RADAR GRESIK – Dentuman musik metal yang lekat dengan kesan keras dan cadas menemukan wujud energi baru di Kabupaten Gresik. Sekitar 25 pecinta musik cadas dari kawasan Gresik, Kebomas, Manyar, hingga Cerme berkumpul bersama memperdalam ilmu agama dalam Majelis Metal Wal Afiat An-Nuriyah di Desa Peganden, Kecamatan Manyar, Sabtu (22/8/2026).
Majelis ini menjadi ruang terbuka bagi para pemuda musik cadas yang ingin membenahi diri, memperdalam ajaran Islam, serta menapaki jalan hijrah tanpa harus meninggalkan identitas kreativitas mereka.
Pengasuh majelis yang juga cicit almarhum KH Muchtar Djamil, Muhammad Mustaqim (Gus Iim), menjelaskan bahwa nama Metal Wal Afiat menyimbolkan pribadi yang tetap selamat, sehat, dan berenergi positif meski hidup di tengah tempaan zaman yang keras.
Baca Juga: Modus Pengobatan, Dukun di Ujungpangkah Ditangkap Polisi Terkait Dugaan Kekerasan Seksual
"Ilmu hendaknya dijaga dengan cara dipelajari dan diamalkan. Penyesalan di dunia berawal dari salah menaruh kebaikan pada orang yang tidak tahu berterima kasih. Sedangkan penyesalan paling berat saat maut menjemput adalah menjadi orang pandai yang tidak mengamalkan ilmunya," ujar Gus Iim, Sabtu (22/8/2026).
Gus Iim menekankan bahwa proses hijrah bukanlah sekadar perubahan penampilan fisik semata, melainkan transformasi pola pikir, perilaku, serta komitmen meninggalkan perbuatan maksiat dan hal tak berguna.
Tak hanya fokus pada kajian spiritual, majelis ini juga memupuk jiwa kepedulian sosial lintas daerah. Di akhir pengajian, para jamaah menggelar doa bersama untuk keselamatan bangsa serta para korban musibah gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Baca Juga: Hadiri Sertijab Kabapas Surabaya, Karutan Gresik Tegaskan Komitmen Sinergi Reintegrasi Warga Binaan
"Kami dan para jamaah Metal Gresik turut mengirimkan doa untuk saudara-saudara korban gempa di NTT dan warga di Pulau Kalimantan atas musibah karhutla. Doa juga kami panjatkan untuk Republik Indonesia agar senantiasa terhindar dari marabahaya," tutur Gus Iim.
Salah seorang jamaah asal Kecamatan Gresik, Pandu, mengaku bersyukur mendapatkan wadah keagamaan yang merangkul dan tanpa stigma.
Melalui Majelis Metal Wal Afiat An-Nuriyah, komunitas musik cadas di Gresik membuktikan bahwa ekspresi musik dan ketakwaan agama dapat berjalan bersisian dalam membangun jalan kebaikan. (yud/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik