Latih Ketelitian dan Kemandirian, Warga Binaan Rutan Gresik Sulap Beludru Jadi Songkok Berkualitas

Yudhi Dwi Anggoro • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 12:38 WIB
TERAMPIL : Petugas Rutan Kelas IIB Gresik saat melakukan pendampingan warga binaan saat membuat songkok. (Foto : Yudhi/Radar Gresik)
TERAMPIL : Petugas Rutan Kelas IIB Gresik saat melakukan pendampingan warga binaan saat membuat songkok. (Foto : Yudhi/Radar Gresik)

RADAR GRESIK – Di balik keterbatasan ruang dan waktu, kreativitas warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gresik terus terasah. Mengandalkan jarum, benang, dan selembar kain beludru, tangan-tangan mereka secara presisi mampu menghasilkan songkok berkualitas yang bernilai estetika dan ekonomis tinggi.

Aktivitas kemandirian tersebut merupakan bagian dari program pembinaan rutin yang diusung Rutan Kelas IIB Gresik di bawah naungan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) Jawa Timur.

Bagi para warga binaan, memproduksi songkok bukan sekadar rutinitas pengisi waktu selama menjalani masa hukuman. Lebih dari itu, setiap lekuk pola dan alur jahitan menjadi sarana menempa kesabaran, kedisiplinan, serta bekal keterampilan nyata saat kelak menghirup udara bebas.

Baca Juga: Perkuat Aslinmas di Tingkat Desa, Camat Manyar Sidak Betoyoguci Guna Antisipasi Kerawanan

Proses manufaktur songkok tersebut menuntut tingkat presisi tinggi. Diawali dari pemilihan bahan kain beludru unggulan, pemotongan pola yang terukur, penjahitan bagian per bagian, hingga tahap akhir (finishing). Kekeliruan kecil pada pemotongan pola dapat berdampak pada bentuk serta kualitas fisik songkok.

Kepala Rutan Kelas IIB Gresik, Dhimas Isdwiyono, menegaskan bahwa produksi songkok merupakan instrumen pembinaan kemandirian yang dirancang untuk menggembleng mentalitas kerja produktif dan karakter warga binaan.

"Ketekunan dan kedisiplinan menjadi kunci utama untuk menghasilkan songkok yang rapi, kokoh, serta memiliki nilai estetika tinggi. Melalui proses ini, warga binaan belajar bahwa sebuah karya berkualitas membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan konsistensi," ujar Dhimas. 

Baca Juga: Keluhkan Fasilitas Air dan Keramik Rusak, Pengelola Makam Panjang Leran Berharap Perhatian

Dhimas menjelaskan, orientasi utama program kemandirian ini tidak sekadar mengejar target produktivitas internal di dalam rutan. Poin terpenting adalah pemberian transfer ilmu (skilling) agar para warga binaan memiliki daya saing serta keahlian usaha secara mandiri setelah menyelesaikan masa pidana.

Melalui program ini, Rutan Gresik ingin memastikan bahwa proses pemasyarakatan berfungsi sebagai ruang transformasi diri yang transformatif dan substantif.

"Melalui program ini, Rutan Gresik menegaskan bahwa pembinaan bukan hanya tentang menjalani masa pidana, melainkan juga mempersiapkan masa depan yang jauh lebih baik," terangnya.

Baca Juga: Usung Tema 'Yuuuk Pulang Kampung', Reuni SMAN Gresik Angkatan 79-80-81 Berlangsung Penuh Kehangatan

Ke depan, jajaran manajemen Rutan Kelas IIB Gresik berkomitmen untuk terus mengeksplorasi dan mengembangkan program pembinaan kemandirian ini.

Pihaknya berencana meningkatkan kualitas bahan baku, presisi jaitan, serta meluncurkan inovasi desain songkok modern agar mampu bersaing mengikuti tren serta permintaan pasar secara luas.

Bagi Rutan Gresik, indikator keberhasilan pembinaan tidak sebatas diukur dari kuantitas produk yang keluar dari bengkel kerja, melainkan dari sejauh mana program tersebut mampu memulihkan kepercayaan diri dan membentuk modal sosial bagi warga binaan untuk kembali diterima di tengah masyarakat.

Baca Juga: Cegah Penularan HIV hingga TBC, Rutan Gresik dan Tim MagangHub Beri Edukasi Kesehatan

"Di balik jeruji, keterbatasan memang menjadi bagian dari keseharian. Namun melalui selembar kain, jarum, dan benang, warga binaan membuktikan bahwa kesempatan untuk belajar dan berkarya tetap dapat tumbuh subur," pukas Dhimas. (yud/han) 

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik
Kreativitas Rutan gresik songkok Warga Binaan