RADAR GRESIK-Publik di Kabupaten Gresik mengapresiasi pelayanan kesehatan yang diberikan untuk peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Pelayanan ringkas dan terjangkau dirasakan Muhammad Masduki, 37 dari Desa Banjarsari Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik. Sebagai peserta JKN yang rutin berobat penyakit jantung, ia menyebut pelayanan kesehatan bagi peserta JKN mudah, cepat, dan sepenuhnya gratis.
”Tidak ada lagi yang perlu diperbaiki, sudah bagus pelayanannya. Dulu saya masih kerja dicover perusahaan, sekarang dibayar pemerintah,” ujar Masduqi kepada Radar Gresik, Kamis (30/11).
Selain kemudahan dan keterjangkauan, pelayanan kesehatan bagi peserta JKN UHC juga dianggap tidak ”pandang bulu”. Muhamamad Masduqi melihat tidak ada perbedaan perlakuan saat menerima pelayanan kesehatan.
"Awalnya, saya malu kok pakai UHC. Tapi pelayanan sama. Bahkan, umum pun sama," kata Masduqi.
Bapak tiga anak itu pun menceritakan awal mula dia terserang penyakit jantung di tahun 2019. Saat itu, dia masih bekerja di Surabaya. Setiap hari pulang pergi Surabaya - Gresik. Kebetulan rumahnya di Desa Banjarsari Kecamatan Cerme Gresik.
Saat bekerja, tiba-tiba dadanya sakit. Ia langsung ke Rumah Sakit Islam (RSI) Ahmad Yani Wonokromo, lokasi tedekat dia bekerja.
"Waktu itu saya tidak ada biaya, untungnya ada BPJS kesehatan yang diuruskan petugas desa di Gresik waktu itu. Saya langsung dirawat di IGD," kata Masduqi.
Dokter memberikan obat pengencer darah jenis antiplatelet untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah sehingga darah tetap dapat mengalir melalui pembuluh darah yang mengalami penyempitan.
Namun, kondisi penyumbatan yang dialami Masduqi mencapai 80 persen. Maka perlu obat penghancur gumpalan darah (fibrinolitik) yang waktu itu hanya disediakan di RS tipe A.
"Saya dirujuk ke RSUD dr Soetomo. Saya sempat kepikiran bayar tapi tidak ada sama sekali. Ambulans pun gratis diantar dari RSI Wonokromo ke RSUD dr Soetomo," kenang Masduqi.
Sesampainya ke RSUD dr Soetomo, dirinya diberikan obat fibrinolitik. Seminggu opname, sebulan kemudian dia melakukan operasi pemasangan ring. "Tidak keluar biaya sama sekali," kata Masduqi.
Sudah lama menggunakan BPJS Kesehatan, Masduqi merasakan betul perkembangan pelayanan RS.
Pada tahun 2017, ketika mengurus pengobatannya di RS diperlukan berkas fotokopi yang cukup banyak. Misal, mengambil obat menunjukkan kartu BPJS Kesehatan dan memberikan fotokopian.
Tapi, pelayanan BPJS Kesehatan kini sungguh mudah. Dirinya cukup menunjukkan aplikasi Mobile JKN. Setelah operasi di RS dr Soetomo, dirinya juga mudah meminta rujukan di RS Ibnu Sina Gresik. Lokasi rumah sakit terdekatnya.
"Saya itu jadi pasien BPJS Kesehatan sejak 2014. Jarang saya pakai, dipakai pertama ya pas saya kena serangan jantung 2017 hingga sekarang. Dari yang dulu dibayari perusahaan dan kini dibiayai pemerintah. Saya merasakan pelayanannya terus membaik," kata Masduqi.
Saat ini, Masduqi rutin berobat sebulan sekali ke RSUD Ibnu Sina. Ia menjadi pasien poli jantung yang aktif periksa dan berobat. "Kalau sudah kena jantung gini harus rutin, kontrol tekanan darah, gula darah. Obat tidak pernah berhenti," kata Masduqi.
Dengan pelayanan yang makin membaik itu, Masduqi berharap BPJS Kesehatan terus bisa berkembang.
"Sistem support subsidi silang ini menurut saya tepat. Waktu saya kerja dulu dibiayai perusahaan, pas saya kena jantung dan tidak bekerja seperti ini dibantu pemerintah. Tapi, tak pernah ada perbedaan pelayanan. Sama-sama pelayanan baik petugas BPJS Kesehatannya baik, obatnya juga sama. Terima kasih BPJS Kesehatan," kata Masduqi. (*)
Editor : Hany Akasah