RADAR GRESIK - Dalam upaya mendorong kemandirian ekonomi perempuan dan menciptakan ekosistem wirausaha mikro yang berdaya saing, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menjalin kolaborasi strategis dengan Pimpinan Pusat Muslimat NU.
Kolaborasi ini bertujuan melahirkan Women Entrepreneurship berbasis zakat produktif dan pembiayaan mikro yang menyasar kader-kader perempuan Muslimat NU di berbagai daerah melalui Program Baznas Microfinance Majelis Taklim (BMMT). Selain Muslimat, Baznas juga kolaborasi dengan 'Aisyiyah dan Fatayat NU.
Program ini bukan sekadar inisiasi, melainkan ikhtiar besar membangun gerakan perempuan pelaku usaha mikro yang memiliki dampak sosial dan ekonomi luas. Dengan menggandeng kader Muslimat NU sebagai garda terdepan, Baznas RI mendorong terbentuknya komunitas perempuan pelaku usaha yang produktif, mandiri, dan inspiratif.
"Kami ingin menciptakan perubahan dahsyat melalui pemberdayaan kader Muslimat NU. Dengan pembiayaan mikro zakat produktif, kami percaya perempuan bisa menjadi agen perubahan di lingkungannya," ujar Noor Aziz, Kepala Divisi Bank Zakat Mikro BAZNAS RI.
Baznas RI telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2 miliar yang akan disalurkan ke 20 PW Muslimat NU dimana satu titik bisa 50 majelis takmil di seluruh Indonesia. Dana ini akan digunakan untuk mendukung pembiayaan usaha mikro perempuan berbasis komunitas.
Namun, alokasi operasional dan stimulus distribusi dana masih dalam tahap pembahasan antara Baznas RI dan PP Muslimat NU. Terdapat kesepakatan awal yang belum sepenuhnya terealisasi, khususnya terkait mekanisme dukungan operasional dan pemisahan permohonan program skala besar seperti pengembangan unit usaha kelompok baru.
"Program ini tidak hanya memberikan akses permodalan, tapi juga memperkuat kapasitas usaha melalui pelatihan dan pendampingan berbasis komunitas kader," tambah Noor Aziz.
Program Women Entrepreneurship Muslimat NU merupakan model pemberdayaan berbasis zakat yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui skema multifinance mikro syariah, perempuan dari kalangan akar rumput khususnya kader Muslimat didorong untuk mengembangkan usaha produktif seperti kuliner, kerajinan, warung sembako, hingga usaha jasa berbasis kebutuhan lokal.
"Kami ingin Muslimat NU tak hanya menjadi pendamping umat secara spiritual dan sosial, tapi juga aktor penting dalam kebangkitan ekonomi berbasis zakat," terang salah satu pengurus PP Muslimat NU.
Dengan strategi sebaran berbasis wilayah dan target kader, program ini diproyeksikan bisa menjangkau ratusan pelaku usaha mikro perempuan dan menjadi model best practice nasional.
Saat ini, tantangan utama adalah mempercepat kesepakatan operasional dan skema distribusi di lapangan. Baznas membuka opsi untuk permohonan anggaran terpisah, terutama untuk pengembangan skala kelompok baru dengan dukungan teknis dan manajerial dari PP Muslimat NU.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, turut memberikan apresiasi atas kolaborasi antara Baznas RI dan PP Muslimat NU dalam mengembangkan program Women Entrepreneurship berbasis zakat produktif. Menurutnya, sinergi ini adalah langkah konkret dalam mendorong partisipasi aktif perempuan dalam pembangunan ekonomi nasional yang berkeadilan.
Senator yang juga dikenal aktif dalam advokasi pemberdayaan perempuan ini menilai pendekatan ekonomi mikro berbasis komunitas kader sangat relevan dalam menjawab tantangan ketimpangan ekonomi. Apalagi program ini menyentuh langsung pada akar persoalan akses permodalan, pelatihan, dan keberlanjutan usaha.
“Melalui program seperti ini, kader Muslimat NU tidak hanya didorong untuk berdaya secara ekonomi, tetapi juga mengajarkan finansial dan menjadi pionir dalam menciptakan ketahanan keluarga dan sosial berbasis komunitas. Kami berharap sinergi antara pusat dan daerah, agar program berjalan optimal dan tidak hanya berhenti pada pencairan dana, tetapi juga pada pendampingan dan monitoring berkala,” jelasnya. (han)
Editor : Hany Akasah