Radar Gresik – Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan menurunnya minat baca konvensional, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Kabupaten Gresik justru menunjukkan lompatan kinerja signifikan. Di bawah komando Kepala Dinas Budi Rahardjo, berbagai langkah pembenahan, inovasi, dan program kreatif diluncurkan untuk menjawab tantangan zaman sekaligus membangun budaya baca masyarakat.
Saat pertama memimpin pada 2022, Budi mendapati tata kelola kearsipan masih minim, bahkan hanya ada dua tenaga khusus yang menangani. Kesadaran pentingnya arsip pun belum merata.
“Selama ini sebagian OPD menganggap arsip penting hanya yang terkait keuangan, padahal dokumen strategis lain juga harus terjaga,” ujar Budi kepada Radar Gresik, Jumat (15/08).
Melalui pendekatan pembinaan dan pendampingan, Perpusip berhasil mendorong kesadaran pengelolaan arsip di seluruh OPD. Hasilnya, Gresik meraih penghargaan pengawasan kearsipan eksternal kategori memuaskan dari Pemerintah Provinsi Jatim dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Penilaian itu meliputi kebijakan, tata kelola, hingga pengawasan kearsipan.
Kendati demikian Budi menyadari, tantangan terbesar Perpusip bukan hanya kearsipan, melainkan menghidupkan kembali minat baca masyarakat, terutama di kalangan generasi muda yang lebih akrab dengan gawai.
"Di awal saya menjabat, kunjungan bulanan ke perpustakaan hanya puluhan orang. Namun saat ini ratusan orang tercatat sebagai pengunjung perpus setiap bulannya," imbuhnya.
Capaian itu berkat berbagai program yang digulirkan. Wisata Pustaka Anak Sekolah (Wispuas) menyasar pelajar, menggabungkan edukasi literasi dengan pengalaman kunjungan yang menyenangkan. Pada 2024, Budi mengusulkan pembangunan platform aquarium digital (Aqudig). Aplikasi menggabungkan teknologi interaktif dengan aktivitas motorik anak seperti mewarnai, agar perpustakaan menjadi ruang belajar yang kreatif. Nah hasil dari karya tersebut kemudian digitalisasi untuk ditampilkan ke layar animasi.
"Dari ide kreatif ini mulai membuahkan hasil. Januari 2024, jumlah pengunjung melonjak. Kedepan durasi membaca yang sebelumnya rata-rata hanya dua jam diharapkan meningkat seiring kesadaran literasi yang tumbuh," imbuhnya.
Untuk memperkuat kebiasaan membaca, Perpusip meluncurkan program Back 2 Book. Program ini merupakan kegiatab literasi yang menargetkan setiap warga membaca minimal dua buku per hari. Budi berharap seluruh stakeholder di Gresik ikut mendorong gerakan ini melalui imbauan kepada masyarakat untuk membaca dan mengunggah aktivitas mereka di media sosial.
“Indonesia dikenal sebagai bangsa tutur, bukan bangsa baca. Kami ingin mengubah itu lewat langkah-langkah konkret melalui gerakan back 2 book ini," tegas Budi.
Prestasi dan Inovasi
Transformasi Perpusip Gresik tidak hanya terlihat dari jumlah pengunjung, tetapi juga lonjakan anggota Perpusip, dari yang semula hanya ribuan kini sudah mencapai puluhan. Nah untuk menyempurnakan target kinerja, saat ini Disperpusip kini telah melakukan pengembangan chatbot berbasis AI yang akan memudahkan pencarian koleksi dan informasi layanan secara cepat.
Inovasi literasi digital ini juga mengantarkan Perpusip meraih juara 3 di ajang Gino Fest 2024 melalui program aquarium digital (Aqudig) yang dinilai mampu menjawab kebutuhan pembelajaran era modern. Ke depan, Perpusip menargetkan penerapan Key Performance Indicator (KPI) baru yang fokus pada literasi digital. Seluruh program diarahkan untuk mendukung nawakarsa “Gresik Cerdas” melalui perluasan akses informasi, baik secara fisik maupun daring.
Budi optimistis, dengan kombinasi antara pembenahan tata kelola, inovasi digital, dan penguatan budaya baca, Perpusip Gresik akan menjadi motor penggerak literasi yang berdampak langsung pada kualitas SDM di kabupaten ini.
“Literasi bukan sekadar membaca buku, tapi kemampuan mengolah informasi menjadi pengetahuan dan keterampilan hidup. Itulah yang ingin kami tanamkan,” pungkasnya. (fir)
Editor : Cak Fir