Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Meski Senator Perempuan Non Petahana dengan Perolehan Suara Tertinggi Nasional, Anggota DPD RI Lia Istifhama Tak Berhenti Hobi Mudun Ngisor

Hany Akasah • Rabu, 2 Juli 2025 | 14:32 WIB
Lia Istifhama
Lia Istifhama

RADAR GRESIK - Nama Lia Istifhama menjadi sorotan tajam dalam peta politik nasional pasca Pemilu 2024. Terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Jawa Timur, Lia Istifhama mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih 2.739.123 suara, menjadikannya senator perempuan non-petahana dengan perolehan suara tertinggi di Indonesia.


Dengan capaian tersebut, Lia hanya berada di bawah perolehan fenomenal Komeng (Jawa Barat) dan Gus Yasin (Jawa Tengah). Namun, yang membuat kiprahnya semakin istimewa adalah pendekatannya yang membumi hobi turun ke bawah (turba), atau dalam istilah Jawa, “mudun ngisor”.

Meski berasal dari keluarga terpandang keponakan mantan Gubernur Jawa Timur dan Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, serta putri bungsu tokoh NU KH Maskur Hasyim—Ning Lia (sapaan akrabnya) tak segan berbaur langsung dengan masyarakat dari berbagai lapisan.

Tak hanya politisi, Ning Lia juga dikenal sebagai aktivis sosial, advokat, akademisi, penulis, dan bahkan musisi. Karakternya yang dikenal pemaaf, jujur, pekerja keras, dan sangat peduli pada masyarakat kecil (wong cilik) menegaskan citra kuat seorang senator yang hadir bukan sekadar untuk mengejar kekuasaan, melainkan untuk melayani.

“Bagi saya, politik itu soal amanah dan ketulusan. Kita tidak boleh jauh dari masyarakat. Jangan hanya di atas podium, tapi juga mendengarkan langsung di bawah,” ujar Ning Lia.

Salah satu kunci sukses Ning Lia adalah konsistensinya dalam turun ke lapangan. Meski sudah menjadi Anggota DPD RI, ia rajin mendatangi warga di berbagai kota dan kabupaten Jawa Timur.

Angel Kurnawati, salah satu tim Lia, menuturkan bagaimana padatnya agenda sang senator. “Saya melihat Ning Lia ini kok tidak ada capek-capeknya keliling menemui warga. Sehari minimal dua lokasi bahkan lebih dan kegiatannya antar kota,” kata Angel.

Hal serupa diungkapkan Alfian, loyalis Sahabat Ning Lia. “Ning Lia itu tidak pernah capek turun ke bawah. Kalau bahasa Jawanya ngider (muter). Beliau sangat humble, selalu menghibur, tidak mau mengecewakan masyarakat. Tidak lelah mudun ngisor (turun ke bawah),” jelas Alfian.

Keberhasilan Lia Istifhama bukan hanya mengukir prestasi pribadi, tetapi juga memperkuat citra DPD RI di mata publik. Pengamat politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Mubarok, memuji gaya politik Lia yang membumi.

“Ning Lia mampu menghadirkan langkah pikir baru yang terlatih dan berorientasi pada konstituen. Ia memulai tradisi politik yang segar, menghadirkan inovasi dalam menyuarakan aspirasi daerah, dan menemui konstituennya tanpa pilih-pilih,” ungkap Mubarok.

Menurutnya, pola komunikasi seperti ini sangat penting untuk mendekatkan lembaga DPD dengan masyarakat, yang selama ini kerap dianggap jauh atau hanya elitis.
Di tengah citra politisi yang sering dianggap hanya dekat dengan rakyat saat kampanye, Senator Cantik itu membuktikan hal berbeda. Istilah “mudun ngisor” yang melekat pada dirinya bukan sekadar jargon, melainkan wujud komitmen untuk terjun langsung mendengar aspirasi dan keluhan rakyat kecil.

Lia juga kerap mengingatkan suara rakyat adalah amanah yang harus dijaga dengan kerja nyata. “Kalau kita mau dipercaya, kita harus hadir di tengah mereka. Bukan hanya ketika butuh suara,” tegas Ning Lia.

Dengan gaya politik yang egaliter, pendekatan personal, dan aktivitas sosial yang konsisten, Ning Lia Istifhama tidak hanya menjadi salah satu senator perempuan dengan suara terbanyak di Indonesia, tetapi juga menjadi simbol politik yang lebih manusiawi, dekat, dan peduli pada wong cilik.

Sosok Ning Lia mencuri perhatian dalam dunia politik karena sangat mewarnai di DPD RI. Ning Lia dikenal gigih menuntut ilmu, bahkan tercatat kuliah S1 di tiga kampus berbeda secara bersamaan: Universitas Airlangga (Unair), IAIN Sunan Ampel (kini UINSA), dan STID Taruna Surabaya. Kegemarannya membaca membuatnya dijuluki "kutu buku" karena rutin mengunjungi perpustakaan.

"Pernah ikut kuliah lintas prodi, bahkan beda angkatan. Jadi kadang yang paling tua sendiri," candanya sambil tertawa, menggambarkan dedikasinya pada pendidikan.

Sejak mahasiswa, Ning Lia sudah bekerja paruh waktu sebagai penerima tamu dan event organizer. Setelah lulus S1, ia bekerja penuh waktu termasuk menjadi sales kartu kredit seraya tetap melanjutkan pendidikan hingga tingkat Doktoral di UINSA.
Dulu momen kampanye Ning Lia juga diwarnai kejadian unik yang menunjukkan karakter empatinya yang kuat. Sebuah video dirinya viral di TikTok ketika seorang ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) mencium spanduknya di Madiun. Alih-alih marah, Ning Lia merespons santai dan penuh empati.

"Orang ODGJ itu polos, tidak ada niat jelek. Anggap saja tanda tulus," ujarnya bijak.

Setelah Pemilu 2024, sempat muncul polemik pencatutan fotonya oleh rival di materi kampanye. Meskipun memiliki dasar hukum untuk menuntut, Ning Lia memilih jalan memaafkan. "Niat kami hanya edukasi. Politik harus jujur. Saya malah mengajak rival saling sinergi seperti saudara," jelasnya. (han)

Editor : Hany Akasah
#senator #peremuan #gresik #jawa tengah #Lia Istifhama #Ning Lia #Suara #perolehan #DPD RI