RADAR GRESIK – Sebanyak 56 siswa dari salah satu MTs menggelar kegiatan outing class dengan mengunjungi Batik Gajah Mungkur dan kawasan bersejarah Kampung Kemasan. Kegiatan edukatif ini bertujuan untuk mengenalkan sejarah serta kearifan lokal Gresik melalui pembelajaran langsung di luar kelas.
Agenda ini menjadi bagian dari implementasi integrasi kurikulum sekolah berbasis literasi yang diterapkan oleh pihak madrasah. Melalui observasi lapangan, para siswa diarahkan untuk aktif mengumpulkan informasi, mencatat hasil pengamatan, menyusun laporan kegiatan, hingga mempresentasikannya secara berkelompok saat kembali ke sekolah.
Baca Juga: Penghormatan untuk Kaum Buruh, Presiden Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk
Guru pendamping, Ika Sari Maulidah, menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini para siswa mendapatkan materi mendalam mengenai sejarah Rumah Gajah Mungkur, filosofi ragam motif batik khas Gresik, hingga tapak tilas sejarah kawasan Kampung Kemasan dan benda-benda peninggalan zaman dahulu.
Tidak hanya menerima teori, para siswa juga diajak untuk melakukan praktik membatik secara langsung menggunakan canting. Mereka belajar membuat pola sederhana, menorehkan malam di atas lembaran kain, serta mengenal teknik-teknik dasar membatik yang benar.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga secara langsung dalam mengenal budaya lokal dan proses rumit di balik pembuatan batik khas Gresik,” ujar Ika Sari.
Baca Juga: Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Polres Gresik Sukses Panen Raya Jagung 80 Ton di Panceng
Petualangan literasi budaya berlanjut saat para siswa bergeser ke kawasan Kampung Kemasan. Di sana, mereka diajak menyusuri sejarah kota lama Gresik sekaligus melihat dari dekat berbagai koleksi benda kuno otentik, seperti setrika arang hingga koran-koran lawas.
Pihak madrasah berharap outing class ini mampu menumbuhkan rasa cinta yang kuat terhadap warisan budaya daerah melalui pengalaman belajar yang menyenangkan, kontekstual, dan berbasis literasi.
Keseruan para siswa ini disambut hangat oleh Pemilik (Owner) Batik Gajah Mungkur, Choiri. Ia menjelaskan bahwa bangunan tempat usahanya memiliki keunikan tersendiri, yakni arsitektur yang memadukan empat unsur budaya sekaligus: Tiongkok, Jawa, Kolonial, dan Arab, lengkap dengan ikon patung gajah mungkur yang legendaris.
Baca Juga: Iduladha Tanpa Stroke: Berikut Tips Pola Konsumsi Daging yang Sehat
Choiri mengapresiasi tinggi antusiasme luar biasa yang ditunjukkan oleh para siswa, terutama saat sesi praktik membatik dimulai.
“Ada beberapa anak yang bahkan sudah mulai terlihat bakat seninya. Harapan kami, melalui kegiatan seperti ini, generasi muda semakin mencintai seni dan budaya lokal agar eksistensinya tetap lestari,” ungkap Choiri.
Hal mendalam juga dirasakan oleh salah satu siswa kelas IX A, Ahmad Faidlur Rabbani Hakim. Ia mengaku sangat senang bisa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, terutama saat momen mencanting kain.
Baca Juga: Diduga Rem Blong, Truk Tronton Hantam Empat Kendaraan dan Warkop di Menganti Gresik
"Seru banget, jadi tambah pengalaman dan wawasan baru tentang sejarah Kota Gresik," pungkasnya gembira. (jar/han)
Editor : Hany Akasah