RADAR GRESIK - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Gresik mencatat sebanyak 1.284 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) telah resmi terdaftar untuk bekerja di luar negeri dari Januari hingga Agustus 2025.
Namun, jumlah tersebut diperkirakan masih jauh lebih kecil dibandingkan realitas di lapangan.
Kepala Disnaker Gresik, Zainul Arifin, mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang masuk dari desa-desa, jumlah warga Gresik yang bekerja di luar negeri sebenarnya mencapai sekitar 7.353 orang.
"Itu pun belum semua desa menyetorkan data. Karena itu, kami ingin membangun basis data PMI yang lebih akurat agar mereka mendapatkan perlindungan dan kepastian hak-haknya," kata Zainul, Jumat (29/8).
Menurut Zainul, untuk mendukung para calon PMI asal Gresik, Disnaker Gresik memberikan layanan administrasi dan penerbitan ID PMI setiap hari kerja, Senin hingga Jumat.
Dengan adanya data yang valid, diharapkan penempatan PMI asal Gresik semakin tertib, hak-hak mereka terlindungi, serta peluang kerja ke luar negeri bisa terus diperluas.
"Untuk itu, dalam waktu dekat, kami juga akan melakukan sosialisasi ke kecamatan-kecamatan yang menjadi kantong PMI, agar semua desa dapat menyerahkan data secara lengkap ke Disnaker Gresik," ujarnya.
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Kabid Penta) Disnaker Gresik, Moch Afandi, menjelaskan bahwa selama ini, mayoritas PMI asal Gresik berasal dari wilayah utara seperti Panceng, Sidayu, Dukun, Ujungpangkah, Sangkapura, dan Tambak.
Sebelumnya, Malaysia menjadi tujuan utama PMI dari kawasan tersebut, terutama di sektor konstruksi dan perkebunan. Namun, sejak akses ke Malaysia ditutup, jumlah keberangkatan otomatis menurun.
Selain ke Malaysia, sebagian PMI memilih bekerja di Hongkong, Taiwan, Eropa, hingga Timur Tengah. "Nah, ke Hongkong, Taiwan, dan Singapura mayoritas sebagai pekerja rumah tangga.
Taiwan juga terbuka untuk sektor industri, sementara ke Eropa lebih banyak di industri. Sedangkan di Timur Tengah, ada yang ke Qatar untuk proyek konstruksi Samsung," pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah