Sidayu – Ratusan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Gresik mendapat pembekalan tentang pentingnya menabung dan menggunakan layanan keuangan secara aman. Pesan tersebut disampaikan dalam Puncak Bulan Literasi Keuangan dan Hari Indonesia Menabung (HIM) dengan tema “Merajut Masa Depan Melalui Literasi dan Inklusi Keuangan” di SRT 1 Gresik, Desa Raci Tengah Sidayu.
Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal literasi keuangan sejak dini. Mereka diajak memahami hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti menyisihkan uang untuk ditabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta berhati-hati ketika menggunakan gadget dan layanan digital.
Anggota Komisi XI DPR RI, Thoriq Majiddanor mengingatkan siswa agar mengenal bahaya pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol). Ia mengajak anak-anak membangun kebiasaan mengelola uang sejak sekarang.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti menabung dapat menjadi langkah awal untuk belajar mengatur keuangan. Sebaliknya, kebiasaan menghabiskan uang untuk hal yang tidak penting dapat menimbulkan masalah di kemudian hari.
“Menabung bisa membuat masa depan adik-adik lebih aman. Lebih baik menabung daripada berutang,” kata Jiddan.
Sementara itu, Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) 1 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur Nasirwan Ilyas mengajak siswa mulai mengenal cara menggunakan teknologi secara aman.
Menurutnya, anak-anak saat ini semakin dekat dengan gadget dan berbagai layanan digital. Karena itu, mereka perlu mengetahui bahwa kemudahan teknologi juga memiliki risiko jika digunakan tanpa kehati-hatian.
Nasirwan memberikan contoh sederhana. Siswa tidak boleh sembarangan memberikan password, PIN, kode OTP, maupun informasi pribadi kepada orang lain.
“Banyak kejadian ketika kita tidak berhati-hati akhirnya menjadi korban. Jangan sampai password diberikan kepada orang lain sehingga tabungan bisa dicuri,” katanya.
Ia menekankan, literasi keuangan bukan hanya tentang mengetahui cara menabung atau menggunakan produk keuangan. Literasi keuangan juga berarti mampu menjaga uang dan data pribadi agar tetap aman.
Pesan penting lainnya datang dari Bupati Gresik ke-7 Sambari Halim Radianto. Di hadapan ratusan siswa, Sambari memberikan motivasi agar mereka tidak minder dengan kondisi keluarga maupun lingkungan tempat tinggal.
Sambari menceritakan masa kecilnya yang penuh keterbatasan. Ia lahir di Desa Golokan, Kecamatan Sidayu, dan pernah mengalami kesulitan untuk bersekolah.
“Saya juga lahir dari desa terpencil, Golokan Sidayu. Masa kecil saya tidak mudah karena sempat tidak bisa sekolah. Untuk biaya sekolah, saya harus mencari rombeng dari Gresik sampai Manukan, Surabaya,” ungkapnya.
Menurut Sambari, kondisi sulit bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia meminta para siswa terus belajar, memiliki semangat, dan tidak malu dengan latar belakang mereka.
“Tidak perlu minder. Kuncinya hanya semangat,” pesannya.
Kepala SRT 1 Gresik Rangga Pratama Wahyudiarta mengatakan, Sekolah Rakyat merupakan program yang diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Saat ini, SRT 1 Gresik memiliki sebanyak 405 siswa. Seluruh siswa mendapatkan pendidikan tanpa dipungut biaya.
“Sekolah Rakyat adalah program yang nantinya bisa membawa Indonesia menuju generasi emas 2045,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab dan kuis berhadiah. Para siswa terlihat antusias menjawab pertanyaan yang diberikan sekaligus menunjukkan pemahaman mereka mengenai pentingnya menabung dan menggunakan teknologi secara aman.
"Kami berharap kegiatan penguatan literasi keuangan yang dikenalkan sejak bangku sekolah melalui cara yang sederhana dan mudah dipahami dapat mendorong siswa melakukan kegiatan bermanfaat seperti menabung, tidak boros, serta menjaga password dan data pribadi menjadi bekal penting bagi siswa untuk tumbuh menjadi generasi yang mandiri dan bijak mengelola keuangan," pungkas Rangga.
Editor : Cak Fir