RADAR GRESIK – Nyawa dan keselamatan para petugas pemadam kebakaran di Kabupaten Gresik kini dipertaruhkan di garis depan.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarla) Kabupaten Gresik menghadapi krisis Alat Pelindung Diri (APD) dan sarana prasarana (sarpras) pendukung.
Akibat keterbatasan jumlah perlengkapan keselamatan tersebut, sejumlah petugas terpaksa harus bergantian memakai baju tahan panas saat memadamkan kobaran api di lapangan.
Baca Juga: Silaturahmi Media, Direktur Manajemen Risiko PKG Kenang Masa Kritis Saat Jadi Manajer Humas
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Damkarla Kabupaten Gresik, Sulyono, membeberkan bahwa pemenuhan APD khusus menjadi kebutuhan paling mendesak yang harus segera direalisasikan.
"Sarana dan prasarana kita memang masih banyak yang kurang, di antaranya sepatu khusus, APD tahan panas, hingga selang pemadam. Banyak juga yang kondisinya sudah rusak. Baju APD saat ini belum ideal satu orang dapat satu setel, sehingga sebagian personel terpaksa memakainya secara bergantian," ungkap Sulyono.
Sulyono menegaskan, idealnya seluruh personel lapangan wajib dibekali perlengkapan keselamatan yang komplit dari kepala hingga kaki mengingat risiko tinggi insiden pemadaman.
Baca Juga: Atasi Kekeringan, Bupati Gresik Turun Langsung Salurkan Bantuan Air Bersih ke Desa Terdampak
Guna menutup kekurangan sarpras tersebut, Damkarla Gresik mengusulkan alokasi tambahan anggaran sekitar Rp500 juta pada P-APBD 2026.
Di sisi lain, maraknya potensi kebakaran lahan kosong dan ilalang kering selama musim kemarau menjadi ancaman nyata. Damkarla Gresik telah mengintensifkan sosialisasi hingga tingkat desa agar masyarakat tidak membakar sampah sembarangan atau membuang puntung rokok yang masih menyala.
"Banyak warga membersihkan lahan dengan cara dibakar tanpa memperhitungkan embusan angin kencang. Api dengan cepat merembet dan mendekati permukiman penduduk," tambah Sulyono.
Baca Juga: Menunggu Pengesahan P-APBD 2026, Pengolahan Sampah di TPST Ngipik Terpaksa Dihentikan Sementara
Guna mempercepat waktu tanggap (response time), Damkarla mengandalkan keberadaan Relawan Kebakaran (Redkar) di tiap kecamatan. Ke depan, Damkarla berharap para relawan desa ini turut dibekali alat penanganan awal sebelum armada utama tiba di lokasi kejadian.
Merespons kondisi miris tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Gresik, Abdullah Hamdi, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi kebakaran tidak boleh melupakan keselamatan jiwaraga para petugas di lapangan.
"Pemerintah daerah tidak boleh hanya fokus menambah armada unit pemadam, tetapi sarana keselamatan APD, insentif, dan kapasitas SDM personel harus diprioritaskan. Jangan sampai petugas yang bertaruh nyawa di garis depan justru kekurangan perlengkapan dasar keselamatan," tegas Abdullah Hamdi.
Baca Juga: Menunggu Pengesahan P-APBD 2026, Pengolahan Sampah di TPST Ngipik Terpaksa Dihentikan Sementara
Selain mendesak pemenuhan APD, Hamdi juga mendorong Pemkab Gresik memperbanyak dan mengaktifkan kembali sumur-sumur penampungan serta tandon air di setiap kecamatan guna mempermudah proses pasokan air (water supply) saat terjadi kebakaran hebat. (jar/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik