Saat ini, keterlibatan perempuan tidak hanya mendominasi secara kuantitas sebagai tenaga kesehatan (nakes), tetapi juga memegang peranan strategis dalam pengambilan kebijakan di lingkungan Dinas Kesehatan maupun Puskesmas di seluruh wilayah Gresik.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Mukhibatul Khusnah, M.M., M.Kes., mengungkapkan bahwa peran perempuan di jajarannya sangat signifikan.
Baca Juga: Maksimalkan Pelayanan Puskesmas dan IGD, Gus Yani Minta Transformasi Layanan Kesehatan di Gresik
Secara rasio, jumlah nakes perempuan di jajaran Dinkes dan Puskesmas jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki. Kondisi serupa terlihat pada komposisi jabatan struktural, di mana posisi Kepala Puskesmas hingga Kepala Bidang didominasi oleh perempuan.
Hal ini menjadi suntikan semangat bagi Dinas Kesehatan untuk terus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tanpa membedakan gender.
"Peran perempuan dalam sektor kesehatan di Kabupaten Gresik sangat signifikan. Dominasi perempuan dalam jajaran nakes hingga jabatan strategis seperti kepala puskesmas menjadi semangat kami untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tanpa memandang gender," ujar dr. Mukhibatul Khusnah.
Namun, ia tidak menampik adanya tantangan besar berupa persepsi patriarki yang masih mengakar di sebagian masyarakat. Pandangan yang membatasi peran perempuan pada urusan domestik kerap menjadi hambatan bagi nakes perempuan untuk tampil di ranah publik.
Menanggapi hal tersebut, Dinkes Gresik berkomitmen memberikan dukungan penuh dengan mengedepankan kemampuan individu nakes tanpa memandang gender sebagai pertimbangan utama dalam kebijakan internal.
Dalam upaya menekan angka stunting, Dinkes Gresik juga gencar melakukan edukasi kepada para ibu dan kader melalui berbagai program di tingkat desa. Langkah konkret yang diambil meliputi pelaksanaan kelas ibu hamil dan balita di setiap puskesmas desa guna memberikan pemahaman tentang kehamilan serta praktik pemberian makan yang baik.
Selain itu, edukasi mengenai Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal terus dilakukan, sembari bersinergi dengan PKK untuk menggerakkan kunjungan Posyandu secara rutin guna memantau tumbuh kembang anak.
Untuk menjamin akses layanan bagi ibu hamil, Dinas Kesehatan telah mengaktifkan layanan kesehatan di setiap desa melalui Ponkesdes dan Pustu. Upaya mendekatkan layanan ini juga diperkuat dengan penambahan jumlah Puskesmas Rawat Inap, yang semula hanya 16 unit kini berkembang menjadi 29 unit.
Di sisi lain, para kader juga dibekali dengan pelatihan 25 kompetensi, termasuk keterampilan melakukan kunjungan rumah guna memastikan intervensi kesehatan berjalan maksimal.
Selain fokus pada kesehatan anak dan ibu hamil, perlindungan terhadap kesehatan reproduksi perempuan juga menjadi prioritas. Dinkes Gresik memastikan akses deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks melalui layanan IVA Test dan Sadanis yang tersedia secara gratis di seluruh Puskesmas. Bahkan, layanan Mobile IVA diterjunkan secara rutin untuk menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses transportasi ke fasilitas kesehatan.
Menutup keterangannya, dr. Mukhibatul Khusnah berpesan agar para perempuan di Gresik, khususnya nakes, terus meningkatkan kompetensi dan menjaga empati dalam melayani pasien. ia juga menekankan bahwa Kepekaan perempuan merupakan modal utama dalam pendekatan keluarga dan komunitas agar pelayanan kesehatan menjadi lebih manusiawi.
"Untuk seluruh perempuan, jangan mengabaikan kesehatan diri sendiri serta rutin lakukanlah deteksi dini demi mewujudkan kemandirian kesehatan sesuai dengan semangat perjuangan R.A. Kartini." pungkas nya. (nov/jar/han)
Editor : Hany Akasah