RADAR GRESIK – Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Gresik terus bergerak taktis mengoptimalkan sisa ketersediaan air guna memastikan kegiatan tanam padi pada musim kedua tahun ini dapat berjalan lancar.
Langkah mitigasi ini diambil sebagai strategi agar target produksi pangan daerah tetap tercapai secara swasembada. Otoritas pertanian daerah kini memperketat pengawasan menyusul adanya prediksi ilmiah mengenai ancaman musim kemarau panjang yang berpotensi kuat memangkas pasokan air di lahan-lahan pertanian produktif.
Baca Juga: Didominasi Judi Online, Ratusan Istri di Gresik Pilih Jadi Janda
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dispertan Kabupaten Gresik, Choirul Fatikin, membeberkan performa pertanian daerah di mana pada musim tanam pertama yang berlangsung sepanjang bulan Januari hingga April 2026, total luas tanam padi di Kabupaten Gresik sukses menyentuh angka 29.808,84 hektare.
Sementara itu, saat memasuki siklus musim tanam kedua yang dijadwalkan berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026, basis data per 15 Juni 2026 mencatat luasan lahan tanam padi yang terealisasi telah mencapai 6.600,49 hektare.
Angka luasan tersebut merupakan hasil akumulasi riil dari lahan yang sudah ditanami oleh para petani dan saat ini posisinya masih berada dalam fase pertumbuhan vegetatif, sehingga belum memasuki masa panen raya.
Baca Juga: SK Resmi Ditandatangani, Bakesbangpol Targetkan Dana Hibah Parpol Gresik Cair Bulan Ini
“Musim tanam pertama berlangsung pada bulan Januari sampai April. Kemudian musim tanam kedua pada bulan Mei sampai Agustus, dan musim tanam ketiga pada bulan September sampai Desember. Data per 15 Juni 2026 ini merupakan luasan tanam padi yang sudah ditanam dan posisinya belum panen,” ujar Choirul Fatikin saat merinci kalender sirkulasi tanam daerah, Selasa (16/6/2026).
Choirul Fatikin tidak menampik bahwa kendala laten sekaligus tantangan terberat yang berpotensi dihadapi oleh para petani pada fase musim tanam kali ini adalah jaminan stabilitas ketersediaan air irigasi.
Kendati hingga pertengahan bulan Juni ini belum ada laporan resmi mengenai kasus kekeringan ekstrem yang masuk dari pos lapangan, pihak Dispertan tetap menaikkan status kewaspadaan ke tingkat tertinggi akibat proyeksi iklim kemarau yang diperkirakan akan berjalan lebih gersang dan panjang dari rata-rata tahunan biasanya.
Baca Juga: Diikuti 130 Atlet, Turnamen Tenis Meja Kapolsek Gresik Kota Cup 2026 Sukses Digelar
Berdasarkan peta pemetaan risiko yang dirilis Dispertan, klaster wilayah yang dinilai paling rentan dan rawan mengalami krisis kelangkaan air bertumpu di kawasan Gresik Selatan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi lahan pertanian di Kecamatan Cerme, Menganti, Benjeng, Balongpanggang, dan Kedamean.
Kondisi sebaliknya terjadi di kawasan Gresik Utara, di mana sektor pertanian di zona ini dinilai masih memiliki sumber pasokan air yang relatif aman dan stabil berkat pasokan dari aliran sungai Bengawan Solo serta sokongan jaringan sumur bor dalam yang tersebar di sejumlah titik pertanian.
“Prediksi iklim saat ini mengarah pada kemarau yang cukup panjang. Langkah antisipasi dini terutama kami lakukan di wilayah selatan yang secara geografis selama ini memang lebih rentan terhadap kekurangan air. Namun kami bersyukur sampai hari ini belum ada laporan kekeringan yang masuk dari kelompok tani,” imbuhnya.
Baca Juga: Vonis Bebas Dianulir MA, Kejari Gresik Segera Jebloskan Tersangka Kasus Surat Palsu ke Penjara
Sebagai langkah konkret penyelamatan produksi padi, Dispertan Kabupaten Gresik secara masif mendorong para petani untuk melakukan percepatan jadwal tanam (crop acceleration).
Strategi ini sengaja diinstruksikan agar para petani dapat memanfaatkan sisa kelembapan tanah dan cadangan air permukaan secara maksimal sebelum wilayah Gresik memasuki puncak musim kemarau yang gersang.
Respons positif pun ditunjukkan oleh para petani di lapangan, di mana sebagian besar dari mereka telah berinisiatif memulai proses pembenihan dan penanaman lebih awal pada bulan Juni, dari yang semula dijadwalkan baru akan berlangsung pada bulan Juli.
Baca Juga: Balon Udara Misterius Jatuh di Atap Rumah Warga Kebomas, Dua Bocah Terluka
“Sebagai antisipasi, musim tanam ini kami majukan untuk jadwal tanamnya. Misalnya yang semula direncanakan di bulan Juli, sengaja dimajukan ke bulan Juni. Faktanya, di lapangan sebagian besar petani di bulan Juni ini sudah ada yang tanam,” pungkas Choirul Fatikin mengakhiri keterangannya.
Melalui intervensi jadwal tanam dan optimalisasi pompa air jembatan serta sumur bor ini, Dispertan Gresik optimistis riwayat kegagalan panen (puso) akibat bencana kekeringan dapat ditekan seminimal mungkin, sekaligus menjaga stabilitas harga gabah di tingkat produsen lokal. (jar/han)
Editor : Hany Akasah