alexametrics
24 C
Gresik
Saturday, 21 May 2022

Akibat Pandemi, Pengembang Perumahan Terlilit Utang

GRESIK– Pandemi Covid-19 memberikan dampak luar biasa di seluruh sendi perekonomian. Tak terkecuali sektor Real Estat. Di Gresik banyak pengembang perumahan atau perusahaan developer yang kolaps akibat dihantam Pandemi.

Bendahara Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Bersatu Jawa Timur, Koko Wijayanto menuturkan, banyak pelaku usaha properti di Gresik yang bangkrut akibat proyeknya mandek. Bahkan tidak sedikit developer yang terlilit hutang hingga menjual aset-aset mereka.

“Selama 1,5 tahun ini para pelaku properti benar-benar terpukul. Proyek yang sudah berjalan terpaksa terhenti, padahal sebelum memulai investasi banyak yang modalnya diperoleh dari pinjaman bank. Akibatnya tidak bisa mengangsur dan asetnya disita,” kata Koko.

Dia menuturkan, langkah dan strategi agar bisa keluar dari kondisi krisis inipun kini terus dipikirkan banyak pelaku usaha properti yang tergabung dalam berbagai asosiasi. Namun menurut Koko semuanya cukup berat karena daya beli masyarakat yang tengah mengalami penurunan.

“Anggota kami tidak satu dua yang bangkrut. Cukup banyak bahkan tidak sedikit yang akhirnya berurusan dengan hukum karena persoalan perdata,” imbuh Koko.

Untuk itu, lanjut Koko, Apersi Bersatu Jatim terus menggelar kegiatan sosialisasi serta pendampingan hukum pada anggotanya. Koko berharap persoalan yang terjadi antara developer dan pengembang perumahan dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

“Kami terus berupaya memediasi agar para user dan developer bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dengan kalur musyawarah. Dengan catatan developer itu memang bangkrut akibat Pandemi bukan memiliki maksud dan niat lain,” tegas Koko.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Gresik, Widodo Feriyanto. Menurutnya kondisi developer yang bermodal pas-pasan memang akan sangat sulit bergerak dalam kondisi Pandemi. Hal ini dikarenakan investasi yang dikucurkan berpotensi akan mengalami slow return

“Jika developer itu punya modal yang cukup banyak mungkin proyeknya tertunda saja tidak sampai berurusan dengan kredit modal perbankan,” kata Widodo Feriyanto.

Meski demikian dia optimis kondisi ini akan segera pulih. Dia memprediksi pada triwulan akhir 2021 industri properti di Gresik mulai reborn. Hal ini seiring dengan percepatan vaksinasi masyarakat guna memulihkan perekonomian.

“Saat ini adalah waktu yang tepat untuk membeli properti karena harganya sedang flat. Sebab, nanti pada akhir tahun harga  mulai kembali naik seiring dengan mulai bergeliatnya kembali perekonomian,” pungkas Widodo Feriyanto. (fir/rof)

GRESIK– Pandemi Covid-19 memberikan dampak luar biasa di seluruh sendi perekonomian. Tak terkecuali sektor Real Estat. Di Gresik banyak pengembang perumahan atau perusahaan developer yang kolaps akibat dihantam Pandemi.

Bendahara Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Bersatu Jawa Timur, Koko Wijayanto menuturkan, banyak pelaku usaha properti di Gresik yang bangkrut akibat proyeknya mandek. Bahkan tidak sedikit developer yang terlilit hutang hingga menjual aset-aset mereka.

“Selama 1,5 tahun ini para pelaku properti benar-benar terpukul. Proyek yang sudah berjalan terpaksa terhenti, padahal sebelum memulai investasi banyak yang modalnya diperoleh dari pinjaman bank. Akibatnya tidak bisa mengangsur dan asetnya disita,” kata Koko.

-

Dia menuturkan, langkah dan strategi agar bisa keluar dari kondisi krisis inipun kini terus dipikirkan banyak pelaku usaha properti yang tergabung dalam berbagai asosiasi. Namun menurut Koko semuanya cukup berat karena daya beli masyarakat yang tengah mengalami penurunan.

“Anggota kami tidak satu dua yang bangkrut. Cukup banyak bahkan tidak sedikit yang akhirnya berurusan dengan hukum karena persoalan perdata,” imbuh Koko.

Untuk itu, lanjut Koko, Apersi Bersatu Jatim terus menggelar kegiatan sosialisasi serta pendampingan hukum pada anggotanya. Koko berharap persoalan yang terjadi antara developer dan pengembang perumahan dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

“Kami terus berupaya memediasi agar para user dan developer bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dengan kalur musyawarah. Dengan catatan developer itu memang bangkrut akibat Pandemi bukan memiliki maksud dan niat lain,” tegas Koko.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Gresik, Widodo Feriyanto. Menurutnya kondisi developer yang bermodal pas-pasan memang akan sangat sulit bergerak dalam kondisi Pandemi. Hal ini dikarenakan investasi yang dikucurkan berpotensi akan mengalami slow return

“Jika developer itu punya modal yang cukup banyak mungkin proyeknya tertunda saja tidak sampai berurusan dengan kredit modal perbankan,” kata Widodo Feriyanto.

Meski demikian dia optimis kondisi ini akan segera pulih. Dia memprediksi pada triwulan akhir 2021 industri properti di Gresik mulai reborn. Hal ini seiring dengan percepatan vaksinasi masyarakat guna memulihkan perekonomian.

“Saat ini adalah waktu yang tepat untuk membeli properti karena harganya sedang flat. Sebab, nanti pada akhir tahun harga  mulai kembali naik seiring dengan mulai bergeliatnya kembali perekonomian,” pungkas Widodo Feriyanto. (fir/rof)

Most Read

Berita Terbaru

/