RADAR GRESIK – Indikasi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Bio Solar mulai dirasakan oleh para pengguna jalan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kabupaten Gresik.
Fenomena keterbatasan stok ini terlihat jelas dari papan pengumuman bertuliskan "Bio Solar Belum Tersedia" yang terpampang di SPBU 54.611.20, Jalan Raya Gresik–Lamongan, atau tepat di sebelah Masjid Ahmad Dahlan, Bunder, Gresik.
Kondisi ini pun mulai memicu perhatian serius, khususnya dari para pengemudi armada angkutan barang yang menggantungkan operasional harian mereka pada BBM bersubsidi tersebut.
Baca Juga: Aksi Demo LSM Luar Daerah di Wringinanom Menuai Penolakan dari Warga dan Pegiat Sosial Gresik
Kendati pasokan di kawasan Bunder dilaporkan kosong, situasi di beberapa titik lain di pusat Kabupaten Gresik terpantau masih relatif aman. Stok Bio Solar dikabarkan masih tersedia dan melayani pengisian di sejumlah titik strategis, seperti SPBU 54.611.06 di Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo, serta SPBU 54.611.01 dan SPBU 54.611.04 yang terletak di kawasan Jalan Veteran, Gresik.
Menanggapi kondisi tersebut, salah seorang sopir truk ekspedisi lintas provinsi, Yuda, mengungkapkan bahwa hambatan pasokan Solar di wilayah Jawa, khususnya di Gresik, sebenarnya masih jauh lebih mendingan jika dibandingkan dengan situasi ekstrem yang sempat ia jumpai di wilayah luar pulau.
“Kalau di Jawa untuk antrean di SPBU tidak separah di Sumatra. Di sana bisa antrean biasa satu hari satu malam, sedangkan di Gresik paling lama sekitar satu jam dan itu masih tergolong biasa,” urai pria yang kerap mengangkut muatan kertas dari Karawang, Jawa Barat menuju Kabupaten Gresik tersebut.
Yuda menambahkan bahwa dampak dari tersendatnya pasokan Solar di salah satu titik hilir masih bisa disiasati dengan manajemen perjalanan yang matang. Sepanjang rute yang ia lalui, para pengemudi umumnya saling berbagi informasi untuk melakukan pengisian estafet di SPBU berikutnya yang sekiranya masih memiliki ketahanan stok memadai.
“Untuk dampak kelangkaan Solar ini masih bisa diantisipasi. Kalau di satu SPBU tidak ada, biasanya di SPBU berikutnya masih tersedia,” ucap Yuda optimis.
Pandangan serupa juga dilontarkan oleh Sudirman, pengemudi angkutan berat lainnya. Berdasarkan pengalaman tahunan menarik kemudi di jalan raya, ia menilai bahwa fenomena keterbatasan atau pengetatan stok Solar di minggu-minggu krusial menjelang akhir bulan merupakan siklus reguler yang sudah sering terjadi akibat fluktuasi kuota pengiriman.
Baca Juga: Industri Gresik Utara Kian Masif, Pemkab dan Stakeholder Rancang Peta Jalan Tenaga Kerja Lokal
“Kalau awal bulan biasanya Solar ada. Namun kalau sudah pertengahan sampai akhir bulan sering tidak tersedia,” pungkas Sudirman memungkasi obrolan.
Kondisi tersendatnya distribusi pasokan Bio Solar di lapangan ini sendiri terjadi di tengah masa transisi penyesuaian harga pasar untuk lini BBM non-subsidi. Terhitung sejak pertengahan bulan ini, harga Pertamax di pasaran mengalami lonjakan signifikan dari semula Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Sementara itu, untuk harga BBM jenis Pertalite terpantau masih tertahan di angka Rp10.000 per liter, dan Solar subsidi stabil di nominal Rp6.800 per liter. (jar/han)
Editor : Hany Akasah