“ Saya sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan belajar di Prefektur Shizuoka, disini bisa melihat secara langsung bagaimana kehidupan dan budaya masyarakat Jepang,”terangnya.
Selama menjadi siswa di Jepang, Ravy banyak mengamati bahwa orang Jepang memiliki karakter positif yang sudah dibiasakan sejak dini. Menurutnya karakter baik ini pun sudah diterapkan warga di Indonesia. Dari pengalamannya, ekstrakurikuler sekolah secara langsung mampu membentuk karakter siswa dan memunculkan bakat siswa yang terpendam. Kegiatan ekstrakurikuler di Shizuoka Seiko Gakuin High School sangat didukung oleh lengkapnya infrastruktur, sehingga dapat berjalan dengan maksimal dan dinikmati oleh para siswa.
“Ada satu hal yang saya kagumi dengan budaya disiplin, seperti contohnya jika ada keterlambatan di kereta Shinkansen selama 50 detik saja, maka pihak manajemen Shinkansen akan membuat surat permintaan maaf. Surat ini bisa digunakan oleh murid yang terlambat datang ke sekolah karena keterlambatan kereta Shinkansen ini,” kata Ravy.
Melewati beberapa minggu berada di negeri Sakura,Ravy banyak mengamati bahwa warga negeri Sakura selalu menyelesaikan sendiri pekerjaan yang merupakan tanggung jawabnya. Seperti mengembalikan bangku pada tempatnya, membuang sampah pada tempatnya, membersihkan ruangan kelas, serta ruangan lain yang ada di sekolah sesuai dengan piket. (rir/han) Editor : Hany Akasah