Atasi Kekeringan 200 Hektare Sawah di Gresik, Mentan Amran Siapkan Pompa dan Sumur Dangkal

Fajar Yuliyanto • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 17:16 WIB
DAMPINGI: Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman bersama Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak dan Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif saat mengecek kondisi lahan pertanian terdampak kekeringan di Kecamatan Benjeng, Gresik. (Foto : Fajar/Radar Gresik)
DAMPINGI: Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman bersama Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak dan Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif saat mengecek kondisi lahan pertanian terdampak kekeringan di Kecamatan Benjeng, Gresik. (Foto : Fajar/Radar Gresik)

RADAR GRESIK – Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, langsung turun mengecek lokasi lahan pertanian yang terdampak kekeringan di Desa Munggugianti, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Pemerintah bergerak cepat memastikan petani tetap mendapatkan pasokan air di tengah ancaman kekeringan yang melanda di sejumlah wilayah.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, Kepala Dinas Pertanian Jatim, Dinas Pertanian Surabaya, Dinas Pertanian Gresik, Eko Anindito Putro, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Dhiannita Tri Astuti dan lainnya.

Mentan Amran mengatakan bahwa kekeringan yang melanda lahan pertanian lebih dari 200 hektare tidak boleh dianggap sepele. Pemerintah, harus hadir dengan solusi nyata dan cepat di lapangan.

Baca Juga: Sukses Kelola Sampah Berbasis Warga, Petrokimia Gresik Raih Predikat Gold di Ajang 6th TJSL & CSR Award 2026

“Nah, 200 hektare ini kita tidak boleh anggap remeh. Sekecil apa pun, kita bisa memberikan solusi di lapangan,” kata Amran, Selasa, (11/8).

Menurutnya, pemerintah menyiapkan dua langkah utama untuk mengatasi persoalan tersebut. Bagi lahan yang masih memiliki sumber air di sekitar area persawahan, pemerintah akan memberikan bantuan pompa agar air bisa segera dialirkan ke lahan pertanian.

“Yang ada sumber air dekat dari sawah yang kekeringan, kita berikan pompa langsung. Tidak ada basa-basi, tidak ada birokrasi panjang, langsung kita berikan pompa,” ucapnya.

Sementara untuk lahan yang tidak memiliki sumber air di sekitar persawahan, pemerintah akan menyiapkan sumur dangkal sebagai alternatif sumber pengairan.

“Yang tidak ada sumber air, kita buat sumur dangkal. Ini untuk memitigasi risiko kekeringan,” ujarnya.

Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, Tim Pengabdian Masyarakat UISI dan CSR PT Smelting Gelar Workshop Strategi Digital dan Service Excellent

Lebih lanjut, Amran menambahkan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga produksi pangan nasional sekaligus mengantisipasi dampak perubahan cuaca yang berpotensi mengganggu sektor pertanian.

Ia menyebut kondisi produksi beras di Jawa Timur (Jatim) saat ini relatif aman. Produksi beras Jawa Timur bahkan disebut mencapai sekitar 1,3 juta ton dan menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah.

“Alhamdulillah saat ini untuk Jawa Timur berasnya 1,3 juta, dan ini tertinggi sepanjang sejarah. Jadi kita tenang, tetapi kita tidak boleh lengah,” tegasnya.

Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, Tim Pengabdian Masyarakat UISI dan CSR PT Smelting Gelar Workshop Strategi Digital dan Service Excellent

Selain persoalan pengairan, Amran menyampaikan rencana perubahan regulasi terkait bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Menurutnya, selama ini masih terdapat buruh tani di berbagai daerah yang belum tersentuh bantuan akibat ketentuan regulasi.

“Insyaallah kami kembali ke Jakarta besok, kami ubah regulasi. Buruh tani boleh mendapatkan traktor, combine, alat tanam dan seterusnya,” jelas Amran sambil membagikan traktor dan beras kepada petani di lokasi.

Amran mengatakan proses pengajuan bantuan alsintan nantinya akan dibuat lebih sederhana. Pengajuan cukup melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), sehingga bantuan dapat lebih cepat diterima oleh petani yang membutuhkan.

“Kami terima PPL tanda tangan, kami terima di Jakarta, kami kirim alatnya kepada yang membutuhkan saat ini,” imbuhnya.

Baca Juga: Suarakan Keluhan Warga: DPRD Gresik Minta Normalisasi Sungai dan Perbaikan Jalan Rusak Dipercepat

Dalam kesempatan tersebut, Amran juga mendapat masukan terkait wilayah selatan Gresik yang hampir setiap tahun mengalami kekeringan. Salah satu solusi yang tengah didorong adalah pembangunan kolam retensi untuk menampung dan mengelola air.

Terkait kendala pembangunan kolam retensi, Amran menyatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Timur (Jatim).

Ia meminta agar pemerintah daerah menyampaikan surat resmi sehingga dapat segera dikoordinasikan dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

“Saya sudah bicara dengan Pak Gubernur. Nanti Pak Gubernur minta surat tertulis kepada saya, kemudian kami koordinasi dengan Menteri ATR/BPN. Kalau kepentingan rakyat, Presiden perintahkan, layani. Titik. Tidak usah basa-basi,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gresik, Eko Anindito Putro menyambut positif kunjungan Mentan tersebut. Menurutnya, bantuan pengairan akan sangat membantu petani, terutama di wilayah yang masih memiliki sumber air namun belum mampu mengalirkannya ke lahan.

Baca Juga: Ketua BAZNAS RI Puji Balai Ternak Gresik, Lahirkan Tradisi Infaq Tiga Kambing dan Disiapkan Jadi Eduwisata

“Kunjungan ini sangat positif. Karena kalau memang ada sumber airnya, pasti petani senang untuk bisa memanfaatkan air itu untuk tanaman,” kata Eko.

Ia menjelaskan, pemerintah saat ini juga telah memberikan sejumlah dukungan untuk meningkatkan pengairan lahan pertanian di Gresik.

“Bantuan tersebut meliputi 54 unit irigasi perpompaan, sembilan unit air perpipaan, serta 12 unit rehabilitasi irigasi tersier. Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap ancaman kekeringan tidak sampai mengganggu produktivitas pertanian dan ketahanan pangan di Kabupaten Gresik maupun Jawa Timur,” pungkasnya.

Diketahui, sekitar 222,9 hektar lahan pertanian di Jawa Timur terdampak kekeringan. Dari jumlah tersebut, 19,2 hektar berada di Kabupaten Gresik dengan wilayah terdampak paling parah berada di Kecamatan Benjeng dan Kecamatan Duduksampeyan.(jar/han) 

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik
kekeringan gresik Menteri Pertanian Benjeng Emil