis Kakao, Banyak Petani Beralih ke Kelapa Sawit

GRESIK – Di era pandemi, tantangan bisnis makin kompleks, namun dalam kondisi itu perusahaan harus tetap mengejar target. PT Cargill Indonesia misalnya yang terus berupaya mengejar target produksi maksimal sesuai dengan kapasitas eksisting perusahaan.

Supply Chain Manager PT Cargill Indonesia, Agung Ektika menuturkan, pada tahun ini pihaknya menargetkan bisa mengolah 70.000 Metric Ton (MT) biji kakao lokal maupun impor. Target ini merupakan kapasitas eksisting perusahaan yang berada di kawasan industri maspion Gresik itu. “Di pabrik Cargill Gresik kami mengolah kakao menjadi produk kakao bubuk, kakao butter, dan kakao cair. Produk ini 90 persen kami ekspor ke berbagai negara di Asia,” kata Agus.

Ke depan bisnis perusahaan pengolah kakao di Indonesia makin prospektif. Hal itu seiring dengan meningkatnya permintaan olahan kakao. Sebagai gambaran, kebutuhan kakao di Indonesia saat ini mencapai 800.000 MT hingga 1 juta MT. Dari jumlah itu perusahaan pengolah biji kakao di Indonesia hanya bisa memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan pasar. “Jadi arah bisnis perusahaan kami kedepan sangat prospek. Karena olahan kakao tidak hanya untuk produk makanan melainkan juga untuk produk kesehatan,” imbuhnya.

Meski demikian bisnis perusahaannya tidak berjalan mulus, berbagai kendala juga dihadapi. Salah satu tantangan saat ini adalah semakin banyaknya petani kakao yang beralih ke kelapa sawit. Hal itu membuat supply bahan baku biji kakao fluktuatif. “Untuk harga kakao relatif stabil karena mengikuti harga internasional. Yang menjadi kendala justru supplynya karena banyak petani yang mulai beralih ke sawit. Namun dengan berbagai strategi kami optimistis target produksi tahun ini akan terealisasi,” pungkasnya. (fir/han)

GRESIK – Di era pandemi, tantangan bisnis makin kompleks, namun dalam kondisi itu perusahaan harus tetap mengejar target. PT Cargill Indonesia misalnya yang terus berupaya mengejar target produksi maksimal sesuai dengan kapasitas eksisting perusahaan.

Supply Chain Manager PT Cargill Indonesia, Agung Ektika menuturkan, pada tahun ini pihaknya menargetkan bisa mengolah 70.000 Metric Ton (MT) biji kakao lokal maupun impor. Target ini merupakan kapasitas eksisting perusahaan yang berada di kawasan industri maspion Gresik itu. “Di pabrik Cargill Gresik kami mengolah kakao menjadi produk kakao bubuk, kakao butter, dan kakao cair. Produk ini 90 persen kami ekspor ke berbagai negara di Asia,” kata Agus.

Ke depan bisnis perusahaan pengolah kakao di Indonesia makin prospektif. Hal itu seiring dengan meningkatnya permintaan olahan kakao. Sebagai gambaran, kebutuhan kakao di Indonesia saat ini mencapai 800.000 MT hingga 1 juta MT. Dari jumlah itu perusahaan pengolah biji kakao di Indonesia hanya bisa memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan pasar. “Jadi arah bisnis perusahaan kami kedepan sangat prospek. Karena olahan kakao tidak hanya untuk produk makanan melainkan juga untuk produk kesehatan,” imbuhnya.

-

Meski demikian bisnis perusahaannya tidak berjalan mulus, berbagai kendala juga dihadapi. Salah satu tantangan saat ini adalah semakin banyaknya petani kakao yang beralih ke kelapa sawit. Hal itu membuat supply bahan baku biji kakao fluktuatif. “Untuk harga kakao relatif stabil karena mengikuti harga internasional. Yang menjadi kendala justru supplynya karena banyak petani yang mulai beralih ke sawit. Namun dengan berbagai strategi kami optimistis target produksi tahun ini akan terealisasi,” pungkasnya. (fir/han)

Most Read

Berita Terbaru

/