Presiden klub PSG Gresik, Nanang Susanto mengatakan, untuk melepas PSG Gresik ke Pati adalah berat secara emosional. Pasalnya, Nanang sudah membangun tim sejak 2018. Dari yang awalnya liga 3 berhasil menembus level liga 2. "Bagaimana lagi, keadaan yang seperti ini, kondisi pandemi yang membuat situasi menjadi sangat sulit, apalagi di dalam dunia sepakbola yang harus mengeluarkan uang yang banyak. Sungguh berat melepas tim PSG Gresik,"kata Nanang.
Penjualan ini murni karena situasi yang sangat sulit dan berat bagi klub. Perpindahan PSG itu merupakan pembelian mayoritas saham klub atau murni aksi korporasi. "Bisnis saya juga drop sejak pandemi, jadi secara langsung berdampak kepada finansial tim. Tidak perlu saya jelaskan berapa persen sahamnya. Ini semacam murni aksi korporasi,"terang Nanang.
CEO PSG Gresik Bisri Affandi, menjelaskan, situasi pandemi pada dunia sepak bola ini mungkin hampir sama dengan kondisi finansial tim - tim lainnya. "Tim tidak ada pemasukan, kompetisi juga belum berjalan, sedangkan pengeluaran terus berlanjut. Secara finansial berat, sehingga dengan terpaksa melepas saham PSG Gresik dan pihak Safin Akademi yang kebetulan tertarik untuk mengambil alih,"jelas Bisri.
Dengan diakuisisinya tim berjuluk Laskar Giri Kedaton tersebut, dirinya berharap semua pihak memaklumi dengan keadaan ini. “Kami meminta maaf kepada suporter yang sudah banyak mendukung PSG selama klub berdiri dan bermain di liga 3 hingga liga 2. Terutama, para Suporter Arek Gresik (SAG) yang sudah menjadi loyalis PSG Gresik. Ke depan untuk sementara istirahat dulu dari hiruk- pikuknya persepak bolaan Gresik," pungkasnya. (jar/han) Editor : Hany Akasah