Informasi dilapangan menyebutkan, Polres Gresik baru menerima surat permohonan izin keramaian pada tanggal (10/09) atau H-3 menjelang acara. Padahal seharusnya proses perizinan bisa dilakukan jauh-jauh hari.
Kepala Satuan Intelejen dan Keamanan (Kasat Intelkam) Polres Gresik, AKP Nurdianto Eko Wartono menyebut pihak panitia terkesan tidak serius dalam menggelar acara. Hal itu terlihat dari permohonan izin keramaian yang baru diserahkan pada H-1. "Kami kaget saat menerima surat permohonan izin keramaian sedangkan acaranya akan digelar besok," ujarnya.
Perwira jebolan akpol itu menyebut, selain panitia yang lalai, banyak persyaratan yang tidak dilengkapi oleh panitia dalam mengurus izin. Seperti surat pemberitahuan dari Kecamatan, Polsek, Koramil dan tim Satgas Covid-19. "Penyelenggaraan kegiatan yang mendatangkan artis nasional proses perizinan harus sampai ke Polda. Tentu saja kami ikuti aturan yang ada karena hal ini berkaitan dengan keamanan dan ketertiban," imbuhnya.
Eko menegaskan, pihaknya menepis tudingan jika Polres Gresik dianggap mempersulit penyelenggaraan acara. Justru Polres Gresik berusaha memfasilitasi kegiatan yang digelar oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) tersebut. Hal ini dibuktikan dengan sikap Satintelkam yang proaktif mendatangi kampus sebagai sekretariat panitia. "Kami memberikan rekomendasi acaranya ditunda dulu agar Polres dan Forkopimcam bisa merapatkan hal ini. Baik perihal pola pengamanan dan lain sebagainya. Namun panitia malah memutuskan untuk membatalkan acara, ya kami tetap menghormati," tandasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik UMG), Eko Budhi Leksono iku angkat bicara perihal batalnya konser yang digelar oleh mahasiswanya. Menurut Eko batalnya konser merupakan kelalaian dari panitia yang sejak awal terkesan meremehkan proses perizinan.
"Sebenarnya saya tidak mengikuti kegiatan itu secara detail namun dari laporan staf yang ikut membantu acara tersebut, panitia baru izin ke kepolisian pada H-3 acara. Padahal sebelumnya saya tanya soal proses perizinan dijawab beres oleh panitia," ujarnya.
Eko berharap, kegiatan ini kedepan bisa menjadi pelajaran bagi para mahasiswa lain yang ingin membuat acara besar. Meskipun pihak kampus tidak terlibat, namun UMG akan mem-fasilitasi mediasi antara pihak panitia dan masyarakat yang sudah membeli tiket atau pihak yang dirugikan.
"Biar ini menjadi pembelajaran bagi teman-teman mahasiswa bahwa koordinasi dan perizinan sangat penting dalam penyelenggaraan even skala besar," pungkasnya.
Di sisi yang lain, pembatalan konser musik Denny Caknan, membuat puluhan pedagang dirugikan. Mereka menuding pihak panitia tak profesional karena pemberitahuan pembatalan konser secara mendadak. Mereka bahkan sudah terlanjur mendirikan lapak dagangan di lokasi acara.
“Saat mau mendirikan lapak ternyata ada pengumuman konser dibatalkan. Padahal saya sudah nginap di hari-hari sebelumnya. Kami minta ganti rugi dan kelanjutan dari pihak panitia,” ucap salah satu pedagang lapak Savira.
Pedagang lainnya Dewi asal Gresik mengaku hal demikian. Pihaknya baru tau informasi dibatalkan dini hari tadi sekitar pukul 01.00 WIB, Selasa (13/9). Mulanya para pedagang mendapatkan informasi pembatalan dari para pelaku UMKM kuliner yang sudah terdaftar dalam acara tersebut.
“Kami tanya ke pihak penyelenggara, tidak ada respon. Kami pun sempat ke Polres Gresik untuk menanyakan kepastian pembatalan itu. Ternyata sekitar pukul 09.30 WIB ada pengumuman dari pihak panitia di grup WhatsApp,” tuturnya.
Sebenarnya, para pedagang tidak keberatan dengan biaya yang telah dibayar. Namun modal yang sudah disiapkan dari beberapa hari itu, harus juga menjadi pertimbangan oleh pihak panitia. “Kami membayar Rp 250 ribu per stand. Itu untuk gelombang pertama. Karena masih ada tempat untuk tambahan stand. Panitia akhirnya membuka gelombang ke-2. Dengan harga Rp 400 ribu. Total stand di lokasi ada 30 stand yang semuanya sudah membayar ke panitia,” paparnya.
Seperti diketahui, konser musik dalam acara Closing Party Festival Mahasiswa (Fesma) dilaksanakan oleh BEM Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Konser rencananya akan mendatangkan Denny Caknan, Happy Ending dan Cazlist. Dengan harga tiket mulai harga Rp 70 ribu sampai 150 ribu.
Sebelum dibatalkan, dalam pamflet poster konser tersebut. Tiket harga Rp 70 ribu sudah sold out alias habis, dan open slot bazar atau pendaftaran untuk bazar juga ditutup alias sudah terdaftar.
Dalam rilis yang diterima, panitia festival mahasiswa memberikan press release. Bahwa acara festival tersebut dibatalkan. Berdampak besar kepada pelaksanaan closing party Festival Mahasiswa 2022.
“Kami siap mengembalikan uang tiket yang telah dibayar maupun mengganti kerugian pada kegiatan bazar,” bunyi surat press release yang ditandatangani oleh Direktur Utama Festival Mahasiswa Yusfifa Nanda, dan Presiden BEM Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) Moh Adi Setiabudi.
Diperkirakan kerugian tiket hingga bazaar yang dikembalikan mencapai miliaran rupiah. Hingga berita ini ditulis pihak penyelenggara Konser Denny Caknan BEM UMG masih melakukan rapat tertutup di Terkait ganti rugi kepada para pedagang dan pembeli tiket. (fir/han) Editor : Hany Akasah