RADAR GRESIK - Apresiasi terhadap Lia Istifhama sebagai politisi perempuan tidak dapat dilepaskan dari konteks penguatan demokrasi substantif di Indonesia. Dalam kerangka teori demokrasi partisipatoris yang dikemukakan oleh Carole Pateman, kehadiran aktor politik yang mampu menjembatani aspirasi masyarakat secara langsung menjadi indikator penting kualitas demokrasi.
Lia Istifhama, sebagai wajah baru dalam Pemilu 2024 dengan raihan 2.739.123 suara, merepresentasikan munculnya figur politik perempuan yang tidak hanya memperoleh legitimasi elektoral tinggi, tetapi juga mampu membangun kedekatan emosional dengan konstituen melalui pendekatan partisipatif dan komunikatif.
Secara sosiologis, latar belakang Ning Lia sapaan akran Lia Istifhama yang berakar kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama memperlihatkan bagaimana identitas kultural dan religius dapat berkelindan dengan praktik demokrasi modern. Dalam perspektif Clifford Geertz, budaya lokal memainkan peran penting dalam membentuk pola kepemimpinan politik.
“DNA NU” yang melekat pada dirinya tidak hanya menjadi identitas simbolik, tetapi juga menjadi basis nilai moderasi, inklusivitas, dan keberpihakan pada masyarakat akar rumput, khususnya di Jawa Timur yang dikenal sebagai basis kuat nahdliyyin.
Dari sisi intelektual, perjalanan akademik putri KH Maskur Hasyim itu menunjukkan integrasi antara ilmu dan praksis politik. Pendidikan lintas disiplin yang ditempuhnya di Universitas Airlangga dan UIN Sunan Ampel Surabaya hingga meraih gelar doktor Ekonomi Islam mencerminkan apa yang disebut Pierre Bourdieu sebagai “modal kultural” dalam arena politik.
Modal ini memperkuat kapasitasnya dalam merumuskan gagasan kebijakan yang tidak hanya populis, tetapi juga berbasis pada kerangka akademik yang kuat, khususnya dalam isu pendidikan, ekonomi syariah, dan transformasi digital.
Lebih jauh, produktivitasnya dalam literasi dan karya kreatif memperlihatkan peran politisi sebagai agen diskursus publik. Dalam tradisi pemikiran Jürgen Habermas, ruang publik yang sehat ditopang oleh pertukaran gagasan yang rasional dan inklusif.
Baca Juga: Apresiasi Tanpa Sekat, Kapolres Gresik Bakar Semangat Anggota Lewat Tradisi Tasyakuran
Artikel, buku, hingga karya seni musik yang dihasilkan Lia menjadi medium artikulasi gagasan politik yang lebih membumi, sekaligus menjangkau generasi muda. Pendekatan ini memperluas spektrum komunikasi politik dari yang semula elitis menjadi lebih kultural dan populer.
Dalam konteks gender di momen Hari Kartini 2026 ini, kehadiran Ning Lia juga memperkuat representasi perempuan dalam politik Indonesia. Teori representasi deskriptif dan substantif menurut Hanna Pitkin menegaskan bahwa kehadiran perempuan tidak hanya penting secara simbolik, tetapi juga harus mampu memperjuangkan kepentingan kelompoknya.
Aktivitas Ning Lia dalam berbagai organisasi perempuan, seperti Perempuan Tani HKTI dan Fatayat NU, menunjukkan keberpihakan nyata terhadap isu-isu perempuan dan kelompok marginal, sekaligus memperkuat demokrasi inklusif.
Sosok Ning Lia Istifhama mencerminkan transformasi wajah demokrasi Indonesia di era digital dan generasi baru. Kombinasi antara legitimasi elektoral, kedekatan sosial, kapasitas intelektual, dan kreativitas budaya menjadikannya representasi politisi perempuan yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Dalam lanskap demokrasi yang terus berkembang seperti saat ini, politisi perempuan seperti Ning Lia tidak hanya memperkuat partisipasi politik, tetapi juga menghadirkan harapan akan demokrasi yang lebih responsif, inklusif, dan berkeadaban. (han)
Editor : Hany Akasah