RADAR GRESIK-Usai gempa Bawean yang terjadi di Gresik, bukan hanya fasilitas umum dan rumah warga yang rusak luluh lantak.Tapi, berbagai benda Sejarah yang dipercaya bekas era Dinasti Ming juga ada yang pecah.
Salah satu warga Aminah mengaku, memiliki beberapa guci koleksi era Dinasti Ming yang disimpan di lemari rumahnya. “Beberapa guci ada yang pecah, ada juga yang utuh,” kata Aminah.
Dipaparkannya, beberapa tahun lalu, keluarganya menemukan dua guci berukir gambar ular naga dari dasar laut atau perairan Pulau Bawean oleh nelayan, dengan menggunakan cantrang beberapa waktu lalu bisa menjadi bukti peninggalan sejarah. Hal tersebut juga sebagai indikasi bahwa perairan laut bawean kaya akan ‘harta karun’ di bawah laut.
Adji Sudarmo Kakaikan selaku penulis Majalah Scuba Diver Australasia-Ocean Planet Indonesia (SDDAI) mengatakan, benar dua barang (guci) itu bernilai sejarah, maka bisa menjadi daya tarik untuk wisatawan sejarah. Sehingga bisa menumbuhkan minat pariwasata, khususnya wisata bahari.
”Salah satunya, tembikar atau gerabah (Koin, Guci) era Dinasti Ming atau Dinasti Qin,” katanya.
Adji pun menduga masih ada keterkaitan penyebaran sejarah Islam yang di bawah oleh Sunan Gresik. “Dulu ceritanya Sunan Gresik dari Campa dataran Cina. Sekitar 1.300 Masehi,” ujarnya.
Dia berharap dengan adanya beberapa peninggalan sejarah ini bisa mengangkat Bawean sebagai Destinasi Wisata Bawean Unggulan.
Baca Juga: BMKG Sebut Gempa Bawean Adalah Bencana Besar di Laut Utara Jawa
“Biar saja guci itu berada di tempatnya (bawah laut) untuk manjadi spot penyelaman/diving-pariwisata minat khusus,” tutur Adji yang juga sebagai Underwater Photography atau photo bawah laut.
Selanjutnya ditambahkan bahwa pihak kepolisian atau instansi terkait bisa memberikan batasan wilayah untuk nelayan melaut. Artinya, nelayan tidak boleh melintas lokasi tempat destinasi sejarah yang memang ditemukan ada barang bersejarah.
”Ke depan kalau dikelola dengan baik bersama instansi, masyarakat yang terlibat, maka akan juga menumbuhkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (han)
Editor : Hany Akasah