RADAR GRESIK – Suasana khidmat menyelimuti Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik pada Selasa siang. Seorang warga negara asing asal China yang sehari-hari bekerja di Kabupaten Gresik resmi mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dan memeluk agama Islam.
Prosesi sakral tersebut dipandu langsung oleh Ketua Umum MUI Kabupaten Gresik, KH. Ainur Rofiq Thoyyib.
Dalam prosesi tersebut, mualaf bernama Liu Zhongxin mendapatkan pembekalan mendalam tentang pentingnya mempelajari syariat Islam secara bertahap, memperkuat tauhid, serta membangun akhlak mulia sebagai fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim.
Baca Juga: Jadi Ujung Tombak Dakwah, MUI Gresik Siapkan Kader Penggerak di Tingkat Desa
Sebelum memandu pembacaan syahadat, KH. Ainur Rofiq Thoyyib menyampaikan sejumlah nasihat bijak agar sang mualaf tidak merasa terbebani dalam proses awal mempelajari agama barunya.
"Masuk Islam itu adalah awal perjalanan. Jangan merasa harus langsung bisa semuanya. Belajarlah setahap demi setahap, sebagaimana anak kecil yang belajar berjalan. Yang penting terus belajar dan jangan berhenti," pesan Kiai Rofiq.
Kiai Rofiq menerangkan bahwa seorang mualaf sama sekali tidak dituntut untuk langsung menguasai seluruh ajaran Islam dalam waktu singkat. Hal yang paling utama dan dihargai dalam Islam adalah adanya kemauan dan niat yang tulus untuk terus berproses memperbaiki diri dari hari ke hari.
Baca Juga: Matangkan Strategi Program 2026, MUI Gresik Gelar Work Session Penguatan Kolaborasi Antar-Komisi
"Kalau shalat belum hafal semua bacaannya, tidak apa-apa. Mulailah dari Al-Fatihah. Setelah itu belajar surat-surat pendek, belajar gerakan shalat, kemudian belajar ibadah yang lain. Islam mengajarkan proses, bukan memaksa seseorang menjadi sempurna dalam sekejap," ujarnya menenangkan.
Di samping itu, Kiai Rofiq menekankan bahwa hal yang jauh lebih krusial untuk dijaga melebihi sekadar tata cara ibadah fisik adalah memperkuat pondasi keimanan atau tauhid di dalam dada.
"Yang harus dijaga adalah iman. Jangan sampai setelah masuk Islam justru keluar lagi. Karena itu, pondasi tauhid harus benar-benar kuat," tuturnya.
Sembari mengutip makna luhur dari firman Allah dalam Surah Al-Ikhlas, Kiai Rofiq mengajak pemuda berusia 26 tahun tersebut untuk meyakini sepenuhnya keesaan Allah SWT.
"Qul huwallahu ahad. Allah itu Esa. Semua yang ada di alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Itu yang harus kita yakini dan kita akui dalam hati," jelas Kiai Rofiq.
Ia juga kembali mengingatkan bahwa perjalanan belajar Islam tidak boleh berhenti pada koridor syariat semata.
"Jangan hanya belajar syariat. Belajarlah juga tentang tauhid. Kita harus beriman kepada Allah, kepada malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir, serta qada dan qadar. Semua itu adalah pondasi yang akan menguatkan keislaman seseorang," katanya.
Tidak lupa, Kiai Rofiq menggarisbawahi pentingnya perubahan perilaku dan akhlak yang nyata setelah seseorang memeluk agama Islam.
"Nabi Muhammad SAW bersabda, innama bu'itstu liutammima makarimal akhlaq, sesungguhnya beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Maka setelah masuk Islam harus ada perubahan perilaku," ujarnya.
Sebagai contoh konkret, Kiai Rofiq berpesan agar kebiasaan-kebiasaan lama yang kurang baik secara perlahan mulai ditinggalkan.
"Kalau dulu terbiasa minum khamr, hentikan. Kalau hubungan dengan orang tua kurang baik, perbaiki. Walaupun orang tua masih berbeda agama, tetap wajib dihormati, disayangi, dan diperlakukan dengan baik. Islam mengajarkan akhlak kepada semua manusia," pesan Kiai Rofiq dengan penuh kehangatan.
Baca Juga: Semangat Pengabdian untuk Umat, MUI Gresik Gelar Halaqah Pengembangan Organisasi
Usai resmi mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lancar, Liu Zhongxin yang bekerja di PT. Xinyi Glass, Kecamatan Manyar, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam atas jalan hidup baru yang ia pilih.
"Saya masuk Islam karena kemauan saya sendiri. Tidak ada seorang pun yang memaksa saya. Ini adalah keputusan yang saya ambil dengan kesadaran dan keyakinan saya," ungkap Liu dengan mantap.
Liu bercerita bahwa agama Islam sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing baginya. Di negara asalnya, China, ia sudah mengetahui keberadaan komunitas Muslim. Namun, ketertarikannya untuk mengenal Islam secara lebih mendalam justru tumbuh subur ketika ia mulai tinggal dan bekerja di Indonesia.
Baca Juga: Maksimalkan Dana Umat, Senator Lia Istifhama Dorong Sinergi PDUF MUI Jatim dengan Program CSR
"Di China juga ada orang Islam. Jadi saya sudah tahu bahwa Islam adalah salah satu agama yang dianut banyak orang. Tetapi saya mulai lebih mengenal Islam ketika tinggal di Indonesia," kenangnya.
Menurut penuturan Liu, interaksi sehari-hari dengan masyarakat lokal di Indonesia memberikan impresi yang sangat positif dalam benaknya.
"Saya melihat orang-orang Islam di Indonesia sangat ramah. Mereka menghargai orang lain, suka menolong, dan menerima saya dengan baik. Dari situ saya mulai tertarik untuk belajar lebih banyak tentang Islam," tuturnya.
Faktor lain yang memperkuat keyakinannya adalah kedekatannya dengan seorang perempuan asal Tangerang bernama Anisa, di mana mereka berdua memang berencana untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa hidayah yang merasuk ke hatinya murni karena keyakinan pribadi.
Baca Juga: Hendak Cuci Piring, Warga Menganti Gresik Dikagetkan Ular Kobra Bersembunyi di Bawah Kabinet Dapur
"Saya mengenal Anisa dan kami berencana menikah. Tetapi keputusan masuk Islam bukan karena dipaksa. Saya memang ingin menjadi seorang Muslim karena saya percaya dan yakin," tegas Liu.
Seluruh rangkaian prosesi ikrar mualaf yang berlangsung syahdu ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Sekretaris MUI Kabupaten Gresik, KH. Muhsin Munhamir.
Kegiatan tersebut juga dihadiri dan disaksikan langsung oleh Sekretaris Umum MUI Kabupaten Gresik Makmun, Ketua Bidang Dakwah, Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Drs. Nur Fakih, Sekretaris Drs. H. Awaluddin, serta Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Syariah H. Harianto. (nov/han)
Editor : Hany Akasah