RADAR GRESIK – Musala asrama putra Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, ambruk saat proses pembangunan, Senin (29/9). Sejumlah santri menjadi korban tertimpa reruntuhan, sementara tim penyelamat dengan 15 ambulans dikerahkan ke lokasi untuk evakuasi dan pencarian.
Di balik insiden tragis ini, Ponpes Al Khoziny bukanlah pesantren biasa. Pesantren ini dikenal sebagai pusat lahirnya para ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) yang berperan penting dalam sejarah Islam di Indonesia.
Didirikan oleh KH Raden Khozin Khoiruddin, pondok ini awalnya menjadi tempat tinggal putranya, KH Moch Abbas, setelah kembali dari Mekkah sekitar tahun 1915–1920.
Sejak saat itu, Ponpes Al Khoziny berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan salaf yang fokus pada pengajaran kitab kuning dan tafsir Jalalain.
Sejarah mencatat, KH Hasyim Asy’ari pendiri Pesantren Tebuireng Jombang sekaligus pendiri NU—pernah menimba ilmu di pesantren ini. Demikian pula KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh perintis kebebasan berpikir di pesantren sekaligus penggerak awal NU.
Tak berhenti di situ, sejumlah nama besar lainnya juga pernah mondok di sini, seperti:
KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo)
KH Dimyati (Banten)
KH Umar (Jember)
KH Nawawi (pendiri Ma’had Arriyadl, Kediri)
KH Usman Al Ishaqi (Pesantren Al Fitrah, Kedinding Surabaya)
Keberadaan mereka menunjukkan betapa pentingnya Ponpes Al Khoziny dalam mencetak ulama yang kemudian menyebarkan Islam ke berbagai penjuru negeri.
Hingga kini, Ponpes Al Khoziny tetap mempertahankan tradisi pendidikan klasik pesantren, yakni penguasaan kitab kuning dengan bimbingan langsung para kiai.
Metode ini bukan hanya mencetak santri berilmu, tetapi juga menanamkan nilai spiritual yang kuat agar para alumninya mampu mengabdi bagi masyarakat.
Tragedi ambruknya musala pembangunan baru di pesantren bersejarah ini meninggalkan duka mendalam. Namun, di balik musibah tersebut, jejak sejarah Ponpes Al Khoziny yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar tetap menjadi pijakan penting bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia. (han)
Editor : Hany Akasah