RADAR GRESIK – Komitmen mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan nyaman terus digelorakan oleh Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Kabupaten Gresik.
Langkah konkrit ini diwujudkan melalui kegiatan studi tiru Program "Sekolah Resik" yang dipusatkan di SMAN 1 Manyar (SMANEMA), Kamis (1/10/2026).
Menjadi sekolah rujukan utama di Kota Pudak pascakegiatan serupa di SMA Muhammadiyah 10 (SMAMIO) Gresik, SMANEMA menyambut kedatangan sedikitnya 25 kepala sekolah. Forum ini dirancang sebagai ruang berbagi praktik baik (best practice) dalam tata kelola lingkungan dan kebersihan sekolah secara berkelanjutan.
Baca Juga: SMAN 1 Gresik Siapkan Skuad Terbaik Tatap Turnamen Bahlil Mini Soccer 2026 Zona 7
Rangkaian studi tiru diawali dengan pengarahan strategis dari Kepala Cabdin Wilayah Kabupaten Gresik, Eko Agus Suwandi, dilanjutkan school tour meninjau sarana sanitasi serta pengelolaan kantin sehat, dan ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang siap direplikasi di sekolah masing-masing peserta.
Dalam arahannya, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Gresik, Eko Agus Suwandi, menegaskan bahwa kebersihan lingkungan sekolah harus menjadi budaya yang mengakar, bukan sekadar respons seremonial saat ada penilaian.
"Ke depan seluruh sekolah harus mampu menanamkan budaya bersih yang mengakar kuat. SMAN Manyar sebagai sekolah model kita harapkan tidak berhenti pada seremoni, melainkan aktif mendampingi sekolah-sekolah lain dalam mengimplementasikan program 'Sekolah Resik' di satuan pendidikan masing-masing," tegas mantan Kepala SMA Taruna Brawijaya Kediri tersebut, Kamis (1/10/2026).
Baca Juga: SMA Negeri 1 Manyar Gresik Raih Runner-up Bahlil Mini Soccer, Amankan Tiket ke Tingkat Jawa Timur
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Manyar, Ainur Rofiq, membeberkan perjalanan transformasi sekolah yang dipimpinnya. Ia mengakui bahwa pada awal digulirkannya program "Sekolah Resik", kebijakan ini sempat dirasakan sebagai beban berat oleh warga sekolah.
Namun, lewat pendekatan growth mindset (pola pikir bertumbuh), tantangan tersebut berhasil diubah menjadi peluang emas peningkat mutu sekolah.
"Awalnya memang dirasakan cukup berat. Namun dengan pola pikir bertumbuh, tantangan ini kita ubah menjadi peluang untuk berinovasi dan menaikkan standar mutu pendidikan di SMANEMA," terang Ainur Rofiq.
Baca Juga: Peringati HUT ke-63, SMK SIG Gelar Ngaji dan Sholawatan Bareng Abah Qosim Sekaligus Launching SPMB
Kunci keberhasilan SMANEMA bertumpu pada konsistensi penerapan 7 Indikator Resik, yang meliputi:
- Zero Plastik: Penerapan indikator paling krusial dan menantang untuk menekan timbulan sampah plastik secara signifikan di lingkungan sekolah.
- Rawat: Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) serta jadwal perawatan fasilitas sekolah secara berkala.
- Resik: Pemeliharaan standar kebersihan fisik dan sanitasi lingkungan prima yang dieksekusi oleh 8 petugas pramubhakti dengan skema reward bagi yang berkinerja baik.
- Rajin: Pelaksanaan audit internal kebersihan secara berkala serta pembiasaan disiplin bagi seluruh warga sekolah.
- Ringkas: Penyingkiran barang-barang tak terpakai agar tidak menumpuk di area sekolah.
- Rapi: Penataan tata letak (layout) dan manajemen visual lingkungan yang estetis.
- Safety: Penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara ketat, di mana keamanan dan keselamatan seluruh area sekolah menjadi tanggung jawab penuh kepala sekolah.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Laptop Produktivitas Tinggi Terbaik untuk Profesional di Tahun 2026 GRESIK – Presentas
Melalui agenda studi tiru ini, Cabdin Pendidikan Wilayah Gresik optimistis gerakan "Sekolah Resik" dapat menular secara merata. Adopsi model SMANEMA diharapkan membawa sekolah-sekolah di Gresik tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga menjadi pelopor lingkungan belajar yang bersih, sehat, aman, dan nyaman. (rir/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik