Budaya Literasi Gresik Makin Digencarkan, Tingkat Kegemaran Membaca Diklaim Posisi Kedua di Jatim

Fajar Yuliyanto • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 11:24 WIB

 

MEWARNAI: Kepala Dispussip Kabupaten Gresik Budi Raharjo saat mendampingi anak-anak mewarnai di fasilitas Aquarium Digital. (Foto : Fajar/Radar Gresik)
MEWARNAI: Kepala Dispussip Kabupaten Gresik Budi Raharjo saat mendampingi anak-anak mewarnai di fasilitas Aquarium Digital. (Foto : Fajar/Radar Gresik)

RADAR GRESIK – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispussip) Kabupaten Gresik terus memperkuat budaya literasi masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan tidak hanya dengan mendorong kegemaran membaca, tetapi juga melalui berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di tengah perkembangan kawasan industri.

Kepala Dispussip Kabupaten Gresik Budi Raharjo mengatakan, penguatan budaya literasi dilakukan melalui sejumlah program yang menyasar berbagai kelompok usia. Mulai dari anak-anak sekolah hingga masyarakat umum.

Baca Juga: Disulap Jadi Klinik dan Perpustakaan Berjalan, Stasiun Cerme Diserbu Warga dan Pelajar

Salah satu program yang terus dikembangkan adalah perpustakaan keliling yang menyasar sekolah dan taman baca. Dispussip juga menghadirkan Aquarium Digital (Aqudiq) untuk menarik minat anak-anak berkunjung ke perpustakaan.

Melalui fasilitas tersebut, anak-anak dapat menggambar dan mewarnai. Hasil karya mereka kemudian ditampilkan secara digital melalui layar LCD.

“Jadi anak-anak datang ke perpustakaan selain membaca juga bisa mewarnai dan hasilnya bisa dilihat di Aquarium Digital. Kami berharap mereka mulai memilih buku dan akhirnya tumbuh kegemaran membacanya,” kata Budi saat menemani anak-anak mewarnai di ruang Aquarium Digital Kantor Dispussip Gresik, Selasa (22/9).

Baca Juga: Jejak Pembangunan Gresik dan Foto Pemantauan Hilal 1993 Tersimpan Rapi di Dispussip

Selain kegiatan tersebut, Dispussip memiliki kelas literasi berupa pelatihan menulis bagi siswa sekolah dasar. Program itu kini memasuki tahun kedua. Pada November mendatang, kegiatan tersebut akan digelar dalam dua batch dengan masing-masing 20 peserta.

Karya para peserta nantinya direncanakan diterbitkan menjadi buku. Program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi anak-anak untuk tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga mulai mengenal dunia kepenulisan.

Penguatan literasi juga dilakukan melalui festival literasi yang digelar setiap tahun. Sejumlah kegiatan dan perlombaan disiapkan, di antaranya lomba bertutur untuk siswa SD, resensi buku untuk siswa SMP, serta kegiatan membaca yang turut mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya literasi dan numerasi.

Baca Juga: MAN 2 Gresik Raih Juara III Turnamen Bahlil Mini Soccer, Bryan Nabil Sabet Best Player

Dispussip juga menggandeng sejumlah komunitas untuk memperluas gerakan literasi. Di antaranya Read Aloud Indonesia, Persaudaraan Pengkisah Muslim Indonesia, serta komunitas yang memiliki perhatian terhadap naskah-naskah kuno.

“Targetnya tidak bisa hanya anak sekolah. Kegemaran membaca harus meliputi seluruh masyarakat, mulai usia sekolah sampai masyarakat yang masih aktif membaca untuk menambah pengetahuan,” ujarnya.

Menurut Budi, tugas Dispussip tidak hanya meningkatkan kegemaran membaca. Lembaga tersebut juga memiliki peran dalam menjaga warisan pengetahuan masa lalu, salah satunya melalui pengamanan dan alih media naskah kuno atau manuskrip.

Baca Juga: KSOP Tanjung Perak Tinjau Kesiapan E-RTG Baru di Terminal Petikemas Nilam

Hingga kini, kata dia, Kabupaten Gresik telah melakukan alih media terhadap 11 naskah kuno. Di antaranya naskah Sindujoyo, Ambiya, hingga naskah khutbah Jumat di Masjid Sunan Giri.

Dispussip juga memperoleh dua buku dari Museum Leiden, Belanda. Masing-masing membahas statistik Gresik tahun 1822 dan kisah perkuburan di Tanah Gapuro. Buku tersebut dibeli secara daring dan kemudian dicetak untuk menambah koleksi sekaligus menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat.

“Mudah-mudahan bisa menambah wawasan masyarakat Kabupaten Gresik tentang Gresik sebagai kota kuno, kota di era Sunan Giri maupun era Majapahit. Apakah memang ada bukti tertulis yang otentik, itu yang ingin kami gali,” katanya.

Baca Juga: Obat Nyamuk Diduga Jadi Pemicu Kebakaran Rumah Warga Sunggonglegowo Gresik

Upaya penguatan literasi juga menyentuh kalangan penulis lokal. Budi menyebut, pada 2025 sejumlah penulis lokal diundang ke Gedung Nasional Indonesia (GNI) untuk mendapatkan apresiasi dari Bupati Gresik.

Tahun ini, Dispussip kembali memfasilitasi penerbitan karya lokal. Salah satunya buku karya seorang guru SMP negeri yang mengangkat pencak macan sebagai bagian dari warisan budaya takbenda.

Budi mengatakan, karya tersebut sebelumnya belum mendapatkan penerbit. Dispussip kemudian bekerja sama dengan IKP Jawa Timur untuk memfasilitasi penerbitannya. Buku tersebut dijadwalkan dibedah pada 24 September 2026.

Baca Juga: Paripurna P-APBD 2026: Gerindra Setujui Raperda dengan Catatan Koreksi PAD dan Porsi Infrastruktur

“Lebih dari 500 eksemplar nanti akan dibeli oleh perpustakaan daerah dan dibagikan. Sementara ini 100 eksemplar, kemudian targetnya 500 menyesuaikan kemampuan anggaran,” imbuhnya.

Menurut Budi, berbagai program tersebut bermuara pada satu tujuan, yakni meningkatkan kapasitas literasi dan numerasi masyarakat Gresik. Hal itu dinilai penting karena Gresik merupakan daerah industri dengan kebutuhan tenaga kerja yang terus berkembang.

Masyarakat lokal, lanjut dia, perlu memiliki kemampuan yang memadai agar dapat memanfaatkan peluang kerja yang tersedia.

Baca Juga: Perkuat Pendidikan Inklusif, Bank Jatim Dukung Pemkab Gresik Gas Nobar Film Istimewa

Pemkab Gresik sendiri memiliki kebijakan yang mendorong penyerapan tenaga kerja lokal. Karena itu, peningkatan literasi dan numerasi dinilai menjadi salah satu modal untuk mendukung kesiapan masyarakat.

“Jangan sampai kita menjadi tamu di daerah sendiri. Karena itu literasi dan numerasi masyarakat harus terus kita dorong, termasuk melalui peningkatan tingkat kegemaran membaca,” ujarnya.

Budi menambahkan, perpustakaan saat ini tidak lagi sekadar dipandang sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku. Perpustakaan juga diarahkan menjadi ruang belajar masyarakat, tempat tumbuhnya penulis baru, sekaligus pusat pelestarian sejarah dan pengetahuan Gresik.

Baca Juga: Obat Nyamuk Diduga Jadi Pemicu Kebakaran Rumah Warga Sunggonglegowo Gresik

Menurut data yang disampaikan Budi, upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Tingkat kegemaran membaca Kabupaten Gresik pada 2025 disebut berada di posisi kedua di Jawa Timur.

“Alhamdulillah kita tahun 2025 sudah berada di posisi dua terbaik di Jawa Timur,” pungkasnya. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik
dispussip gresik Literasi perpustakaan Budaya