RADAR GRESIK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik terus melakukan terobosan dalam menangani persoalan sampah daerah. Tidak lagi berfokus pada pola lama kumpul-angkut-buang, sampah di Kabupaten Gresik kini akan diarahkan menjadi bahan bakar alternatif hingga sumber energi listrik.
Langkah strategis ini sejalan dengan program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang diusung Presiden RI Prabowo Subianto sebagai bagian dari percepatan penanganan darurat sampah nasional.
Kepala DLH Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, mengungkapkan bahwa Gresik mendapatkan dua program strategis nasional dalam pengelolaan sampah terpadu.
“Alhamdulillah, tahun ini Gresik memperoleh dua program. Pertama di Belahanrejo, kita mendapat alokasi anggaran sekitar Rp 51 miliar untuk pembangunan mesin Refuse Derived Fuel (RDF) dengan kapasitas 50 sampai 100 ton per hari,” ujar Sri Subaidah.
Program kedua adalah PSEL yang diintegrasikan dalam kawasan aglomerasi Surabaya Raya, mencakup Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Sidoarjo, dan Kota Surabaya. Fasilitas pengolahan megaproyek PSEL ini dipusatkan di kawasan Benowo, Surabaya.
Sri menjelaskan, fasilitas PSEL akan mengubah limbah domestik menjadi pasokan energi listrik yang nantinya diserap langsung oleh PT PLN (Persero). Proyek ini difasilitasi oleh pemerintah pusat melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Baca Juga: Dipicu Bau Menyengat Bikin Warga Sesak Napas, DLH Gresik Segel Gudang Solar Refinery di Desa Suci
Proses lelang proyek PSEL telah rampung dan saat ini memasuki tahap konstruksi yang diperkirakan memakan waktu tiga tahun. Jika tidak ada kendala, fasilitas tersebut siap beroperasi penuh dan menerima suplai sampah dari Gresik pada 2028.
“Insyaallah pada 2028 kita sudah bisa mengirimkan pasokan sampah sebesar 250 ton per hari ke Benowo,” terangnya.
Volume produksi sampah harian di Kabupaten Gresik saat ini mencapai rata-rata 450 ton per hari. Guna menyelesaikan beban limbah tersebut secara holistik, DLH Gresik telah menyusun peta jalan (roadmap) pengolahan terintegrasi.
Dengan rincian 250 ton / hari dikirim ke fasilitas PSEL Benowo untuk dikonversi menjadi energi listrik. Sementara 100 ton / hari diolah melalui fasilitas RDF Belahanrejo menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara (co-firing). Sedangkan 100 ton / hari akan dikelola dan direduksi secara terpadu di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) milik Pemkab Gresik.
“Total sampah harian kita sebenarnya sekitar 450 ton. Dengan pembagian 250 ton dikirim ke Benowo, 100 ton diolah di Belahanrejo, dan sisa 100 ton ditangani di TPA, insyaallah pengelolaan sampah di Gresik akan jauh lebih aman dan terkendali,” tegas Sri.
Kendati demikian, Sri menekankan bahwa keberhasilan skema besar ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Pengurangan serta pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga tetap menjadi benteng utama penanganan dari sumbernya.
“Dengan kolaborasi seluruh elemen masyarakat dari proses pemilahan di rumah, sampah yang selama ini dianggap masalah justru bisa berubah menjadi energi yang bermanfaat,” pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik