RADAR GRESIK – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik mengingatkan kembali seluruh lapisan masyarakat mengenai pentingnya edukasi mendalam serta upaya pencegahan masif terhadap penyebaran HIV/AIDS.
Peringatan ini dinilai sangat krusial, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki perilaku berisiko tinggi. Langkah proaktif dari otoritas kesehatan daerah ini mencuat setelah kemunculan sejumlah grup di platform media sosial Facebook bertema gay yang secara terang-terangan mengatasnamakan wilayah Gresik menjadi perhatian serius publik.
Keberadaan grup virtual seperti Gay Gresik dan Gay Bebas Gresik yang kedapatan memiliki basis ribuan anggota tersebut seketika menuai polemik serta keresahan luas di tengah masyarakat Kabupaten Gresik yang lekat dengan julukan Kota Santri.
Baca Juga: Gulung Jaringan Lintas Kabupaten, Satresnarkoba Polres Gresik Bekuk Lima Pengedar Pil Koplo dan Sabu
Selain memuat berbagai unggahan vulgar bernuansa seksual, fenomena sosial di dunia maya ini memicu kekhawatiran kolektif terkait dampak buruk bagi kesehatan masyarakat, khususnya potensi lonjakan angka penularan virus HIV di daerah setempat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Puspitasari Wardani, mengungkapkan data riil mengenai peta temuan kasus HIV sepanjang tahun berjalan. Berdasarkan basis data pemantauan medis di lapangan, penemuan pasien baru yang terkonfirmasi positif mengidap HIV sampai dengan akhir April 2026 tercatat sudah menembus angka sebanyak 92 orang.
Lebih lanjut, dr. Puspitasari Wardani membeberkan fakta bahwa dari total puluhan temuan kasus baru tersebut, kelompok Laki-laki Seks Laki-laki (LSL) secara statistik menempati posisi sebagai faktor risiko terbesar dibandingkan dengan klaster kelompok perilaku lainnya. Merujuk pada data resmi Dinas Kesehatan, terdapat sedikitnya 27 persen atau setara dengan 24 pasien HIV baru yang teridentifikasi kuat berasal dari kelompok LSL tersebut.
Baca Juga: Jamin Hak Pendidikan, Pemkab Gresik Segera Pulangkan Enam Anak Pekerja Migran dari Malaysia
“Kalau dilihat dari faktor risiko, yang paling banyak berasal dari LSL, lalu disusul oleh kelompok pasangan risiko tinggi, pasangan dari pasien yang sudah positif HIV, serta klaster pelanggan pekerja seksual,” ujar dr. Puspitasari Wardani saat merinci peta kerentanan penularan virus, Jumat (12/6/2026).
Sementara itu, jika ditinjau dari sisi demografi usia, mayoritas pasien HIV baru yang ditemukan di Kabupaten Gresik didominasi oleh warga yang berada pada rentang usia produktif, yaitu antara 25 hingga 49 tahun. Kondisi ini menuntut penanganan yang lebih spesifik karena potensi penularan sekunder ke lingkungan domestik tetap terbuka lebar.
"Kalau untuk kemungkinan mereka sudah memiliki istri atau anak ya bisa saja terjadi di lapangan. Karena kelompok LSL itu perilakunya dinamis dan belum tentu hanya menyukai sesama jenis saja,” imbuhnya.
Baca Juga: Sempat Tertinggal, Korea Selatan Comeback Epik Tumbangkan Ceko 2-1 di Laga Grup A Piala Dunia 2026
Menyikapi fenomena berisiko ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik merumuskan sejumlah langkah protektif yang wajib dijalankan guna menekan angka infeksi baru di tengah masyarakat.
Salah satu pilar utamanya adalah dengan menggenjot kesadaran kolektif warga mengenai penerapan perilaku hidup sehat serta secara tegas menghindari segala bentuk aktivitas seksual maupun non-seksual yang berisiko menularkan virus. Menurut dr. Puspitasari Wardani, pencegahan sejak dini merupakan instrumen paling efektif untuk memutus mata rantai penyebaran virus di tengah populasi.
Guna meminimalisir risiko, pihak Dinkes mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan hubungan seksual berisiko, berkomitmen untuk saling setia pada satu pasangan sah, menggunakan alat pelindung medis yang aman saat diperlukan, menghindari penyalahgunaan narkoba suntik secara bergantian, serta memastikan penggunaan seluruh peralatan medis di fasilitas kesehatan dalam kondisi steril.
Baca Juga: Merawat Toleransi dari Rumah Ibadah, Cara Polres Gresik Sambut HUT Bhayangkara ke-80
Selain itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik juga meminta dengan sangat kepada masyarakat yang merasa pernah melakukan aktivitas atau memiliki riwayat perilaku berisiko tinggi tertular HIV untuk segera memberanikan diri memeriksakan kesehatan.
Layanan pemeriksaan dan konseling HIV saat ini sudah tersedia secara rahasia dan gratis di seluruh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) maupun rumah sakit daerah di Kabupaten Gresik.
"Kampanye edukasi yang kami jalankan ke depan harus mencakup informasi yang inklusif tentang pentingnya tidak melakukan tindakan stigma maupun diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV). Edukasi juga harus menekankan pentingnya pengobatan Antiretroviral (ARV) secara dini serta kepatuhan ketat dalam mengonsumsi obat guna menekan viral load dalam darah demi mempertahankan kualitas kesehatan penderita HIV," pungkas dr. Puspitasari Wardani. (jar/han)
Editor : Hany Akasah