alexametrics
31 C
Gresik
Monday, 23 May 2022

Bea Cukai Gresik Berhasil Antarkan Wedani Jadi Desa Devisa Nasional

GRESIK – Berbagai langkah dan upaya asistensi yang dilakukan oleh Bea Cukai Gresik terhadap Desa Wedani kini perlahan mulai membuahkan hasil.  Desa yang berada di Kecamatan Cerme itu lolos dan ditetapkan sebagai 10 desa devisa nasional 2021. Status desa devisa nasional ditandai dengan pelepasan Ekspor produk UMKM berupa sarung tenun khas Wedani.

Kegiatan pelepasan ekspor dihadiri Kepala Bea Cukai Gresik, Bier Budy Kismulyanto, Ketua DPRD Gresik, Abdul Qodir, Ketua TP PKK, Nurul Haromaini Fandi Akhmad Yani, Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah dan Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Agus Budiono.

Tidak tanggung-tanggung pada ekspor kali ini pelaku UMKM Desa Wedani menyasar lima negara sekaligus diantaranya, Malaysia, Jeddah, Uni Emirat Arab, Dubai dan Etiophia.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Gresik, Bier Budy Kismulyanto mengaku puas sskaligus bangga sebab Desa Wedani masuk dalam 10 besar desa devisa nasional yang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun ini.

“Desa Wedani menjadi satu-satunya desa di Jawa Timur yang lolos verifikasi sebagai desa devisa. Ini semua berkat kerjakeras dan sinergitas banyak pihak,” kata Bier.

Dikatakan, pengiriman ekspor kali ini bukan yang pertama, karena menurutnya pada awal Januari 2021 lalu sarung Wedani Cerme Gresik sudah melakukan ekspor.

DORONG PEREKONOMIAN : Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah (kanan) didampingi Ketua TP PKK dan Ketua Dekranasda Gresik, Nurul Haromaini Fandi Akhmad Yani memecahkan kendi bersama Kepala Bea Cukai Gresik, Bier Budy Kismulyanto sebagai simbol dilepasnya ekspor sarung produksi UMKM Desa Wedani, Cerme. (Dok/Radar Gresik)

“Sebenarnya pada Januari lalu kami sudah pernah memfasilitasi ekspor sarung wedani ke beberapa negara timur tengah. Kami berharap ekspor kedua kali ini akan semakin membuka pasar ekspor baru dan sarung wedani Cerme Gresik semakin di kenal di manca negara” imbuhnya. Sebelum dinobatkan sebagai desa devisa nasional ada banyak hal yang dilakukan oleh Bea Cukai Gresik dan Pemdes Wedani. Mulai dari pelatihan SDM, pelatihan penyusunan modul ekspor hingga berbagai persiapan administratif lain.

“Harusnya ada dua desa yang diusulkan menjadi desa devisa. Namun yang lolos pada tahun ini hanya desa Wedani. Kami bangga artinya upaya yang kita lakukan selama ini mulai mendapatkan pengakuan sekaligus dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” tandasnya.

Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah berharap ekspor sarung Wedani membuka kran ekspor semakin besar dan menyerap tenaga kerja.  “Kami sangat mendukung agar ekspor sarung ini bisa mendongkrak perekonomian masyarakat,” kata Aminatun.

Sebelum pelepasan ekspor, Ceo PT Kakean Primanda Indonesia Achmad Nur Hasyim Hamada saat pemaparan menyatakan bahwa pada jaman dulu Gresik sudah terkenal dengan hasil tenun songket. Padahal kalau bisa membuat tenun songket hasilnya lebih menguntungkan secara ekonomis karena harganya bisa mencapai puluhan juta.

“Hasil tenun songket Gresik kami temukan pada musium di belanda dan tertulis pada sejarah tenun dan tekstil. Tapi sejak seratus tahun terakhir songket Gresik sudah tidak ada lagi. Kami berharap para pengrajin tenun di Gresik untuk menguri-uri Kembali agar tenun songket Gresik bisa berjaya lagi,” tandasnya. (fir/han)

GRESIK – Berbagai langkah dan upaya asistensi yang dilakukan oleh Bea Cukai Gresik terhadap Desa Wedani kini perlahan mulai membuahkan hasil.  Desa yang berada di Kecamatan Cerme itu lolos dan ditetapkan sebagai 10 desa devisa nasional 2021. Status desa devisa nasional ditandai dengan pelepasan Ekspor produk UMKM berupa sarung tenun khas Wedani.

Kegiatan pelepasan ekspor dihadiri Kepala Bea Cukai Gresik, Bier Budy Kismulyanto, Ketua DPRD Gresik, Abdul Qodir, Ketua TP PKK, Nurul Haromaini Fandi Akhmad Yani, Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah dan Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Agus Budiono.

Tidak tanggung-tanggung pada ekspor kali ini pelaku UMKM Desa Wedani menyasar lima negara sekaligus diantaranya, Malaysia, Jeddah, Uni Emirat Arab, Dubai dan Etiophia.

-

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Gresik, Bier Budy Kismulyanto mengaku puas sskaligus bangga sebab Desa Wedani masuk dalam 10 besar desa devisa nasional yang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun ini.

“Desa Wedani menjadi satu-satunya desa di Jawa Timur yang lolos verifikasi sebagai desa devisa. Ini semua berkat kerjakeras dan sinergitas banyak pihak,” kata Bier.

Dikatakan, pengiriman ekspor kali ini bukan yang pertama, karena menurutnya pada awal Januari 2021 lalu sarung Wedani Cerme Gresik sudah melakukan ekspor.

DORONG PEREKONOMIAN : Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah (kanan) didampingi Ketua TP PKK dan Ketua Dekranasda Gresik, Nurul Haromaini Fandi Akhmad Yani memecahkan kendi bersama Kepala Bea Cukai Gresik, Bier Budy Kismulyanto sebagai simbol dilepasnya ekspor sarung produksi UMKM Desa Wedani, Cerme. (Dok/Radar Gresik)

“Sebenarnya pada Januari lalu kami sudah pernah memfasilitasi ekspor sarung wedani ke beberapa negara timur tengah. Kami berharap ekspor kedua kali ini akan semakin membuka pasar ekspor baru dan sarung wedani Cerme Gresik semakin di kenal di manca negara” imbuhnya. Sebelum dinobatkan sebagai desa devisa nasional ada banyak hal yang dilakukan oleh Bea Cukai Gresik dan Pemdes Wedani. Mulai dari pelatihan SDM, pelatihan penyusunan modul ekspor hingga berbagai persiapan administratif lain.

“Harusnya ada dua desa yang diusulkan menjadi desa devisa. Namun yang lolos pada tahun ini hanya desa Wedani. Kami bangga artinya upaya yang kita lakukan selama ini mulai mendapatkan pengakuan sekaligus dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” tandasnya.

Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah berharap ekspor sarung Wedani membuka kran ekspor semakin besar dan menyerap tenaga kerja.  “Kami sangat mendukung agar ekspor sarung ini bisa mendongkrak perekonomian masyarakat,” kata Aminatun.

Sebelum pelepasan ekspor, Ceo PT Kakean Primanda Indonesia Achmad Nur Hasyim Hamada saat pemaparan menyatakan bahwa pada jaman dulu Gresik sudah terkenal dengan hasil tenun songket. Padahal kalau bisa membuat tenun songket hasilnya lebih menguntungkan secara ekonomis karena harganya bisa mencapai puluhan juta.

“Hasil tenun songket Gresik kami temukan pada musium di belanda dan tertulis pada sejarah tenun dan tekstil. Tapi sejak seratus tahun terakhir songket Gresik sudah tidak ada lagi. Kami berharap para pengrajin tenun di Gresik untuk menguri-uri Kembali agar tenun songket Gresik bisa berjaya lagi,” tandasnya. (fir/han)

Most Read

Berita Terbaru

/