Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Forkot Gresik Serukan Mitigasi Krisis Iklim dan Krisis Air Bersih pada Hari Air Sedunia

Yudhi Dwi Anggoro • Senin, 24 Maret 2025 | 22:27 WIB
Diskusi: Wakil Bupati Gresik Ashluchul Alif, Kadis DLH Gresik Sri Subaidah, dan puluhan akademisi se-Kabupaten Gresik saat berdiskusi dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia (World Water Day).
Diskusi: Wakil Bupati Gresik Ashluchul Alif, Kadis DLH Gresik Sri Subaidah, dan puluhan akademisi se-Kabupaten Gresik saat berdiskusi dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia (World Water Day).

RADAR GRESIK - Aktivis Forum Kota (Forkot) Gresik menyerukan pentingnya mitigasi terhadap krisis iklim yang semakin parah akibat pertumbuhan industri yang pesat. Hal ini berdampak besar terhadap konsumsi air dan emisi karbon, serta mempercepat degradasi lingkungan. Seruan ini dianggap sebagai langkah konkret untuk mencegah terjadinya bencana ekologis dalam beberapa dekade mendatang.

Menurut Ketua Forkot Gresik, Haris S. Faqih, sejak Revolusi Industri, kadar CO₂ di atmosfer telah meningkat hampir dua kali lipat mendekati 500 ppm. Dampak dari peningkatan suhu global yang lebih dari 1,5°C telah memicu perubahan iklim ekstrem, seperti curah hujan yang tidak menentu dan musim kemarau yang panjang.

Hal ini menyebabkan banjir yang semakin sering, intrusi air laut yang mengancam pesisir, dan krisis air bersih yang membayangi masyarakat Gresik.

“Penting bagi pemerintah daerah untuk membuat kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan jangka panjang,” ujar Haris.

Forkot Gresik mendorong pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan nyata sebagai solusi untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim.

Beberapa langkah yang diusulkan adalah menghentikan eksploitasi air tanah secara berlebihan, mempercepat teknologi pemanenan air hujan, serta menanam kembali vegetasi asli Gresik untuk memperkuat daya resap tanah dan mengurangi risiko banjir.

“Gresik harus bertindak sekarang. Lingkungan harus diselamatkan,” tegas Haris.

Wakil Bupati Gresik, dr. Ashluchul Alif, mengapresiasi penunjukkan dirinya sebagai Panglima Mitigasi Perubahan Iklim dan menyatakan komitmennya dalam mengatasi perubahan iklim.

Pemkab Gresik, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), aktif melakukan berbagai upaya penghijauan dengan menanam pohon di berbagai titik di Gresik.

“Kami juga akan membeli alat mining dan incinerator sampah untuk mengatasi penumpukan sampah di TPA Ngipik,” terang dr. Alif. Selain itu, DLH Gresik akan menambah dua alat pemantau kualitas udara dan satu alat pemantau kualitas air di Sungai Bengawan Solo, sehingga Gresik akan memiliki 11 alat pemantau udara dan 2 alat pemantau kualitas air di lokasi-lokasi yang berbeda.

Terkait dengan masalah banjir akibat luapan Kali Lamong, Pemkab Gresik berencana membangun kolam retensi, yang tidak hanya berfungsi untuk menampung air saat banjir, tetapi juga untuk menyediakan pasokan air bersih saat musim kemarau.

Sebuah studi dari ITS memprediksi bahwa pada tahun 2025, kebutuhan air bersih di Kabupaten Gresik akan mencapai 3.000 liter per detik. Namun, beberapa industri besar, seperti smelter Freeport, sudah mengonsumsi sekitar 600 liter per detik. Untuk itu, Forkot Gresik menegaskan perlunya kebijakan yang dapat mengatur pemanfaatan air bersih dengan lebih bijaksana.

Forkot Gresik juga mengajak masyarakat untuk turut berperan dalam menjaga ekosistem lingkungan melalui gerakan berbasis komunitas. "Untuk menghadapi perubahan iklim, kita semua harus beraksi bersama-sama," ungkap Haris.

Diskusi yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia (World Water Day) ini juga dihadiri oleh Direktur PDAM Gresik, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik, serta puluhan akademisi dari berbagai universitas di Kabupaten Gresik. (yud/han)

Editor : Hany Akasah
#Wakil Bupati #lingkungan #gresik #Forkot #hari air sedunia #krisis air bersih #ASLUCHUL ALIF #krisis iklim