RADAR GRESIK - Pelajar asal Gresik bernama Aeshnina Azzahara Aqilani meminta negara-negara Eropa mengurangi ekspor sampah ke Indonesia.
Pasalnya, pengiriman sampah plastik dan kertas ke Indonesia, khususnya Gresik menimbulkan pencemaran dalam bahan baku minum warga sekitar.
Aeshnina yang akrab disapa Nina mengatakan, negara-negara Eropa membuang sampahnya ke Indonesia, sampah kertas sekitar 3 juta ton/tahun sedangkan sampah plastik 200 ribu ton/tahun.
Dari data Basel Action Network menunjukkan bahwa lima negara Pengekspor sampah plastik terbesar ke Indonesia adalah Belanda, Jerman, Belgia, Amerika Serikat dan Singapura.
Lima negara terbesar pengekspor sampah kertas adalah Australia, Amerika Serikat, Belanda, Inggris,Italia dan Jepang.
"Kondisi ini tidak adil karena negara Eropa seenaknya membuang sampah ke negara berkembang padahal mereka terus memproduksi plastik, mereka yang pakai kenapa kita yang harus mbersiin" ungkap siswa XI-5 SMA Muhammadiyah 10 Gresik.
Nina mengaku protes tersebut menyerahkan surat protes pada Jennefer Baarn, ketua Delegasi Belanda untuk INC 4 di Shaw Center, Ottawa dan Ketua Delegasi Uni Eropa dan Ketua Delegasi Norwegia.
Menurutnya, baik sampah lastik dan sampah kertas ke Indonesia, negara Eropa harus ikut bertanggungjawab membersihkan sungai Brantas dari Pencemaran akibat daur ulang sampah plastik dan sampah kertas.
"Dulu 350 tahun Belanda mengekspoitasi sumber daya alam, sekarang mereka menjajah lagi merusak alam indonesia dengan mengirimkan sampahnya ke Indonesia, " kata Nina.
Menurutnya sampah membutuhkan energi tinggi dan mencemari lingkungan karena menghasilkan mikroplastik, polimer beracun.
"Jika dibakar menghasilkan racun dioksin yang bersifat karsinogen dan berbahaya bagi lingkungan," ujar Nina. (han)
Editor : Hany Akasah