RADAR GRESIK – Komitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, dan bebas sampah plastik menjadi fokus utama dalam kegiatan Pengimbasan Program Gresik Sekolah Resik yang digelar di SMK Negeri 1 Driyorejo, Kamis (15/10/2026).
Agenda ini menjadi wadah berbagi praktik baik antarsekolah dalam membangun budaya peduli lingkungan sekaligus memperkuat karakter seluruh warga sekolah. Berdasarkan data Surat Undangan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Gresik, sebanyak 30 SMK se-Kabupaten Gresik diundang dalam kegiatan ini.
Sebanyak 25 sekolah hadir secara tatap muka langsung, sementara lima sekolah lainnya termasuk sekolah di wilayah Kepulauan Bawean mengikuti jalannya acara secara daring melalui Zoom Meeting.
Baca Juga: Cegah Penyakit Sejak Dini, Pegawai Dinkes Gresik Jalani Tes Kebugaran dan Skrining Kesehatan
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Gresik, Eko Agus Suwandi, S.Pd., M.M., menegaskan bahwa mewujudkan sekolah bersih dan sehat tidak selalu memerlukan program yang rumit atau bimbingan teknis formal.
"Hal terpenting adalah komitmen dasar serta keteladanan dari jajaran pimpinan dan tenaga pendidik yang kemudian ditiru oleh seluruh murid. Menurutnya, langkah sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi kemasan plastik sekali pakai adalah kunci perubahan perilaku secara berkelanjutan," ujar Eko.
Menariknya, program ini tidak hanya membawa dampak positif pada lingkungan fisik dan pembentukan keahlian lunak warga sekolah, tetapi juga memberi dampak ekonomi yang nyata.
Baca Juga: Mesin Blower Pabrik Kayu di Driyorejo Terbakar, Damkar Gabungan Dikerahkan ke Lokasi
Ibu-ibu pengelola kantin merasakan peningkatan omzet karena biaya pembelian kemasan sekali pakai dipangkas hingga nol. Sebagai gantinya, pihak kantin menyediakan piring serta gelas kaca, sementara para murid terbiasa membawa kotak makan dan gelas minum pribadi.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala SMKN 1 Driyorejo, Nunuk Isdanti, S.Pd., M.Pd., memaparkan rekam jejak transformasi sekolahnya yang bertajuk Progres Resik SKANDRY ASRI: Bergerak dalam Harmoni Budaya 5R. Perjalanan sekolah yang meraih predikat Sekolah RESIK pada awal tahun 2026 ini ditempuh melalui beberapa tahapan aksi nyata yang terstruktur.
"Pada Mei 2026, sekolah memulai mengajak dialog penekanan pengurangan sampah bersama pengelola kantin hingga berhasil menerapkan Kantin Zero Plastik sejak 20 Juli 2026," kata Nunuk.
Baca Juga: Cabang Dinas Pendidikan Gresik Salurkan Bantuan Biaya Pendidikan untuk 112 Siswa Prasejahtera
Nunuk menjelaskan pada tahap berikutnya pada Mei hingga Juli 2026 dilanjutkan dengan penerapan jalur pejalan kaki, penataan jalur evakuasi, hingga Deklarasi Komitmen Bersama Zero Plastic pada 13 Juli 2026.
"Kami juga sukses mengembalikan fungsi tempat parkir guru yang sebelumnya terpakai sebagai gudang dan tempat alat berat pada 21 Juli 2026," tambahnya.
Penguatan disiplin kerja dan optimalisasi lahan tidur berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026 melalui penataan jadwal kebersihan berkala. Bahkan sejak pencapaian bebas sampah plastik pada 20 Agustus 2026, area yang dulunya tempat sampah bertransformasi ditanami pohon pisang.
Baca Juga: Sisir Kafe Remang, Tim Gabungan Polres Gresik dan BNN Gelar Operasi Bersiih Narkoba
Memasuki Agustus hingga September 2026, langkah perbaikan berkelanjutan terus dilakukan lewat tantangan kelas resik, pembuatan mural, studi tiru, pembentukan petugas pengawas mutu, hingga pemanfaatan aplikasi digital untuk memonitor kebersihan kelas.
“Hikmah program Gresik sekolah resik bukan hanya sekedar tentang kebersihan fisik, melainkan sebuah komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang Resik, Empati, Sehat, Indah dan Komunikatif. Dengan lingkungan yang kondusif adalah kunci lahirnya karakter murid yang unggul,” ujar Kepala SMKN 1 Driyorejo, Nunuk Isdanti, S.Pd., M.Pd.
Puncak acara ditandai dengan sesi pengamatan langsung yang dipandu oleh Pipit Aji Puji Kusumawati, S.Pd., M.Pd. Sebanyak lima tim peserta diajak mengamati langsung penerapan nilai Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin (5R) di berbagai unit kerja vokasi, seperti bengkel TITL, TEI, TPM, studio DKV, laboratorium APL, BKK, hingga ruang Bimbingan Konseling.
Melalui pengamatan langsung dan refleksi bersama, peserta memperoleh gambaran nyata bahwa penataan area praktik vokasi membentuk budaya kerja profesional dan disiplin pada diri murid.
Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Gresik, Dian Oktaviana, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi tinggi atas progres konsisten yang ditunjukkan SMKN 1 Driyorejo.
"Kami berharap praktik baik ini dapat direplikasi oleh SMK lain di Kabupaten Gresik sehingga gerakan bebas sampah plastik dan budaya sekolah bersih menjadi kebiasaan hidup yang melekat di seluruh satuan pendidikan," pungkasnya. (rir/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik