DKG Periode 2026-2029 Resmi Dilantik, Pemkab Gresik Dorong Kebudayaan Jadi Mitra Riset Pembangunan

Hany Akasah • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:53 WIB
PELANTIKAN DKG: Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif secara resmi melantik pengurus Dewan Kebudayaan Gresik (DKG) periode 2026–2029 di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik. (Foto: Istimewa/Radar Gresik)
PELANTIKAN DKG: Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif secara resmi melantik pengurus Dewan Kebudayaan Gresik (DKG) periode 2026–2029 di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik. (Foto: Istimewa/Radar Gresik)

RADAR GRESIK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik mendorong Dewan Kebudayaan Gresik (DKG) tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya para pelaku seni dan budaya.

Lebih dari itu, DKG diharapkan berkembang menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam melakukan riset serta perencanaan arah pembangunan daerah.

Amanat tersebut disampaikan Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, saat menghadiri Pelantikan Pengurus Dewan Kebudayaan Gresik (DKG) periode 2026–2029 di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik, Kamis (20/8/2026). Momentum pelantikan ini sekaligus menandai kepemimpinan Irfan Akbar Prawiro yang kembali dipercaya menjabat sebagai Ketua DKG untuk periode kedua.

Baca Juga: Ancaman Kemarau Panjang, Pemkab dan DPRD Gresik Tambah Anggaran untuk Air Bersih

Wabup Alif menegaskan bahwa Gresik memiliki fondasi kebudayaan yang kokoh di tengah pesatnya status daerah sebagai salah satu pusat industri terbesar di Jawa Timur.

Nilai-nilai lokal itu tecermin dari tradisi keagamaan, kesenian, keanekaragaman dialek, hingga pengetahuan lokal yang masih terpelihara di tengah masyarakat.

"Gresik tidak hanya dikenal sebagai kota industri. Ketika orang masuk lebih jauh ke desa-desa, mereka akan menemukan wajah Gresik yang berbeda. Tradisi, budaya, dan nilai-nilai masyarakatnya masih sangat kuat," ujar Alif, Kamis (20/8/2026).

Baca Juga: Bentengi Generasi Muda dari Kenakalan Remaja, Kejari Gresik Edukasi Kesadaran Hukum Siswa

Ia menambahkan, pembangunan daerah tidak boleh hanya diukur dari megahnya infrastruktur dan angka pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga dari ketahanan karakter dan identitas kulturalnya.

"Kita ingin Gresik maju secara ekonomi, tetapi tidak kehilangan jati dirinya. Pembangunan di wilayah utara tentu tidak selalu bisa disamakan dengan wilayah selatan. Masing-masing kawasan memiliki karakter, sejarah, dan budaya yang berbeda," tandasnya.

Sementara itu, Ketua DKG Periode 2026–2029, Irfan Akbar Prawiro, menyampaikan bahwa pada periode kepemimpinan keduanya ini, DKG berkomitmen memperkuat posisinya sebagai lembaga riset kebudayaan berbasis bottom-up.

Baca Juga: Kejar Pancing yang Disambar Ikan, Pemancing Asal Menganti Gresik Hilang Tenggelam di Tambak

Irfan mencontohkan kekayaan bahasa lokal seperti bahasa Jawa dan Bawean dengan beragam dialeknya, peninggalan arkeologis, serta local wisdom masyarakat dalam membaca sains alam—seperti navigasi rasi bintang para nelayan maupun sistem penanda banjir.

"Pengetahuan tradisional itu perlu didokumentasikan dan diteliti secara terstruktur agar tidak hilang. DKG berharap bisa meriset dan menulis dari bawah untuk memberikan perspektif baru bagi pemerintah dalam merancang tata ruang serta masa depan Gresik," terang Irfan.

Dukungan penuh juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Kabupaten Gresik, Saifudin Ghozali.

Baca Juga: Kejar Pancing yang Disambar Ikan, Pemancing Asal Menganti Gresik Hilang Tenggelam di Tambak

Pihaknya menyatakan telah menyusun serangkaian program kerja sama kebudayaan bersama DKG untuk anggaran 2027, serta agenda kolaborasi bersama Dewan Kesenian Jawa Timur yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. (han) 

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik
dewan kebudayaan Pemkab gresik ASLUCHUL ALIF seni