RADAR GRESIK – Kabupaten Gresik terpilih sebagai salah satu daerah percontohan proyek InCircular: Promoting a Circular Economy in Indonesia di Jawa Timur.
Program ini menjadi peluang bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memperkuat tata kelola persampahan dan penerapan ekonomi sirkular di tingkat daerah.
Peluncuran Kabupaten/Kota Percontohan Proyek InCircular Provinsi Jawa Timur digelar di Hotel DoubleTree by Hilton Surabaya, Selasa (15/9). Kegiatan tersebut dihadiri langsung Kepala DLH Kabupaten Gresik Sri Subaidah, S.T., M.T.
Baca Juga: Resahkan Warga, DLH Gresik Segel Gudang Diduga Pengoplosan Solar Refinery di Suci
Proyek InCircular merupakan kerja sama teknis antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Federal Jerman melalui Kementerian PPN/Bappenas, yang diimplementasikan bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia dan ASEAN.
Selain Gresik, empat daerah lain yang ditetapkan sebagai percontohan adalah Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Probolinggo, dan Kabupaten Sidoarjo.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, S.T., M.T, menuturkan keterlibatan Gresik dalam proyek tersebut diarahkan untuk memperkuat regulasi, kapasitas pemerintah daerah, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
Baca Juga: Gandeng Tiga Instansi, DLH Gresik Perkuat Sinergi Program Sekolah Adiwiyata
"Upaya ini diharapkan mampu mendorong sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan," ujarnya.
Proyek InCircular sendiri berfokus pada pengelolaan alur material sampah kemasan dan residu di wilayah Jawa Timur. Program ini juga mendukung Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045.
Melalui konsep ekonomi sirkular, pengelolaan sampah tidak lagi hanya berorientasi pada pola kumpul, angkut, dan buang. Material yang masih memiliki nilai diupayakan dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pengurangan, pemilahan, penggunaan ulang, dan daur ulang.
Baca Juga: Beralih ke Energi Hijau, DLH Gresik Siapkan Skema PSEL dan Mesin RDF
"DLH Kabupaten Gresik berkomitmen memanfaatkan keterlibatan dalam proyek tersebut untuk memperkuat pengelolaan sampah secara partisipatif. Kolaborasi dengan masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting dalam mendorong perubahan sistem persampahan di daerah," ujar Sri.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan dukungan terhadap lima kabupaten/kota yang menjadi daerah percontohan InCircular.
Menurutnya, penetapan Jawa Timur sebagai salah satu provinsi percontohan merupakan bentuk kepercayaan sekaligus peluang strategis untuk mendorong pembangunan yang lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya, rendah limbah, dan berkelanjutan.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian PPN/Bappenas, Pemerintah Republik Federal Jerman, serta GIZ Indonesia atas kerja sama dan dukungannya dalam mendorong pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Timur,” kata Emil.
Dia menjelaskan, pengelolaan sampah masih menjadi salah satu tantangan penting di Jawa Timur. Timbulan sampah di provinsi tersebut mencapai sekitar 6,5 juta ton per tahun, tetapi baru sekitar 25 persen yang terkelola secara optimal.
Menurut Emil, persoalan persampahan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur. Tantangan lainnya mencakup kapasitas kelembagaan, konsistensi pemilahan sampah dari sumber, dukungan pembiayaan, serta keterlibatan aktif masyarakat dan dunia usaha.
Baca Juga: Dipicu Bau Menyengat Bikin Warga Sesak Napas, DLH Gresik Segel Gudang Solar Refinery di Desa Suci
“Melalui ekonomi sirkular, kita mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber, serta memperkuat pemanfaatan kembali dan daur ulang,” ungkapnya.
Emil menambahkan, setiap kabupaten dan kota memiliki karakteristik, potensi, serta tantangan yang berbeda dalam pengelolaan sampah. Karena itu, masing-masing daerah percontohan perlu menyusun kerangka berpikir dan solusi sesuai dengan kondisi wilayahnya.
Capaian dan kendala yang dihadapi kelima daerah tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bersama. Praktik pengelolaan sampah yang telah berjalan nantinya dapat dikembangkan dan direplikasi oleh kabupaten/kota lain di Jawa Timur.
“Kelima daerah diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengembangan model implementasi ekonomi sirkular yang konkret, terukur, dan sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah,” tuturnya.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Teguh Sambodo mengapresiasi komitmen lima kabupaten dan kota di Jawa Timur. Dia menekankan pentingnya menerjemahkan visi nasional ekonomi sirkular ke dalam aksi nyata di tingkat daerah.
“Membangun ekonomi sirkular dibutuhkan visi dan aksi bersama. Pemerintah daerah berperan penting menerjemahkan arah pembangunan nasional ke dalam kebijakan, sistem, layanan, dan inovasi yang sesuai dengan daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Director Urban Development Cluster GIZ Indonesia dan ASEAN Thomas Foerch menyampaikan bahwa Pemerintah Jerman telah menjalin kerja sama dengan Indonesia selama 50 tahun. Salah satu sektor yang menjadi prioritas kerja sama tersebut adalah ekonomi sirkular, khususnya pengelolaan sampah.
Thomas menilai, Pemprov Jawa Timur memiliki peran penting dalam memperkuat pengelolaan sampah dan pengembangan kapasitas pemerintah daerah. Dia berharap kolaborasi melalui proyek InCircular dapat menghasilkan solusi berkelanjutan.
“Atas nama Pemerintah Jerman, kami mengapresiasi dan berterima kasih kepada seluruh mitra. Peluncuran ini menjadi momentum untuk memperkuat dan menyelaraskan pemahaman ekonomi sirkular di Jawa Timur. Mari melangkah bersama membangun sistem yang berkelanjutan, tangguh, serta lebih baik bagi generasi yang akan datang,” pungkasnya. (rir/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik