RADAR GRESIK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik terus menunjukkan keseriusannya dalam mengatasi persoalan banjir Kali Lamong. Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Gresik, dr. Asluchul Alif, baru-baru ini memperkuat koordinasi dengan Plt Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, untuk mempercepat penanganan bencana tahunan ini. Kolaborasi ini menjadi angin segar bagi warga Gresik yang kerap terdampak luapan sungai.
Sungai Kali Lamong yang membentang sepanjang 58 kilometer telah menjadi prioritas utama penanganan banjir di Gresik. Berbagai langkah konkret telah dilakukan.
Di antaranya, normalisasi sepanjang 48 kilometer Kali Lamong telah dinormalisasi menggunakan dana APBD murni. Kolam retensi pertama telah dibangun di Kecamatan Cerme, berfungsi sebagai penampung sementara air sungai saat debit meningkat, efektif mengurangi risiko banjir di area sekitarnya.
Kemudian, dukungan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo yang berkontribusi dengan membangun tanggul parapet. Pembangunan parapet dilakukan bertahap: 1,5 kilometer (2021), 400 meter (2022), dan 400 meter (2024).
Untuk penanganan banjir yang lebih menyeluruh, sinergi antara pemerintah daerah, provinsi, dan pusat sangatlah krusial. Oleh karena itu, koordinasi antara Plt Bupati Gresik dr. Asluchul Alif dengan Plt Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menjadi langkah strategis. Keduanya bertemu di rumah dinas Plt Gubernur di Surabaya, didampingi oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) serta Bappeda Gresik.
"Penanganan banjir Kali Lamong, dengan menambah pembangunan kolam retarding basin. Pemkab Gresik melakukan pembebasan lahan dan alhamdulillah Pemprov Jawa Timur akan mendukung untuk pembuatan kolamnya," ujar Asluchul Alif, Rabu (4/6).
Kolam retarding basin (kolam retensi) adalah strategi vital untuk menanggulangi banjir. Kolam ini dirancang untuk menampung air sungai sementara waktu, sehingga mengurangi dampak luapan di daerah hilir.
Saat ini, Pemkab Gresik telah menuntaskan pembangunan kolam retensi pertama di Desa Tambakberas, Kecamatan Cerme, dengan luas sekitar sembilan hektare. Kolam ini telah beroperasi penuh, dilengkapi dengan pintu air masuk (inlet) dan pintu keluar (outlet) untuk mengatur aliran air secara optimal.
Tak berhenti di situ, Pemkab Gresik berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan kolam retarding basin kedua. Proyek ini akan berlokasi di Desa Cermen, Kecamatan Kedamean, dengan target luas sekitar 10 hektare.
“Tahun ini, dan insya Allah, kami akan bikin waduk atau retarding basin lagi di Kedamean, di Desa Cermen. Itu akan kami bikin kurang lebih 10 hektar,” imbuh Alif.
Di samping pembangunan kolam retensi, proses pengerukan Kali Lamong juga terus digenjot. Tanah hasil pengerukan dimanfaatkan langsung untuk pembangunan tanggul. Hingga saat ini, progres pengerukan telah mencapai 78 persen, meliputi 44,58 kilometer panjang Kali Lamong dan 141,43 kilometer anak sungainya.
Untuk bulan ini, kegiatan pengerukan difokuskan di wilayah Kecamatan Menganti dan Benjeng, sebagai bagian dari upaya strategis mengurangi risiko banjir dan memperkuat infrastruktur pengendalian air di Gresik. (jar/han)
Editor : Hany Akasah