Oleh:
Fahimatul Anis (Universitas Jember), Trapsila Siwi Hutami (Universitas Jember), Vivi Darmayanti (Universitas Jember)
RADAR GRESIK - Pada kurikulum Merdeka, sumber belajar sangat beragam tidak hanya pembelajaran di dalam kelas.
Pada umumnya kegiatan belajar mengajar dilakukan didalam kelas namun seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sumber belajar yang digunakan tidak terbatas.
Sumber belajar disini dapat berasal dari lingkungan sekitar diantaranya tradisi budaya setempat, dalam hal ini akan dibahas tradisi budaya sedekah bumi di Desa Kisik Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik.
Dalam tradisi sosial budaya Jawa, upacara sedekah hasil bumi sudah tidak asing lagi dengan sebutan nama yang berbeda-beda. Di Desa Kisik tradisi sosial budaya ini dikenal pula dengan nama “ sedekahan” dan yang lebih popular dengan sedekah bumi.
Di Desa Kisik menurut penuturan sudah dimulai sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia dan terus tetap dilestarikan hingga saat ini.
Tradisi sedekahan ini menurut cerita mulai diadakan setelah kehadiran dan menetapnya Mbah Sayyid Iskandar Idris dan Mbah Sayyid Abdullah di wilayah Desa Kisik.
Bagi Desa Kisik, sedekah bumi mempunyai maksud, yaitu rasa Syukur Masyarakat kepada Allah yang telah memberikan rizki dan barokah kepada Masyarakat Desa Kisik.
Sedekah bumi juga digunakan sebagai sarana upacara bersih desa bagi seluruh Masyarakat desa.
Upacara tradisi bersih desa ini dalam arti membersihkan segala keburukan bagi Masyarakat desa, baik keburukan masa lalu maupun yang akan datang.
Bahkan bagi warga kelahiran desa Kisik yang telah pindah tinggal di desa lain juga mengikuti tradisi ini (Anis, Jarwanto, 2020).
Dahulu kala, upacara tradisi sedekahan (sedekah bumi) dan upacara haul Mbah sayyid Iskandar Idris dan Mbah Sayyid Abdullah dilaksanakan secara terpisah (beda waktunya) oleh Masyarakat.
Kemudian baru menginjak pada tahun 1960-an kedua tradisi sosial budaya tersebut mulai dijadikan satu acara kegiatan oleh Masyarakat hingga sampai saat ini. Acara sedekah bumi dan haul dilaksanakan pada hari Jumat Pahing setelah salat Jumat.
Secara eksplisit, upacara adat Masyarakat desa Kisik yang diselenggarakan di area makam Mbah Sayyid Abdullah dan Mbah Sayyid Iskandar Idris cenderung mengarah kepada ritual perayaan kematian leluhur dengan menghidangkan berbagai sesaji makanan dan melakukan berbagai kegiatan bersama.
Namun jika diteliti secara mendalam bahwa sesungguhnya upacara adat tersebut mengacu pada ajaran agama Islam yakni mensyukuri segala nikmat yang diberikan oleh Allah kepada seluruh Masyarakat melalui panen hasil bumi.
Tradisi Sedekah Bumi di Desa Kisik merupakan ritual yang dilaksanakan setiap tahun dengan melibatkan seluruh masyarakat. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan berbagai rangkaian acara, seperti doa bersama, dan pertunjukan seni budaya.
Siswa dapat belajar mengenai makna di balik ritual ini, seperti pentingnya rasa syukur, kerjasama, dan penghormatan terhadap alam.
Melalui kegiatan tradisi sedekah bumi, siswa dapat mengkonstruk pengetahuan secara langsung sehingga dapat memiliki pemahaman yang baik.
Dengan pendekatan teori konstruktivistik maka sumber belajar secara langsung dengan terlibat pada kegiatan tradisi sedekah bumi dapat dilakukan sebagai bagian dari proses belajar mengajar.
Konstruktivisme dalam Pendidikan diharapkan siswa memiliki kebebasan berpikir yang bersifat eklektik, artinya siswa dapat memanfaatkan teknik belajar apapun asal tujuan belajar dapat tercapai. Bermaksud agar menjadikan anak didik memiliki kualitas dengan memanfaatkan teknik belajar apapun (Febriani, 2021).
Situs tradisi kegiatan sedekah bumi menawarkan berbagai nilai pendidikan yang relevan bagi siswa, antara lain:
Pengembangan Karakter: Melalui partisipasi dalam kegiatan Sedekah Bumi, siswa diajarkan untuk menghargai kerja keras petani dan hasil bumi. Ini dapat membentuk sikap tanggung jawab dan rasa syukur.
Keterampilan Sosial: Kegiatan ini melibatkan interaksi sosial yang erat antara warga desa, yang dapat menjadi contoh bagi siswa tentang pentingnya kerjasama dan komunikasi.
Pelestarian Budaya: Dengan mengenalkan siswa pada tradisi lokal, mereka akan lebih memahami dan menghargai budaya mereka sendiri, sehingga mendorong pelestarian nilai-nilai tersebut.
Pemanfaatan situs tradisi Sedekah Bumi dapat dilakukan melalui berbagai metode pembelajaran, seperti: Kunjungan Lapangan: Siswa dapat diajak untuk mengunjungi lokasi pelaksanaan ritual, sehingga mereka dapat melihat langsung proses dan makna di balik tradisi tersebut.
Pemanfaatan situs tradisi budaya Sedekah Bumi di Desa Kisik sebagai sumber belajar bagi siswa SD sangatlah relevan. Selain memperkaya pengetahuan siswa tentang kearifan lokal, tradisi ini juga mendukung pengembangan karakter dan pelestarian budaya. Tradisi Sedekah Bumi dapat menjadi sumber belajar yang efektif dalam membentuk generasi yang mencintai dan menghargai budaya mereka sendiri.
Daftar Pustaka
Anis, Fahimatul. Jarwanto, Eko. (2020). Mengenal KISIK, Kajian Sejarah Sosial Budaya Masyarakat. Pagan Press.
Anjelita, K., & Supriyanto, A. (2024). TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK DAN IMPLIKASINYA DI SEKOLAH DASAR. Jurnal Citra Pendidikan Anak, 3(1), 916–922. https://doi.org/10.38048/jcpa.v3i1.2822
Arinda R., I. Y. (2014). Sedekah Bumi (Nyadran) Sebagai Konvensi Tradisi Jawa Dan Islam Masyarakat Sraturejo Bojonegoro. El-HARAKAH (TERAKREDITASI), 16(1), 100. https://doi.org/10.18860/el.v16i1.2771
Febriani, M. (2021). IPS dalam pendekatan konstruktivisme (studi kasus budaya melayu jambi). Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 7(1), 61-66.
Editor : Hany Akasah