Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Senator Lia Istifhama: Sosok Kartini Milenial dari Bumi Majapahit yang Membawa Aspirasi Jatim ke Senayan

Hany Akasah • Rabu, 22 April 2026 | 20:43 WIB
Cantik: Senator Jatim Lia Istifhama tampil menawan dengan kebaya dan batik. (Dok/Radar Gresik)
Cantik: Senator Jatim Lia Istifhama tampil menawan dengan kebaya dan batik. (Dok/Radar Gresik)
RADAR GRESIK - Nama Lia Istifhama, semakin dikenal sebagai salah satu politisi perempuan berpengaruh di Indonesia. Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur ini dinilai merepresentasikan wajah baru demokrasi yang lebih partisipatif, inklusif, dan dekat dengan masyarakat.
 
Pada Pemilu 2024, Lia Istifhama meraih 2.739.123 suara, menjadikannya salah satu senator dengan legitimasi elektoral kuat. Capaian ini tidak hanya menunjukkan dukungan publik, tetapi juga memperlihatkan keberhasilan pendekatan komunikasi politik yang partisipatif dan membumi.
 
Baca Juga: Perkuat Langkah Preventif, Lia Istifhama Dorong Kolaborasi Sektor Kesehatan dan Pendidikan untuk Mental Anak
 
Dalam perspektif demokrasi partisipatoris yang dikemukakan oleh Carole Pateman, kehadiran aktor politik yang mampu menjembatani aspirasi masyarakat secara langsung menjadi indikator kualitas demokrasi. Hal ini tercermin dalam kiprah Lia yang aktif turun ke masyarakat dan menyerap aspirasi secara langsung.
 
Secara sosiologis, latar belakang Ning Lia yang tumbuh dalam tradisi Nahdlatul Ulama turut membentuk karakter kepemimpinannya. Nilai-nilai moderasi, inklusivitas, dan keberpihakan pada masyarakat akar rumput menjadi fondasi dalam aktivitas politiknya, khususnya di Jawa Timur sebagai basis nahdliyin.
 
Dalam perspektif antropolog Clifford Geertz, budaya lokal memiliki peran penting dalam membentuk pola kepemimpinan. Hal ini tampak pada sosok Lia yang mampu memadukan identitas kultural dengan praktik demokrasi modern.
Baca Juga: Inspirasi Kartini Modern, DPD RI Dr Lia Istifhama, M.E.I Politisi Perempuan Penguatan Demokrasi
 
Dari sisi akademik, putri KH Maskur Hasyim ini menempuh pendidikan di Universitas Airlangga dan UIN Sunan Ampel Surabaya hingga meraih gelar doktor di bidang Ekonomi Islam. Dalam teori Pierre Bourdieu, capaian tersebut menjadi “modal kultural” yang memperkuat posisinya dalam arena politik.
Modal intelektual ini tercermin dalam gagasan kebijakan yang diusung, terutama di bidang pendidikan, ekonomi syariah, serta transformasi digital. Selain itu, Lia juga aktif dalam literasi publik melalui tulisan, buku, hingga karya kreatif.
 
Dalam perspektif Jürgen Habermas, ruang publik yang sehat ditopang oleh pertukaran gagasan yang rasional dan inklusif. Aktivitas literasi Lia dinilai mampu memperluas komunikasi politik dari yang sebelumnya elitis menjadi lebih populer dan mudah diakses, terutama oleh generasi muda.
 
Baca Juga: Atasi Banjir Tahunan, 43 Bangunan Liar di Atas Saluran Irigasi Driyorejo Gresik Dibongkar
 
Momentum Hari Kartini 2026 semakin menegaskan peran Ning Lia sebagai representasi perempuan dalam politik. Dalam teori Hanna Pitkin, kehadiran perempuan dalam politik tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga harus memperjuangkan kepentingan kelompoknya.
 
Hal ini terlihat dari keterlibatannya dalam organisasi perempuan seperti Perempuan Tani HKTI dan Fatayat NU, yang menunjukkan keberpihakan terhadap isu perempuan dan kelompok marginal.
 
Di parlemen, Ning Lia juga aktif menyoroti berbagai isu strategis. Ia mendorong penguatan perlindungan konsumen melalui optimalisasi Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), serta mengkritisi kendala penganggaran dan lemahnya kekuatan eksekusi putusan lembaga tersebut.
 
Baca Juga: Bioetanol Bisa Jadi Solusi Saat Minyak Langka? Ini Apresiasi Lia Istifhama atas Langkah Presiden Prabowo
 
Selain itu, senator cantik itu juga menyoroti pentingnya keadilan dalam kebijakan Dana Bagi Hasil (DBH) Cukai Hasil Tembakau, serta mengingatkan bahwa pelanggaran HAM tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga mencakup kekerasan seksual dan diskriminasi.
 
Dengan gaya komunikasi yang lugas, humanis, dan dikenal “wani mudhun ngisor” atau berani turun langsung ke masyarakat, Lia dinilai mampu menghapus stigma negatif terhadap politik, khususnya di kalangan generasi muda.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran politik generasi muda sebagai bagian dari keberlanjutan demokrasi.
 
“Kartini memberikan kita tanggung jawab sejarah. Generasi muda harus disadarkan bahwa merekalah pemimpin masa depan, sehingga tidak boleh apatis terhadap politik,” ujarnya dalam salah satu kesempatan.
 
Baca Juga: Dukung Ketegasan Presiden Prabowo, Senator Lia Istifhama Soroti Ironi Impor Kakao Senilai Rp 18,7 Triliun
 
Kombinasi antara legitimasi elektoral, kedekatan sosial, kapasitas intelektual, dan kreativitas budaya menjadikan Lia Istifhama sebagai representasi “Kartini milenial” di era transformasi demokrasi.
 
Di tengah dinamika politik modern, kehadiran politisi perempuan seperti Lia tidak hanya memperkuat partisipasi politik, tetapi juga menghadirkan harapan akan demokrasi yang lebih responsif, inklusif, dan berkeadaban. (*)
Editor : Hany Akasah
#cantik #senator #gresik #kartini #Lia Istifhama