RADAR GRESIK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik sukses menyabet penghargaan bergengsi dalam ajang Radar Surabaya Awards 2026. DLH Gresik dinobatkan sebagai Pelopor Implementasi Teknologi Terintegrasi Landfill Mining dan Pengelolaan Sampah dari Hulu ke Hilir melalui gerakan Gresik Kawasan Merdeka Sampah (GKMS).
Apresiasi ini diberikan atas langkah revolusioner Pemkab Gresik dalam mengatasi krisis lingkungan hidup dan keterbatasan lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Keberhasilan ini tidak terlepas dari keberanian DLH Gresik dalam mengoperasikan teknologi Landfill Mining di TPA Ngipik sejak awal tahun 2026. Inovasi yang didanai melalui APBD 2025 sebesar Rp6 miliar ini menjadi jawaban konkret atas kondisi TPA Ngipik yang telah mengalami overload hingga 90 persen.
Baca Juga: Dipicu Bau Menyengat Bikin Warga Sesak Napas, DLH Gresik Segel Gudang Solar Refinery di Desa Suci
Melalui teknologi penambangan sampah tersebut, tumpukan sampah lama yang tertimbun lebih dari 10 tahun dikeruk dan diolah kembali menggunakan mesin terintegrasi agar lahan TPA dapat dikosongkan dan digunakan ulang.
Kepala DLH Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, menuturkan bahwa berdasarkan kajian teknis, lahan TPA sebenarnya telah melampaui kapasitas sejak tahun 2018. Mengingat perluasan lahan baru di wilayah perkotaan sangat sulit didapat, kehadiran teknologi ini menjadi solusi yang sangat krusial.
“Inovasi ini dilakukan karena TPA kami hampir 90 persen overload. Karena lahan sangat sulit didapat dan kami ingin membuat TPA baru tetapi terbatas lahan, maka dengan adanya alat ini, setelah dikeruk lahan tersebut bisa digunakan kembali,” ungkap Sri Subaidah.
Fasilitas modern di TPA Ngipik ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 25 ton sampah per jam atau setara 250 ton per hari jika dioperasikan selama 10 jam. Sistem ini mengintegrasikan tujuh alat utama, mulai dari Hopper Conveyor, Vibrating Screen, Desk Sorting, Horizontal Chopper, Mobile Trommel Screen, hingga Double Shaft Shredder.
Rangkaian canggih ini mengonversi sampah anorganik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara bagi mitra industri seperti PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pabrik Tuban dan Rembang, sedangkan fraksi organik dimanfaatkan menjadi media tanam dan tanah uruk.
Penghargaan ini juga ditopang oleh agresivitas program di sisi hulu melalui gerakan GKMS. Edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga terbukti efektif mengelola 114.748 ton (77,32 persen) dari total 147.832 ton timbulan sampah sepanjang 2025.
Usai menerima penghargaan, Sri Subaidah menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kepercayaan media dan menegaskan komitmennya untuk menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Integrasi hulu-hilir ini sebelumnya juga membawa Gresik meraih predikat Menuju Kabupaten Bersih 2025 dari KLH/BPLH.
"Award ini adalah sebuah amanah yang harus kami pertanggungjawabkan di hadapan Allah dan masyarakat, sekaligus pemicu semangat untuk bekerja lebih baik. Mari kita bersinergi dan berkolaborasi karena menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan kewajiban moral dan sosial bagi kita semua," pungkas Sri Subaidah. (rir/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik