RADAR GRESIK - Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, semakin aktif melakukan kunjungan ke berbagai wilayah di Pulau Madura sepanjang tahun 2026. Agenda kunjungannya menjangkau empat kabupaten sekaligus, meliputi Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.
Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada agenda reses dan penyerapan aspirasi formal, tetapi juga dijadikan wadah untuk berinteraksi langsung dengan berbagai elemen masyarakat.
Ning Lia tercatat menggelar dialog bersama pemangku kebijakan, pemuda, aktivis, jurnalis, pengusaha, hingga para kiai dan ulama. Pola komunikasi ini menunjukkan komitmennya dalam menjaga hubungan erat dengan masyarakat Jawa Timur yang diwakilinya di tingkat nasional.
Baca Juga: Lia Istifhama: Memaknai "Jalan Pulang NU ke Jamaah" untuk Keberlanjutan Bangsa
Sepanjang tahun 2026, agenda kunjungan Ning Lia ke Madura terbilang intensif dan berlangsung hampir setiap bulan. Selain menghadiri agenda resmi, ia aktif terlibat dalam beragam kegiatan sosial, intelektual, dan kemasyarakatan.
Salah satu agenda penting berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026. Sekitar pukul 10.26 WIB, Ning Lia menghadiri acara bedah buku berjudul Diaspora Madura: Resiliensi, Strategi, dan Transformasi Pasca-konflik Etnik karya Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si. Forum intelektual yang digelar di ruang VIP Rumah Makan Bebek Sinjay Baru tersebut turut dihadiri oleh jajaran kiai, pejabat, dan pengusaha.
Pembahasan dalam forum bedah buku tersebut tidak hanya membedah perjalanan panjang diaspora Madura, tetapi juga mengupas proses masyarakat dalam membangun kembali kehidupan sosial pascakonflik. Buku tersebut mengusung tiga gagasan utama, yaitu resiliensi, strategi, dan transformasi.
Baca Juga: Muktamirin Berdatangan ke Jombang, Senator Ning Lia Sebut Muktamar NU Gerakkan Ekonomi Kerakyatan
Resiliensi digambarkan lewat kemampuan masyarakat diaspora Madura untuk bangkit dari pengalaman traumatis dan beradaptasi secara konstruktif di lingkungan sosial yang baru. Aspek strategi terlihat dari langkah memperluas orientasi pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, penolakan stereotip etnik, serta pengembangan organisasi yang dapat menciptakan ruang publik inklusif, moderat, dan toleran.
Sementara transformasi ditandai oleh hadirnya peran-peran baru diaspora Madura yang kini tidak hanya aktif berdagang dan menjaga tradisi, tetapi juga merambah ranah politik formal baik di tingkat legislatif maupun eksekutif.
Ning Lia menilai salah satu kekuatan utama buku tersebut terletak pada keberanian penulis dalam memandang persoalan pascakonflik melalui perspektif jangka panjang.
Baca Juga: Senator Lia Istifhama Dorong UNITABAH Lamongan Jadi Penguat Pendidikan dan Peradaban Pesisir
“Konflik selalu menarik perhatian ketika darah masih mengalir. Setelah kekerasan berhenti dan masyarakat mulai menata kembali kehidupannya, perhatian pun perlahan menghilang. Seolah-olah sejarah berakhir ketika senjata diletakkan,” kata Ning Lia.
Menurutnya, fase pascakonflik justru memuat proses yang sangat vital. Masyarakat dituntut untuk membangun kembali kepercayaan, merekatkan hubungan sosial, serta menciptakan ruang kehidupan bersama yang lebih damai.
Dalam analisisnya, Ning Lia mengaitkan gagasan buku tersebut dengan konsep peacebuilding yang dikembangkan oleh John Paul Lederach dalam bukunya Building Peace (1997).
Baca Juga: Jadi Relawan Fogging di Tambakberas Jombang, Ning Lia: Profesi Ini Bukan Pekerjaan Mudah
Konsep ini menekankan bahwa perdamaian sejati tidak cukup hanya dibangun melalui kesepakatan politik, tetapi juga membutuhkan pemulihan hubungan sosial dan tumbuhnya kepercayaan masyarakat. Lembaga pesantren, organisasi kemasyarakatan, serta forum lintas etnik dinilai menjadi sarana efektif dalam merealisasikan pemulihan kepercayaan tersebut.
Selain itu, Ning Lia melihat adanya keterkaitan pemikiran dengan karya Ashutosh Varshney dalam Ethnic Conflict and Civic Life (2002), khususnya mengenai pentingnya jejaring sipil lintas etnik dalam mencegah timbulnya konflik. Pengalaman diaspora Madura membuktikan bahwa perdamaian tidak cukup dirawat dengan slogan toleransi semata, melainkan butuh hubungan sosial yang terjalin secara berkelanjutan.
Kendati memberikan apresiasi tinggi, Ning Lia menyampaikan bahwa dirinya masih perlu mendalami keseluruhan isi buku sebelum memberikan ulasan lebih jauh.
Baca Juga: Jadi Relawan Fogging di Tambakberas Jombang, Ning Lia: Profesi Ini Bukan Pekerjaan Mudah
“Melihat optimisme buku ini, saya kira saya perlu membaca secara detail terlebih dahulu sebelum banyak berkomentar,” ujarnya.
Kehadiran Ning Lia dalam forum kebudayaan dan intelektual ini makin mempertegas pola komunikasinya selama berada di Madura. Sebagai wakil daerah, ia tidak hanya berpangku tangan pada forum resmi parlemen, tetapi secara proaktif menyerap aspirasi melalui berbagai perjumpaan langsung di lapangan.
Melalui komunikasi langsung dengan pemuda, aktivis, jurnalis, pejabat, pengusaha, serta kiai dan ulama, berbagai persoalan di daerah dapat dipetakan secara lebih akurat untuk kemudian dibawakan ke tingkat nasional.
Baca Juga: Jadi Relawan Fogging di Tambakberas Jombang, Ning Lia: Profesi Ini Bukan Pekerjaan Mudah
Aktivitas intensif di Madura sepanjang 2026 ini membuktikan bahwa fungsi representasi seorang senator terus berjalan aktif dan melekat di tengah-tengah masyarakat daerah pemilihannya. (han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik