Kurangi Gunungan Sampah TPST Ngipik, Komisi III DPRD Gresik Dorong Optimalisasi Landfill Mining

Fajar Yuliyanto • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 12:45 WIB
Wakil Ketua Komisi III DPRD Gresik Abdullah Hamdi saat mengunjungi TPST Ngipik. (Foto : Fajar/Radar Gresik)
Wakil Ketua Komisi III DPRD Gresik Abdullah Hamdi saat mengunjungi TPST Ngipik. (Foto : Fajar/Radar Gresik)

RADAR GRESIK – Pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Ngipik dinilai mulai menunjukkan tren positif. Setiap harinya, fasilitas pengolahan sampah milik Pemkab Gresik tersebut berhasil mengikis gunungan sampah hingga sekitar 5 ton.

Meski demikian, jajaran dewan menemukan sejumlah kendala teknis saat menggelar inspeksi mendadak (sidak) di lokasi.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Gresik, Abdullah Hamdi, menyampaikan bahwa mesin pengolah sampah bernilai Rp 10 miliar tersebut sebetulnya memiliki kapasitas pengerukan tumpukan sampah (landfill mining) hingga mencapai 25 ton per hari.

Baca Juga: Kenaikan Tarif Retribusi Sampah Mulai Diberlakukan, DPRD Gresik Ajak DLH Gencar Sosialisasi Hingga

Namun, operasionalnya belum berjalan 100 persen lantaran terkendala material keras yang kerap bercampur di tumpukan sampah.

"Alat ini sebetulnya bisa dioptimalkan lebih besar lagi. Namun dari proses landfill mining-nya saat ini belum 100 persen terolah penuh karena masih menyisakan residu," ujar Abdullah Hamdi, Jumat (2/10/2026).

Hamdi menjelaskan, pengolahan sampah dari mesin tersebut menghasilkan produk Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara, serta produk sampingan berupa material urukan untuk layering. Namun, sisa residu dari proses tersebut saat ini masih harus dikembalikan ke tumpukan sampah.

Baca Juga: Hearing DPRD Gresik Deadlock, Warga Gulomantung Kekeh Tolak Pabrik Peleburan Aluminium

"Residu itu sebetulnya bisa diolah habis hingga 100 persen jika dibakar menggunakan insinerator berkapasitas besar. Sayangnya, UPT TPST Ngipik saat ini baru memiliki insinerator skala kecil. Kendalanya, kalau mau beli insinerator kapasitas besar, status kejelasan lahan TPST Ngipik masih berproses. Ini sangat disayangkan, padahal jika status lahan beres, pengolahan sampah bisa jauh lebih optimal," jelas politisi PKB tersebut.

Sementara itu, Kepala UPT TPST Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, Purwaningtyas Noor Mariansyah, membenarkan bahwa pengolahan sampah di TPST Ngipik memang belum beroperasi secara maksimal.

"Kami memang belum memiliki insinerator dengan kapasitas besar untuk menghabiskan sisa residu secara menyeluruh," terangnya.

Baca Juga: Hearing DPRD Gresik Deadlock, Warga Gulomantung Kekeh Tolak Pabrik Peleburan Aluminium

Mengenai operasional landfill mining yang baru berjalan 5 ton dari kapasitas ideal 25 ton per hari, Tyas mengungkapkan bahwa hal tersebut dilakukan demi menjaga keawetan investasi mesin pengolah sampah yang bernilai fantastis tersebut.

"Ini masih tahap awal operasional. Kami masih berhati-hati dan khawatir jika material keras seperti puing bangunan atau besi ikut masuk dan merusak komponen mesin utama," pukasnya. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik
lindfill mining dlh gresik Sampah dprd