“Semua harus bergerak, pemerihan, tokoh masyarakat, agama, sektor swasta. Semua pihak harus sungguh-sungguh bergerak, sesuai dengan lingkungan komunitasnya dan tanggungjawabnya, dimana dia harus bergerak," tegas Hamdi saat FGD di kantor DLH Gresik, kemarin.
Ia juga mengajak masyarakat menjaga lingkungan. Salah satu cara yang sederhana dan mudah dilakukan dengan cara memilah dan mengelola sampah. Setelah sampah dipisah, bank sampah yang akan bergerak. Ini merupakan bentuk fasilitasi pemerintah sehingga sampah dapat dikelola sebagai sumber daya.
"Sampah ini kalau kita pandai memperlakukannya dengan cara mengelolah dan memilahnya akan menjadi sumber daya. Sampah ini tidak menjadi jijik dan dapat meminimalisir bencana dengan nilai ekonomi yang dapat menghasilkan uang," ajak pria asal Menganti tersebut.
Menurutnya, kolaborasi pemangku kepentingan sangat penting untuk menciptakan ekosistem guna ulang yang masif. Perubahan besar-besaran ini membutuhkan keterlibatan dan komitmen semua pemangku kepentingan. “Pemerintah sebagai regulator; produsen, pengecer dan perusahaan lain sebagai sektor bisnis, serta masyarakat sebagai konsumen,” katanya.
Demi mewujudkan Gresik Zero Waste, pihaknya akan mendukung lomba pengelolaan sampah di tahun ini. "Kami usahakan di PAK, semoga lomba zero waste ini ada alokasi anggarannya, nanti bisa kolaborasi dengan media, seperti Radar Gresik" kata Hamdi.
Sementara itu, Pembina Bank Sampah Gemes Siti Fitriah mengatakan, berharap pemerintah bisa membuat program pengurangan sampah dari asal atau rumah. “Kemasan makanan, kemasan produk rumah tangga atau peralatan makan sekali pakai masih mencemari lingkungan,” jelasnya.
Meskipun terlihat lebih ekonomis, sampah kemasan sekali pakai sulit untuk didaur ulang, sehingga meningkatkan biaya pengelolaan sampah lokal dan menurunkan kualitas lingkungan bersama. “Problem sampah makin bertumpuk karena TPS nya di Gresik ini sudah tidak mampu menampung lagi,” kata Fitriah. (rir/han)
Editor : Hany Akasah