Menyusuri Gang Tua Kampung Kemasan, Membaca Lembar Ingatan Kebudayaan Gresik

Fajar Yuliyanto • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 11:38 WIB
DIWARISI : Lembar-lembar kain menggantung di sepanjang jalan Kampung Kemasan, Gresik yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Foto : Fajar/Radar Gresik)
DIWARISI : Lembar-lembar kain menggantung di sepanjang jalan Kampung Kemasan, Gresik yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Foto : Fajar/Radar Gresik)

RADAR GRESIK — Lembar-lembar kain membentang dan menggantung anggun di sepanjang lorong Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Gresik.

Kain-kain tersebut bukan sebatas ornamen penjelita jalan, melainkan media bertutur yang memuat kepingan kisah warga tentang memori kampung, resep masakan, kehangatan keluarga, hingga tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Di balik megahnya arsitektur bangunan tua berusia ratusan tahun, bentangan kain itu bertransformasi menjadi ruang arsip terbuka. Para pengunjung diajak menyusuri jalanan kampung, menyimak untaian cerita, memasuki sudut bangunan bersejarah yang diaktivasi sebagai ruang pamer, hingga berbaur langsung dengan denyut ekonomi warga lokal.

Baca Juga: Merawat Ingatan Warga, Festival Menjadi Gresik Jadikan Kampung Kemasan Ruang Arsip Sejarah Kota

Pengalaman naratif ini merupakan sajian utama dalam Festival Menjadi Gresik yang diinisiasi oleh Yayasan Gang Sebelah sepanjang 15–30 Agustus 2026.

Festival ini menawarkan cara pandang baru dalam menelusuri akar sejarah Kota Santri. Jika sejarah kerap kali diukur lewat literatur formal, struktur bangunan kuno, maupun ketokohan figur politik, Festival Menjadi Gresik justru mengetengahkan pengalaman dan ingatan kolektif masyarakat biasa.

“Sejarah kota sering kali diceritakan melalui narasi besar, sementara pengetahuan yang hidup dalam keseharian warga justru luput dicatat. Padahal, dari dapur, pakaian, makanan, kampung, hingga cerita yang diwariskan antargenerasi, kita bisa melihat bagaimana masyarakat membentuk identitas kotanya,” terang Direktur Festival Menjadi Gresik, Hidayatun Nikmah.

Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, Pemkab Gresik Pacu Ekonomi Inklusif via Nawa Karsa Gema Karya

Unsur-unsur keseharian warga dijadikan objek eksplorasi utama. Sajian khas daerah seperti bandeng keropok, jubung, dan bubur roomo dimaknai tidak sekadar sebagai pemuas dahaga kuliner, melainkan entitas sejarah keluarga dan potret sosial-kultural masyarakat.

Elemen sandang seperti sarung, kebaya, hingga pembuatan songkok turut dibedah makna historisnya.

Direktur Program Menjadi Gresik, Irfan Akbar, menegaskan bahwa helatan ini tidak berupaya mematenkan satu definisi tunggal mengenai wajah Gresik.

Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, Pemkab Gresik Pacu Ekonomi Inklusif via Nawa Karsa Gema Karya

“Kami ingin membuka ruang agar warga dapat menceritakan Gresik dari pengalaman mereka sendiri. Festival ini menjadi cara untuk mempertemukan kembali ingatan yang tersebar itu, mendokumentasikannya, lalu membawanya kembali kepada publik,” tegas Irfan.

Selain pameran dan dokumentasi gastronomi, festival ini turut mengasimilasikan hasil riset Besali Studi Kultural. Sebanyak delapan kelompok peneliti dari berbagai komunitas dan lembaga pendidikan menyajikan penelusuran mendalam terkait pakaian adat, dinamika budaya Tionghoa dan Arab, arsitektur Kampung Kemasan, riwayat Pasar Pahing, industri kerajinan songkok, gulat okol, aksara lokal Gresik, hingga tradisi laban di kawasan Pangkah.

Baca Juga: Kelabuhi Petugas Pakai Bungkus Permen, Dua Pengedar Sabu Asal Cerme Diringkus Polres Gresik

Rangkaian acara dikemas komprehensif melalui pemutaran film dokumenter, peragaan busana, lokakarya, walking tour, hingga presentasi riset ilmiah. Pendekatan ini memposisikan Kampung Kemasan tidak sekadar sebagai panggung acara, melainkan sebagai arsip hidup yang menjembatani masa lalu dengan dinamika sosial hari ini.

“Merawat kebudayaan bukan hanya menyelamatkan sesuatu dari masa lalu. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan agar tetap bisa digunakan, dibicarakan, dan dimaknai oleh generasi hari ini,” tutupnya. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik
gresik Pekelingan kain kemasan ornamen