RADAR GRESIK – Langkah demi langkah terdengar semakin berat saat senja mulai meninggalkan langit Surabaya. Keringat membasahi seragam para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemasyarakatan yang tengah menyusuri rute long march di sekitar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya. Namun, tak satu pun dari mereka yang menyerah.
Di antara puluhan peserta tersebut, terdapat 12 CPNS asal Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gresik yang terdiri dari delapan laki-laki dan empat perempuan.
Mereka menjadi bagian dari 62 CPNS Pemasyarakatan se-Koordinator Wilayah (Korwil) Surabaya yang mengikuti kegiatan Pembinaan Fisik, Mental, dan Disiplin (FMD) serta pembaretan. Ajang ini merupakan tahap krusial dalam perjalanan mereka menjadi insan Pemasyarakatan.
Baca Juga: Gandeng Mahasiswa UMG, Rutan Gresik Bekali Warga Binaan Keterampilan Budidaya Lele
Kegiatan yang digelar di Lapas Kelas I Surabaya tersebut bukan sekadar pelatihan fisik biasa. Lebih dari itu, FMD menjadi wadah pembentukan karakter, integritas, dan ketangguhan mental bagi para aparatur muda yang kelak akan mengemban tugas menjaga keamanan serta melakukan pembinaan terhadap warga binaan.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak pagi hari yang diawali dengan pembukaan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur yang diwakili oleh Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman. Setelah menjalani skrining kesehatan dan menerima pembekalan mengenai tugas serta fungsi Pemasyarakatan, tantangan sesungguhnya bagi para peserta pun dimulai.
Saat matahari mulai condong ke barat, para peserta dibagi menjadi enam regu untuk mengikuti long march yang menguji ketahanan fisik sekaligus kekompakan tim. Di sejumlah pos yang telah disiapkan oleh panitia, mereka dihadapkan pada berbagai tantangan yang menuntut kemampuan memimpin, berkomunikasi, bekerja sama, hingga mengambil keputusan cepat di bawah tekanan.
Ujian ternyata belum berakhir. Ketika malam tiba dan suasana semakin sunyi, para peserta kembali dihadapkan pada tantangan yang menguji keberanian. Salah satu momen paling berkesan dan mencekam adalah saat mereka harus mengambil baret di area pemakaman yang gelap gulita.
Di tengah minimnya pencahayaan, para peserta dituntut untuk tetap tenang, fokus, dan berani melangkah maju.
Bagi banyak peserta, pengalaman tersebut bukan sekadar simulasi. Tantangan itu menjadi simbol nyata bahwa tugas sebagai insan Pemasyarakatan menuntut keberanian, keteguhan hati, serta kesiapan menghadapi berbagai situasi darurat yang tidak selalu mudah di lapangan.
Baca Juga: Bekali Kemandirian Pascabebas, Warga Binaan Perempuan Rutan Gresik Dilatih Bikin Bolen Pisang
Meski harus melalui rangkaian kegiatan yang panjang dan melelahkan, semangat para CPNS tidak surut. Kebersamaan yang terjalin selama pelatihan justru memperkuat solidaritas di antara mereka. Aksi saling menyemangati saat lelah dan membantu rekan yang mengalami kesulitan menjadi gambaran nyata nilai jiwa korsa yang ingin ditanamkan dalam kegiatan ini.
Puncak perjalanan panjang itu akhirnya tiba pada prosesi sakral penyematan baret oleh para Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan Korwil Surabaya. Baret yang kini melingkar di kepala mereka bukan sekadar atribut seragam biasa, melainkan simbol keberhasilan melewati berbagai ujian fisik dan mental, sekaligus penanda kesiapan penuh mengemban amanah negara.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Rutan Kelas IIB Gresik, Dhimas Isdwiyono, menegaskan bahwa kegiatan FMD memiliki makna mendalam dalam membentuk karakter CPNS sejak awal masa pengabdian mereka. Pembinaan ini dipastikan bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.
Baca Juga: Bekali Kemandirian Pascabebas, Warga Binaan Perempuan Rutan Gresik Dilatih Bikin Bolen Pisang
“Mereka dilatih untuk memiliki disiplin, integritas, jiwa korsa, serta ketangguhan mental yang akan menjadi bekal dalam melaksanakan tugas ke depan,” ujar Dhimas.
Dhimas juga menambahkan bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan kunci utama dalam mewujudkan sistem Pemasyarakatan yang semakin maju dan berdampak positif. Oleh karena itu, pembinaan sejak dini menjadi investasi penting untuk mencetak aparatur yang profesional, humanis, dan berintegritas tinggi.
“Melalui kegiatan FMD dan pembaretan ini, para CPNS tidak hanya ditempa secara fisik, tetapi juga dibentuk mental dan karakternya. Sebab pada akhirnya, tugas sebagai insan Pemasyarakatan bukan hanya soal menjalankan aturan, melainkan juga tentang pengabdian, tanggung jawab, dan kesiapan melayani masyarakat dengan penuh integritas,” pungkasnya. (yud/han)
Editor : Hany Akasah