RADAR GRESIK – Anggota DPD RI, Lia Istifhama mendorong sektor pariwisata Indonesia untuk tidak hanya menjadi kebanggaan domestik, tetapi juga mampu bersaing secara global.
Hal tersebut disampaikan dalam rapat Komite III DPD RI bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), yang membahas pengawasan atas pelaksanaan UU No. 10 Tahun 2009 tentang Pengembangan Destinasi Pariwisata Unggulan dan dampaknya terhadap perekonomian daerah, Rabu (30/5/2025).
Dalam rapat tersebut, Lia Istifhama yang akrab disapa Ning Lia menyampaikan potensi besar Indonesia yang belum sepenuhnya tergali.
"Saya meyakini Bu Menpar Widi bisa membawa pariwisata Indonesia tidak hanya untuk lokal, namun jadi destinasi wisata global. Misalnya kita turun dari bandara di negara sebelah, masuk kita sudah disuguhkan infrastruktur bagus dan melihat keindangan alamnya. Memang kita ketahui negara-negara lainnya punya sejarah pembangunan yang berbeda. Namun, kita harus tetap menggali potensi ini perlu didukung dengan infrastruktur yang memadai agar dapat menarik minat wisatawan mancanegara," ujar perempuan yang terkenal punya targline Cantik tersebut.
Ning Lia menekankan pentingnya pemerataan pembangunan pariwisata hingga ke tingkat desa. Ia mempertanyakan sejauh mana perhatian pemerintah pusat terhadap pengembangan desa wisata di Jawa Timur, khususnya melalui program unggulan seperti Kharisma Event Nusantara (KEN).
"Apakah dukungan terhadap desa wisata sudah merata hingga tingkat provinsi dan desa?. Apa yang mendasari kuota desa wisata didukung pemerintah pusa. Dengan KEN, saya berharap dapat menjangkau daerah-daerah yang belum banyak terekspos," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia menyoroti pentingnya pengawasan terhadap pengelolaan Koperasi Merah Putih, yang diharapkan dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi desa wisata.
"Koperasi dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal jika dikelola dengan baik dan transparan. Kita harus memastikan bahwa tidak ada oknum yang tidak bertanggung jawab menyalahgunakan keberadaan koperasi ini," tegasnya.
Ning Lia menyambut baik program-program ini dan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat untuk mencapai tujuan bersama. "Kita harus bekerja sama untuk memastikan bahwa pariwisata Indonesia tidak hanya menjadi sumber devisa, tetapi juga menjadi pendorong pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.
Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Widiyanti Putri Wardhana, memaparkan lima program unggulan Kemenparekraf untuk tahun 2025, yang dirancang untuk membawa pariwisata Indonesia ke level berikutnya. Di antaranya, Gerakan Wisata Bersih yang berfokus pada peningkatan kebersihan dan sanitasi di destinasi wisata, Tourism 5.0 berbasis AI dan Digitalisasi yang berokus pada Pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan pengalaman wisatawan dan efisiensi pengelolaan pariwisata. Pariwisata Naik Kelas, Event Berbasis Intellectual Property (IP) Indonesia dan Pengembangan Desa Wisata.
"Melalui 110 agenda Kharisma Event Nusantara, kami juga ingin memperkuat daya tarik wisata Indonesia dari Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua, Bali, Nusa Tenggara hingga Jawa," jelas Menteri Widi.
Dipaparkannya, program KEN diharapkan dapat menghasilkan estimasi belanja pengunjung sebesar Rp7,98 triliun, dengan multiplier effect mencapai 1,7 kali lipat, sehingga kontribusi ekonomi diproyeksikan mencapai Rp13,57 triliun.
Program-program ini juga berhasil menciptakan lapangan kerja bagi 74.300 orang, melibatkan 172.300 seniman, dan menggerakkan 29.000 UMKM.
"Dengan memberdayakan lebih dari 6.106 desa wisata, kami ingin menciptakan pemerataan ekonomi hingga unit terkecil masyarakat," tambah Menteri Widi. (han)
Editor : Hany Akasah