Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Keracunan MBG, Anggota DPD RI Lia Istifhama Dukung Pembentukan Tim Investigasi, Perketat Pengawasan Dapur hingga Pemerataan UMKM

Hany Akasah • Selasa, 23 September 2025 | 11:56 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama menegaskan pentingnya langkah cepat melalui pembentukan tim investigasi khusus.
Anggota DPD RI Lia Istifhama menegaskan pentingnya langkah cepat melalui pembentukan tim investigasi khusus.

RADAR GRESIK – Kasus dugaan keracunan massal akibat konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Data nasional mencatat, sedikitnya 4.711 orang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG yang disalurkan di berbagai wilayah Indonesia.

Secara rinci, wilayah I (Pulau Sumatra) mencatat sekitar 1.281 kasus. Wilayah II (Pulau Jawa) menjadi yang tertinggi dengan 2.606 kasus dari 27 temuan dugaan keracunan. Sementara itu, wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua) melaporkan 11 dugaan kasus dengan total 824 peserta didik terdampak.

Menanggapi hal ini, Anggota DPD RI Lia Istifhama menegaskan pentingnya langkah cepat melalui pembentukan tim investigasi khusus.

“Investigasi ini berkait dengan kasus dugaan keracunan MBG. Saya sebut dugaan karena belum tentu semua kasus benar-benar keracunan. Karena itu, tim investigasi diperlukan, baik untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan maupun untuk mengevaluasi menu makanan dan dapur penyedia MBG,” ujar Ning Lia sapaan akrab Lia Istifhama, Selasa (23/9/2025).

Putri KH Maskur Hasyim ini juga menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap dapur penyedia MBG. Menurutnya, kualitas gizi harus berjalan seiring dengan standar keamanan pangan agar tidak menimbulkan risiko kesehatan.

Selain aspek kesehatan, senator yang juga dinobatkan sebagai Wakil Rakyat Terpopuler versi ARCI menilai pentingnya pemerataan peran UMKM dalam penyediaan menu MBG. Keterlibatan UMKM lokal, kata dia, bukan hanya berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperluas kesempatan usaha di daerah.

“UMKM harus dilibatkan lebih luas. Pemerataan ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat bahwa MBG aman, sehat, dan bermanfaat,” jelasnya.

Ia menambahkan, selama ini penyediaan MBG masih terfokus pada satu dapur dengan jumlah pesanan besar. Padahal, kebutuhan dapur sangat tinggi dan tersebar di banyak titik.

“Saya berharap jumlah dapur MBG bisa diperbanyak. Idealnya, setiap sekolah bisa memanfaatkan UMKM sekitar agar distribusi lebih merata. Kami berharap BGN dapat memformulasikan ulang sistem ini,” imbuhnya.
Menurut perempuan yang akrab Senator Cantik itu, kasus dugaan keracunan MBG ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh, mulai dari kualitas pangan, sistem distribusi, hingga strategi pemberdayaan UMKM daerah.

“Pemerintah bersama BGN dan pemangku kepentingan lain diharapkan segera menghadirkan solusi agar program MBG tetap berjalan sesuai tujuan, yakni meningkatkan gizi dan kesehatan generasi muda Indonesia,” jelasnya.

Sebelumnya, pada Senin (22/9/2025), sebanyak 45 pelajar di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dilaporkan mengalami gejala mual dan muntah setelah menyantap paket MBG pada jam makan siang.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat, Nurul Rasihan menyatakan para siswa terdampak berasal dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK. Berdasarkan informasi sementara, paket MBG yang dikonsumsi bersumber dari salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut. (han)

Editor : Hany Akasah
#senator #dapur #UMKM #Mbg #Lia Istifhama #Ning Lia #keracunan #DPD RI #investigasi