Kegiatan yang berlangsung intensif sejak 12 Januari hingga 30 April 2026 di Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik ini dipimpin oleh tim dosen pembina lapangan, yaitu Wahyu Kamal Setiawan, S.TP., M.Si., Ph.D., Fara Kamila Hudy, S.T., M.T., Zara Safira Ramadhani, S.T., M.T., dan Yunita Siti Mardhiyyah, S.TP., M.Si.
Melalui pendekatan multidisiplin, para mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menyelesaikan berbagai tantangan nyata yang dihadapi oleh masyarakat desa.
Kelompok 3 yang beranggotakan Amanatul Faarikha, Syafril Rizky Narendra, Atia Muflihana, dan Eis Aghisni mengambil peran di RW 02 Desa Sukomulyo. Mereka berfokus pada penanganan limbah bersama Kelompok Tani (Poktan) MEWAH, Ketua Karang Taruna, dan Ketua RW setempat.
Selama ini, aktivitas agrobisnis budidaya melon dengan sistem greenhouse di wilayah tersebut menyisakan persoalan limbah organik berupa sisa batang, daun, hingga buah melon afkir. Upaya penanggulangan menggunakan komposter drum konvensional sebelumnya mengalami kegagalan fungsi, sehingga sampah organik hanya menumpuk dan terbuang sia-sia.
Amanatul Faarikha menuturkan, sebagai solusi preventif yang efektif, Kelompok 3 menghadirkan sistem sirkular ekonomi melalui budidaya lalat dan maggot Black Soldier Fly (BSF). Fase larva BSF dinilai sangat aktif dan cepat dalam mengurai limbah organik.
Tim pengmas melakukan sosialisasi serta demonstrasi langsung, mulai dari proses awal penetasan telur hingga perawatan maggot menggunakan limbah greenhouse dan rumah tangga.
“Program ini cukup berhasil memikat antusiasme warga karena dinilai lebih praktis daripada komposter konvensional. Sebagai output berkelanjutan, kami menyerahkan kandang budidaya skala kecil beserta Modul Budidaya Maggot BSF agar masyarakat dapat meneruskan program ini secara mandiri sekaligus memanfaatkan biomassa dan pupuk kasgot yang dihasilkan untuk mendukung operasional greenhouse,” terangnya.
Beralih ke sektor pascapanen, Kelompok 4 yang terdiri dari Fadhillah Natasya Maghfiroh, Khansa Dzakiyyah Darajat, Moh Muchsinin, dan Falahatul Auliya Al-Mutaqiyah, bergerak di dua lokasi sekaligus, yaitu RW 08 bersama Poktan Markisa Lestari dan RW 02 RT 07 bersama Poktan Melon MEWAH.
Baca Juga: UISI Serahkan Teknologi Penjernih Air Berbasis IoT kepada Masyarakat Bagindo Kilir di Blitar
Wilayah ini memiliki potensi hortikultura buah markisa dan melon yang sangat berlimpah. Namun, pemanfaatan hasil panen masih terbatas pada penjualan dalam bentuk segar, sehingga nilai tambah ekonominya rendah. Lebih parah lagi, buah melon dengan kualitas rendah (grade rendah/afkir) kerap kali dihargai sangat murah dan tidak terserap optimal oleh pasar.
“Untuk mengatasi masalah tersebut, Kami kelompok 4 menginisiasi program pemberdayaan melalui pelatihan pengolahan buah menjadi produk yang bernilai tambah dan tahan simpan. Melalui workshop interaktif dan praktik langsung, kami mengajarkan teknologi pengolahan pangan yang inovatif, seperti mengubah markisa menjadi bubuk multifungsi menggunakan metode foam drying dan mengolah melon grade rendah menjadi selai premium,” ujar Fadhillah Natasya Maghfiroh.
Selain memberikan wawasan mengenai proses produksi dan pengemasan, tim juga menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) serta membagikan Modul Pembuatan Bubuk Markisa dan Selai Melon. Langkah ini berhasil meningkatkan keterampilan warga dalam menciptakan produk baru yang berpotensi menjadi usaha rumah tangga yang menjanjikan.
Baca Juga: UISI Hasilkan Lulusan Unggul dengan 11 Kompetensi Masa Depan, Puluhan Wisudawan Telah Bekerja
Sementara itu, Kelompok 5 yang beranggotakan Fatimatuzzahro, Shela Panca Aprilia, dan Amira Najah Aulia, memfokuskan programnya pada pilar digitalisasi usaha. Mereka menggandeng UMKM SUKGA (Sukomulyo Toga Indonesia), sebuah kelompok usaha lokal yang memanfaatkan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi berbagai produk herbal dan aromaterapi yang unik.
Meski memiliki potensi produk yang bernilai jual tinggi, pemasaran mereka masih berjalan konvensional dan pasif, di mana produksi umumnya baru dilakukan ketika terdapat pesanan akibat keterbatasan jangkauan pasar.
Melihat celah tersebut, Fatimatuzzahro selaku ketua kelompok 5 mengajak tim menggelar pelatihan pemanfaatan teknologi AI, pembuatan konten digital, dan pengelolaan e-commerce. Melalui workshop interaktif, para pelaku usaha dibimbing untuk memanfaatkan Artificial Intelligence guna mencari ide konten dan menulis caption promosi yang menarik.
“Tidak hanya itu, kami juga melatih menggunakan aplikasi Canva dan CapCut untuk desain visual serta editing video secara mandiri. Sebagai langkah nyata memperluas pasar, kami juga mendampingi mitra dalam membuka dan mengelola etalase toko digital di platform Shopee,” pungkasnya.
Program ini juga dilengkapi dengan Modul Literasi Digital dan Kewirausahaan sebagai panduan manajemen usaha modern.
Rangkaian kegiatan berkelanjutan yang diusung oleh para akademisi UISI ini mendapat sambutan yang sangat hangat dan apresiasi tinggi dari jajaran pemerintah setempat. Kepala Desa Sukomulyo, Subianto, mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam atas kontribusi nyata yang diberikan oleh seluruh tim pengabdian masyarakat selama beberapa bulan di desanya.
Baca Juga: Bentengi Pengurus Cabor dari Masalah Hukum, KONI Gresik Gelar Bimtek SPJ Dana Hibah
"Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Tim Pengabdian Masyarakat UISI yang telah hadir dan berkolaborasi dengan Desa Sukomulyo. Menurut saya, kelima program yang telah dilaksanakan. Mulai dari budidaya jamur, penyusunan roadmap eduwisata, pengolahan markisa dan melon menjadi produk berkelanjutan, budidaya BSF dan maggot, hingga pelatihan digitalisasi melalui AI, konten digital, dan e-commerce merupakan program yang sangat relevan dengan potensi dan kebutuhan desa. Harapan saya, program-program ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat terus dikembangkan dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat serta mendukung terwujudnya Desa Sukomulyo BESTARI MAGIYA," ujarnya penuh harap.
Melalui sinergi yang kuat antara Universitas Internasional Semen Indonesia dan Desa Sukomulyo, pemanfaatan teknologi tepat guna, pengelolaan limbah berbasis sirkular ekonomi, serta digitalisasi pasar kini bukan lagi hal baru bagi warga. Langkah awal ini diharapkan mampu menjadi fondasi kokoh menuju kemandirian ekonomi desa yang tangguh dan berkelanjutan di masa depan. (rir/han)
Editor : Hany Akasah