Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Peta Dukungan Memanas, Gus Yusuf Menguat Jadi Figur Jalan Tengah Jelang Muktamar PBNU

Fajar Yuliyanto • Kamis, 25 Juni 2026 | 11:59 WIB
Ketua IKA PMII Jawa Timur Muslih Hasyim. (Foto : Ist/Radar Gresik)
Ketua IKA PMII Jawa Timur Muslih Hasyim. (Foto : Ist/Radar Gresik)

RADAR GRESIK – Dinamika bursa calon Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kian menghangat menjelang pelaksanaan Muktamar NU. Di tengah menguatnya polarisasi dua arus besar yang mendominasi peta dukungan nasional, nama KH Muhammad Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf mencuat ke permukaan. Ia dinilai sebagai figur alternatif mumpuni yang mampu menjadi jalan tengah demi masa depan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.

Ketua Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Timur, Muslih Hasyim, menilai bahwa gesekan dan kemunculan berbagai poros dukungan menjelang muktamar merupakan bagian dari dinamika demokrasi organisasi yang wajar. Namun, kehadiran sosok penyeimbang di luar dua kutub utama dinilai sangat krusial untuk menjaga stabilitas internal jam'iyyah.

Baca Juga: Perkuat Sinergi P4GN, Rutan Gresik Komitmen Ciptakan Lingkungan Pemasyarakatan Bersih Narkoba

“Jika saat ini publik melihat adanya dua kutub yang cukup kuat, maka kehadiran figur yang berada di garis tengah justru bisa menjadi penyejuk sekaligus perekat pemersatu,” kata Muslih Hasyim, Kamis (25/6/2026).

Muslih, yang juga mantan Wakil Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur, membeberkan sejumlah keunggulan komparatif yang membuat Gus Yusuf layak diperhitungkan memimpin PBNU. Selain memiliki legitimasi kuat sebagai pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Gus Yusuf juga dinilai mempunyai rekam jejak kepemimpinan dan kematangan yang teruji di medan politik nasional.

Latar belakang pesantren yang melekat dinilai membuat Gus Yusuf sangat memahami denyut nadi dan kebutuhan warga nahdliyin di akar rumput. Nilai-nilai khas fikrah nahdliyah seperti tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (tegak lurus) dipandang telah membentuk karakter kepemimpinannya yang inklusif.

Baca Juga: Serahkan Bantuan Alsintan Kementan RI, Wabup Alif Dorong Mekanisasi Pertanian Gresik

“Modal kultural dan sanad keilmuan yang jelas seperti ini sangat penting di tengah kebutuhan NU untuk terus memperkuat peran keulamaan serta membentengi basis jam’iyyah,” urai Muslih.

Di sisi lain, keluwesan Gus Yusuf di ranah publik dinilai menjadi nilai tambah strategis. Pengalaman tersebut dianggap dapat menjadi bekal berharga untuk membangun komunikasi makro dengan berbagai elemen bangsa, tanpa harus menyeret institusi NU masuk terlalu jauh ke dalam pusaran kepentingan politik praktis.

Muslih menegaskan, sepanjang bentang sejarahnya, NU selalu berhasil melahirkan nakhoda yang mampu menjalin hubungan harmonis dengan negara, namun tetap ketat menjaga independensi organisasi.

Baca Juga: Sinergi Apik BPJS Kesehatan dan Swasta: Jaga Perlindungan Kesehatan Warga Gresik Lewat Donasi JKN

Politik harus diletakkan sebagai instrumen kemaslahatan umat (siyasah al-aliyah), bukan tujuan pragmatis yang mengorbankan marwah organisasi.

“Gus Yusuf memiliki akar kultural pesantren yang kuat, memahami anatomi organisasi, dan tidak asing dengan medan politik nasional. Posisi strategis ini memungkinkan dirinya diterima oleh berbagai kelompok yang menginginkan NU tetap tegak lurus berada di koridor Khittah 1926, namun tetap adaptif menjawab tantangan zaman,” tambahnya.

Mengakhiri keterangannya, Muslih mengingatkan bahwa Muktamar NU bukanlah arena kompetisi transaksional untuk menentukan pemenang secara mutlak. Forum tertinggi tersebut harus dikembalikan marwahnya sebagai ruang musyawarah agung yang melahirkan kepemimpinan terbaik. Perbedaan pilihan di kalangan warga NU merupakan hal lumrah, selama dirawat dalam bingkai ukhuwah nahdliyah.

Baca Juga: Garansi Transparansi, Seleksi TPA Masuk SMPN di Gresik Gunakan Sistem CAT

“PBNU ke depan membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjadi titik temu seluruh unsur jam’iyyah, bukan yang terjebak dalam polarisasi berkepanjangan. Kita butuh sosok yang bisa merangkul semua pihak dan menjaga persatuan organisasi,” pungkasnya. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
#Muktamar NU #PBNU #gresik #NU #Nahdlatul Ulama